Cerita Atlet dari Pebatasan Menembus Final Piala Presiden eSports
TEMPO.CO | 01/02/2020 20:21
Anggota Tim Big Akar, Eka Putra yang berasal dari Nunukan menjelaskan peluangnya di Grand Final Piala Presiden eSports 2020. TEMPO/Irsyan
Anggota Tim Big Akar, Eka Putra yang berasal dari Nunukan menjelaskan peluangnya di Grand Final Piala Presiden eSports 2020. TEMPO/Irsyan
TEMPO.CO, Jakarta - Grand Final Piala Presiden eSports 2020 bakal berlangsung pada 1-2 Februari 2020. Pada kompetisi game Free Fire terdapat 12 tim dari Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Kamboja. 
 
Ketua Panitia Penyelenggara Piala Presiden Esports 2020, Giring Ganesha, mengatakan bahwa salah satu kuda hitam yang bisa memberikan kejutan yakni Big Akar yang merupakan tim anyar asal Indonesia.
 
"Tim Akar ini cukup menarik karena  tidak pernah bertemu langsung, latihan cuma secara online saja," kata Giring di Plaza Indonesia, Kamis, 30 Januari 2020.
 
Latihan secara online, kata Giring dilakukan karena lima anggotanya berada di kota berbeda. Ia menyebutkan bahkan ada anggotanya yang berasal dari Nunukan yang merupakan daerah perbatasan Indonesia dengan Malaysia. 
"Pertama kali bertemu saat kualifikasi wilayah timur di Surabaya dan menjadi kuda hitam, bahkan masuk ke Grand Final Piala Presiden eSports 2020 mewakili Indonesia," ungkap dia.
 
Big Akar beranggotakan lima atlet yakni Eka Putra Johan, Abdurrahman, Aditiya Alfarabi, Haris Dwi Fitrah, dan Roy Kurniawan.
 
Anggota Tim Big Akar asal Nunukan yakni Eka Putra Johan. Pria berusia 25 tahun ini menyebutkan anggota tim berasal dari berbagai wilayah seperti Makassar, Lampung, dan Pontianak. 
 
"Perjuangan pasti panjang, saya sendiri itu berada di ujung Pulau Kalimantan yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia yakni Nunukan," kata Eka.
 
Di perbatasan itu, kata dia, kendala menjadi atlet eSports jauh lebih besar.
Putra pasangan Johan Anthoni dan Riftani ini mengatakan, jaringan yang lambat menjadi persoalan. "Tapi keterbatasan itu membuat saya jadi terpacu," kata Eka yang mulai mengenal game Free Fire sejak 2018.
 
Anak bungsu dari lima bersaudara ini menyebutkan sebelum rutin bermain Free Fire lebih dulu bermain Cover Fire yang secara grafis mirip tapi perbedaannya dimainkan melalui perangkat komputer.
 
Peralihannya, kata dia, karena Ganera sebagai developer game tersebut menyulap segala keunggulan dari Cover Fire sehingga bisa dimainkan melalui perangkat telepon genggam. "Orang-orang di perbatasan pasti terjangkau karena banyak event online juga," ungkap dia memberi alasan memilih bermain Free Fire.
 
Jika bermain game melalui komputer, Eka menceritakan harus mengeluarkan banyak uang karena harus bermain di warung internet atau warnet. Ia menyebutkan harga sewa per jam jika bermain di warnet yakni Rp 20 Ribu. "Kalau lama-lama habis juga," kata dia.
 
Eka juga bercerita kesulitan mencari jaringan internet membuatnya bersama rekan-rekannya harus mencari lokasi dengan sinyal yang kuat di Nunukan. Menurut dia, salah lokasi itu yakni Kantor Bupati Nunukan yang menjadi salah satu tempat untuk bermain bareng. "Kadang harus pakaian rapi kalau main ke situ," kata dia. 
 
Sejak rutin bermain game, Eka mendapat dukungan dari kedua orangtuanya. Menurut dia, waktu yang dihabiskan untuk melatih kemampuan sebagai atlet Esports menghindarkannya dari perilaku negatif seperti memakai narkoba dan minuman beralkohol. "Waktu habis main game sehingga hal negatif hilang," kata dia.
 
Sejak lolos ke babak Final Piala Presiden eSports, ia makin tertantang untuk membuktikan bahwa anak dari perbatasan bisa menorehkan prestasi di ranah internasional. Ia pun bersama empat rekannya mempersiapkan mental serta kondisi fisik untuk bisa tampil sebagai juara. "Intinya main enjoy dan lepas, jangan ada beban," kata dia.

REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT