Ini Keruwetan jika MotoGP Dimulai Lagi Saat Masih Pandemi
TEMPO.CO | 07/05/2020 09:48
Pembalap MotoGP Yamaha Jorge Lorenzo berada di posisi depan dengan dibayangi pembalap Honda, Marc Marquez di ajang MotoGP Ceko di sirkuit Brno, Rep. Ceko, 16 Agustus 2015. REUTERS
Pembalap MotoGP Yamaha Jorge Lorenzo berada di posisi depan dengan dibayangi pembalap Honda, Marc Marquez di ajang MotoGP Ceko di sirkuit Brno, Rep. Ceko, 16 Agustus 2015. REUTERS

TEMPO.CO, Jakarta - Presiden asosiasi tim balap motor internasional (IRTA) Herve Poncharal memberi gambaran bagaimana Grand Prix MotoGP digelar di saat dunia melakukan pembatasan di tengah pandemi COVID-19.

MotoGP berencana memulai kalender balapan yang tertunda karena krisis kesehatan global itu pada akhir Juli 2020, kemungkinan akan tertutup bagi para penggemarnya. Di mana dan kapan masih akan ditentukan.

"Ini situasi yang luar biasa. Tak ada yang siap untuk hal seperti ini," kata Poncharal, seperti dikutip laman resmi MotoGP, Rabu, 6 Mei 2020.

"Sekitar 10 hari lalu, jika kalian tanya saya apakah kita bisa mulai pada Juli, maka saya akan menyebut kalian bermimpi. Hari ini, ini menjadi sesuatu yang tak lagi mustahil," ujarnya.

"Kami mempelajari sejumlah skenario berbeda, bahkan satu musim kosong, yang tak bisa dibayangkan.... Hari ini, kita melihat jika isolasi telah menunjukkan hasilnya, walaupun situasinya masih jauh dari kejelasan."

Rencana untuk kembali balapan pada Juli dan Agustus 2020 terlihat memungkinkan, kata Poncharal, yang juga kepala tim Red Bull KTM Tech 2. Namun, belum ada kesepakatan yang ditandatangani.

Salah satu cara meyakinkan negara tuan rumah dan penyelenggara adalah dengan skenario balapan tanpa penonton.

"Tentunya kami tak suka itu. Para penggemar, publik, dan pendukung adalah dasar dari olah raga kami. Tapi, antara tanpa balapan sama sekali dan balapan tanpa penonton.... kalian pasti akan memilih opsi kedua," kata Poncharal.

Sebagai konsekuensinya, ofisial dan tim kompetitor harus mengurangi jumlah staf yang terlibat dalam Grand Prix.

Normalnya, di setiap balapan ada antara 2.500 hingga 3.000 orang yang terlibat. D skenario tertutup, angka itu harus ditekan menjadi sekira 1.100 hingga 1.300 orang.

Hingga urusan katering, staf juga harus mematuhi aturan jaga jarak yang ditetapkan selama pandemi COVID-19

Ada juga kemungkinan menggelar dua balapan di sirkuit yang sama mengingat pendeknya musim. "Kita mungkin tinggal di sirkuit yang sama selama dua pekan," kata dia.

Untuk mencegah penyebaran virus corona, setiap pihak  yang terlibat akan menjalani tes dan semacam isolasi di sirkuit.

"Karena, paddock akan tak terlalu padat, kami akan memberi kesempatan para pebalap, tak hanya MotoGP, untuk tidur di lokasi dengan motorhome," kata Poncharal.

"Kami juga akan mencari solusi sehingga hotel-hotel terdekat bisa dipesan untuk staf paddock. Ini akan menghindarkan kontak dengan populasi setempat dan dari kontaminasi."

Keluar masuknya staf ke sirkuit pun sebisa mungkin akan diatur mengikuti protokol kesehatan untuk menghindari penyebaran virus.

MotoGP dan tim membutuhkan uang dari sponsor, dan sponsor datang karena ada publikasi. Namun, Grand Prix musim ini kemungkinan akan terbatas untuk media massa.

"Seperti halnya jika kita mengizinkan sedikit jurnalis, siapa yang akan menentukan? Tentunya akan ada orang yang tak senang karena tak terpilih," kata Poncharal.

"Akan tetapi saya harap tim bisa menjaga press officer mereka tersedia untuk media. Bukan saya yang menentukan, tapi jika jurnalis tak ada, maka tugas kami adalah menyediakan informasi sebanyak mungkin."

Pandemi COVID-19 telah memaksa sebelas Grand Prix yang ada di kalender MotoGP tak bisa digelar sesuai jadwal, diawali seri pembuka di Qatar.

Seri terdekat yang ada di kalender dan belum terkena imbas pandemi adalah Grand Prix Republik Ceko di Sirkuit Brno pada 9 Agustus 2020.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT