Sony DK Kritik Sistem Pencoretan, PBSI: Masukan yang Bagus
TEMPO.CO | 20/05/2020 19:39
Suasana latihan di Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Suasana latihan di Pelatnas PBSI di Cipayung, Jakarta Timur. ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

TEMPO.CO, Jakarta - Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) merespon positif kritikan yang diberikan mantan atlet nasional Sony Dwi Kuncoro.

Peraih medali perunggu Olimpiade 2004 Athena itu mengkritik sistem promosi dan degradasi di Pelatnas Cipayung sehingga membuat pemain sekaliber Tontowi Ahmad berstatus sebagai magang.

Sony yang pernah 13 tahun menghuni Pelatnas meminta perbaikan pada pola komunikasi ketika atlet harus didegradasi. "Kalau menurut saya itu masukan yang bagus," kata Sekjen PBSI Achmad Budiharto kepada Tempo, Rabu, 20 Mei 2020.

Namun, kata Budiharto yang perlu diketahui bahwa PBSI sudah memiliki mekanisme administrasi perihal pemanggilan dan pemulangan atlet. Ia menyebutkan persuratan bakal ditujukan kepada Pengurus Provinsi (Pengprov) PBSI asal daerah atlet bersangkutan.

"Secara mekanisme pemain itu adalah pemain Pengprov. Jadi seperti itu, tapi ini masukan yang bagus," ungkap dia menjelaskan proses promosi dan degradasi atlet di Pelatnas Cipayung.

Ia pun bakal menyampaikan masukan dari Sony kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti. "Itu program Pinpres, saya rasa Mbak Susy juga sudah baca," ujarnya.

Menurut Budiharto, biasaya setiap akhir tahun menjelang penentuan nama atlet yang bakal menghuni Pelatnas, ada komunikasi antara Kabid Pinpres dan pelatih. Ia menyebut telah terdapat sistem penilaian untuk memanggil atau memulangkan atlet.

"Kayak yang Owi (Tontowi Ahmad) alamin kemarin, kan sudah clear kan. Ada 19 turnamen diikuti, tidak bisa ngejar yang dua karena targetnya ke Olimpiade kalau tidak salah," ucap dia.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Pusat PBSI Susy Susanti memberikan penjelasan terkait status magang Tontowi Ahmad. Juara ganda campuran Olimpiade 2016 ini baru saja mengundurkan diri dari pelatnas terhitung Senin, 18 Mei 2020 dengan status terakhir sebagai pemain magang.

Setelah pasangan main Tontowi, Liliyana Natsir, memutuskan untuk mengundurkan diri awal 2018, Tontowi kemudian dipasangkan dengan pemain muda Winny Oktavina Kandow. Bersama Winny, Tontowi diberikan kesempatan untuk bersaing dengan pasangan ganda campuran lainnya untuk memperebutkan tiket ke Olimpiade Tokyo 2020.

Di tahun 2019, Tontowi/Winny mengikuti 19 turnamen dan hasil akhirnya poin rangking mereka masih terlalu jauh untuk lolos kualifikasi Olimpiade. Mereka masih belum bisa melampaui dua ganda campuran Indonesia yang peringkatnya lebih tinggi yaitu Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti dan Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja.

Waktu promosi dan degradasi awal tahun 2020, Kepala Pelatih Ganda Campuran PBSI Richard Mainaky melaporkan bahwa Winny akan dipasangkan kembali bersama partner sebelumnya yaitu Akbar Bintang Cahyono.

"Otomatis kan kalau kembali berpasangan dengan Akbar, berarti Winny tidak berpasangan lagi sama Tontowi dan situasi ini membuat Tontowi sementara itu belum ada pasangan main," kata Susy Susanti melalui keterangan tertulis, Selasa, 19 Mei 2020.

Susy Susanti menyebutkan situasi yang dihadapi Tontowi itu membuat PBSI tetap memberikan kesempatan berada di Pelatnas. "Tetapi dengan status SK (Surat Keputusan) Magang, karena belum punya pasangan tetap," kata peraih medali emas Olimpiade 1992 ini.

IRSYAN HASYIM


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT