Berantas Mafia Bola, Motivasi KPSN Mendaftar Capim KPK
TEMPO.CO | 23/06/2019 00:02
Dua tersangka pengaturan skor, Priyanto alias Mbah Pri dan Dwi Riyanto alias Mbah Putih digelandang Tim Satgas Antimafia Bola menuju mobil tahanan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu, 10 April 2019. Berkas perkara kasus mafia bola telah dinyatakan lengkap
Dua tersangka pengaturan skor, Priyanto alias Mbah Pri dan Dwi Riyanto alias Mbah Putih digelandang Tim Satgas Antimafia Bola menuju mobil tahanan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu, 10 April 2019. Berkas perkara kasus mafia bola telah dinyatakan lengkap atau P-21 oleh jaksa penuntut umum (JPU). TEMPO/Hilman Fathurrahman W

TEMPO.CO, Jakarta - Salah satu akar korupsi yang sulit dicabut adalah di tubuh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan persepakbolaan nasional karena di sana ada mafia bola.

Itulah salah satu motivasi Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN) mengirim dua komisionernya maju sebagai calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Demikian dikatakan Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono di Jakarta, Sabtu (22/6/2019).

Kedua komisioner KPSN yang Selasa (18/6/2019) lalu mengambil formulir pendaftaran capim KPK adalah Karyudi Sutajah Putra dan Benny Erwin.

Menurut Suhendra, sejak KPK berdiri pada 2003 hingga kini, lembaga antirasuah ini belum pernah menyentuh dugaan korupsi di tubuh PSSI dan persepakbolaan nasional, sampai kemudian Satuan Tugas (Satgas) Anti Mafia Bola Polri turun tangan dan menetapkan 17 orang sebagai tersangka match fixing dan perusakan barang bukti terkait perkara match fixing atau skandal pengaturan skor pertandingan, termasuk mantan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI Joko Driyono, salah satunya karena diinisiasi KPSN.

Ketika Satgas Anti Mafia Sepak Bola berakhir masa tugasnya per Jumat (21/6/2019), kata Suhendra, perjuangan KPSN selanjutnya dalam membersihkan PSSI adalah dengan mengandeng KPK di samping Polri. "Kami sudah berkirim surat untuk minta audiensi dengan pimpinan KPK," cetus Suhendra.

Ia memandang ke depan akan lebih efektif bila KPSN punya kepanjangan tangan di KPK, dengan menempatkan komisionernya di kursi pimpinan KPK. "Tentu, pemberantasan mafia bola hanya salah satu dari seluruh agenda besar pemberantasan korupsi yang sudah akut bak kanker stadium 4," jelasnya.

"Untuk membersihkan halaman PSSI, harus dilakukan dengan sapu yang bersih,” lanjutnya.

Suhendra mengaku bangga dengan langkah dua komisionernya itu, dan berpesan agar tetap mengingat tata nilai dan filosofi yang sudah terbangun baik di KPSN.

Ikhwal integritas, kejujuran dan sikap tanpa kompromi, tegas Suhendra yang dijuluki "Mr No Compromise" ini, sudah dibuktikan dengan segudang prestasi yang ditorehkan KPSN, dimulai dari sebagai inisiator pemberantasan mafia bola di tubuh PSSI, yang menghasilkan 17 tersangka, hal yang belum pernah terjadi di mana pun. Banyak tawaran dan ancaman agar KPSN mengendur atau bahkan berhenti, tapi hal itu tak digubris karena sudah biasa dialami.

Yudi, yang berlatar jurnalis, dan Benny yang berlatar ekonom pun siap mengusung nilai-nilai KPSN ke dalam KPK bila kelak terpilih menjadi pimpinan lembaga antirasuah itu. “Ada nilai-nilai di KPSN yang bisa diadopsi untuk lebih mewarnai dan memperkuat kinerja KPK, yakni kejujuran, integritas, kedisiplinan, dan anti-kompromi. Kita siap mengusung nilai-nilai itu ke KPK,” ujar Yudi dalam rilis yang diterima Tempo.co

Yudi mengaku siap menapak jejak Johan Budi Saptopribowo yang pernah menjadi komisioner KPK, karena sama-sama berlatar belakang wartawan. Begitu pun Benny, yang menguasai bidang keuangan dan perbankan, juga siap menyumbangkan keahliannya di KPK.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT