Israel Adesanya: Juara UFC, Korban Perundungan yang Kini Punya McLaren
TEMPO.CO | 28/09/2020 18:28
Israel Adesanya (Instagram / @stylebender)
Israel Adesanya (Instagram / @stylebender)

TEMPO.CO, Jakarta - Israel Adesanya berhasil mempertahankan gelar juara kelas menengah UFC dengan meng-KO Paulo Costa dalam pertarungan di Pulau Yas Abu Dhabi, Sabtu malam, 26 September 2020.

Petarung berusia 31 tahun, yang belum terkalahkan dalam 20 pertandingan MMA, saat remaja adalah korban perundungan. Di sekolah menengah di Selandia Baru, Adesanya menjadi sasaran para pembuli.

Meski kini semuanya berubah, ia masih akrab dengan mantan pengganggu itu di Facebook.

Ia tadinya berlatih bela diri hanya agar bisa melawan ketika diintimidasi oleh teman-temannya. Ia pun keterusan dan memilih bela diri dan akhirnya MMA sebagai pilihan kariernya. Dari anak bertubuh kurus tak berdaya, kini ia menjadi juara UFC dan mengendarai McLaren senilai Rp9,5 miliar.

Adesanya lahir di Lagos, Nigeria, tetapi keluarganya beremigrasi ke Selandia Baru ketika dia berusia 10 tahun sehingga ia dan empat saudaranya menerima pendidikan yang lebih baik.

Mereka menetap di Rotorua, kota  di Pulau Utara dan terkenal dengan budaya Maori-nya. 

Penggemar anime Jepang ini menjadi sasaran bullying yang mengerikan di sekolah menengah. Ia kemudian berlatih karate dan lebih berani menghadapi gangguan.

"Mereka telah melihat saya sekarang," katanya kepada The AM Show. "Saya berteman dengan beberapa di antaranya di Facebook, sehingga mereka dapat melihat betapa saya bersinar."

"Di kepala saya, saya melihat para pengganggu saya. Saya masih melihat mereka lebih besar dari saya, tetapi ketika saya kembali ke Rotorua, saya seperti, 'Saya tidak takut"

Sejak kontrak dengan UFC pada 2017, kekayaan Adesanya telah meningkat. Dalam tiga pertarungan terakhirnya di UFC 248, 243 dan 236, dia  mengantongi lebih dari Rp19 miliar. Dalam pertandingan melawan Costa, ia mendapat Rp9,5 miliar.

Soal mobil, sebenarrya sejak kecil ia memimpikan Lamborghini. "Tapi ketika saya mencobanya, kaki dan kepala saya mentok," kata atlet dengan tinggi 193 cm ini.

Ia akhirnya memilih McLaren 720s Spider 2019 oranye. "Tapi yang keren tentang McLaren adalah bahwa McLaren diciptakan oleh seorang pria Kiwi, yang tidak diketahui banyak orang."

 THE SUN


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT