Ongen Saknosiwi, Tentara yang Bercita-Cita Jadi Juara Tinju Dunia
TEMPO.CO | 05/09/2019 22:28
Petinju national, Ongen Saknosiwi, anggota TNI AU yang ingin menjadi juara dunia tinju. (foto: Mahkota Promotions)
Petinju national, Ongen Saknosiwi, anggota TNI AU yang ingin menjadi juara dunia tinju. (foto: Mahkota Promotions)

TEMPO.CO, Jakarta - Dari Pulau Buru, Maluku, Ongen Saknosiwi sekarang menatap panggung tinju dunia saat menghadapi petinju Thailand, Nanthawat Maolichat, dalam perebutan gelar juara kelas bulu WBC Asian Boxing Council Continental di Singapura, Sabtu 7 September 2019.

Pertarungan ini akan menjadi langkah pertama Ongen di panggung tinju dunia dalam mewujudkan ambisinya menjadi juara dunia.

Perjalanan petinju 25 tahun ini panjang dan berliku. Berkenalan dengan olahraga tinju di usia 17 tahun, Ongen mengadu nasib ke Tangerang pada tahun 2011.

“Waktu itu ditawari untuk bertinju di Tangerang oleh almarhum Om Wiem Sapulette di sasana miliknya. Saya bergabung di sana pada 2011 hingga 2014,” kata Ongen tentang alasannya meninggalkan Ambon.

Tinju dikenalnya sejak kecil. Sang ayah adalah sosok yang memperkenalkan pada olahraga adu pukul ini. Saat pergi bersekolah di Kota Ambon, Ongen pun mengawali karirnya di tinju amatir.

“Sejak SD sering nonton tinju bareng bapak. Saat saya sekolah di Ambon ada sasana tinju di samping rumah. Saya lalu bergabung di sana saat berumur 17 tahun,” ujarnya.



Ongen merintis karir amatir di Ambon. Bakatnya dilihat oleh almarhum Wiem Sapulette, yang memintanya bergabung dengan sasana miliknya. Sejak itu, nama Ongen mulai merangkak naik. Dia pun sempat bergabung dengan pelatnas tinju junior yang dipersiapkan untuk kejuaraan dunia di Armenia pada 2012.

“Seminggu sebelum berangkat, saya sakit akibat over training. Akibatnya saya dicoret. Padahal, saya sudah terpilih dengan mengalahkan juara kejurnas,” ucap Ongen mengenang masa-masa di amatir.

Setelah Wiem Sapulette meninggal dunia, Ongen mulai goyah. Tinju dianggapnya tak bisa memberi kepastian dalam hidupnya. Pada 2014, dia ikut ujian masuk tamtama TNI-AU dan diterima.

“Saya ikut tes tentara karena cari pekerjaan. Tinju kan tidak bisa menjamin kehidupan juga,” katanya.

Menjadi prajurit TNI-AU tak menghentikan karir tinju Ongen. Dia justru mendapat dukungan penuh untuk meneruskan karirnya dan bergabung dengan Dirgantara Boxing Club. Ongen pun turun pada PON 2016 di Jawa Barat.

Selepas PON 2016, Ongen memutuskan untuk pindah ke jenjang profesional dan mengawali debut saat menghadapi Imanuel Hutagalung. Kemenangan TKO di partai pertama membuka jalan untuk meraih kemenangan berikutnya. Sejauh ini, Ongen memiliki rekor bertarung 6 kali menang dengan 6 kali KO.



Bergabung dengan TNI-AU justru membuat karirnya semakin mulus. Dia mengaku mendapat dukungan penuh dari pimpinan setiap kali akan turun bertanding.

“Kalau di TNI dimudahkan. Jadi tidak ada benturan antara tinju dan karir TNI. Saya mendapat dukungan penuh dari pimpinan. Jadi saat persiapan bertanding, saya tidak harus bertugas secara penuh sehingga bisa menjalani latihan,” kata Ongen yang mengaku serius menjalani karir sebagai prajurit TNI-AU.

Ongen sudah masuk dalam radar Mahkota Promotion sejak lama. Dia sempat ambil bagian dalam gelaran Mahkota Boxing Super Series di tahun 2018 saat menang dari Ramadan Arkiang. Baru pada tahun ini, Mahkota Promotion bisa merekrutnya lewat usaha penata tanding Urgyen Rinchen Sim.

“Ongen punya potensi dan kami tidak ingin kehilangan kesempatan, jadi kami bergerak cepat. Beruntung, pendekatan kami mendapat sambutan positif dari TNI AU,” kata Sim.

Bersama Mahkota Promotion, Ongen mengaku lebih tenang menjalani karir tinjunya karena dia tak lagi pusing mencari lawan.

“Dengan berada di bawah manajemen Mahkota Promotion, saya yakin tinju bisa jadi tumpuan hidup. Saya juga tidak lagi pusing mencari lawan. Sekarang target saya ingin menjadi juara dunia. Lebih cepat lebih baik. Saya akan berlatih dengan lebih keras lagi,” kata Ongen, tentara yang bercita-cita jadi juara tinju dunia.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT