Sepanjang 2022, Puluhan Paus Terdampar di Papua dan Maluku

DARILAUT.ID
2023-01-23 17:43:05
Seekor paus terdampar di wilayah pantai Indonesia. Foto KKP

Kejadian paus terdampar di Papua dan Maluku paling banyak ditemui saat sudah berada dalam kondisi pembusukan tingkat lanjut dan penguraian akhir.

Darilaut – Sepanjang 2022 ada puluhan paus terdampar di perairan Maluku dan Papua. Selain paus, terdapat mamalia laut lainnya seperti lumba-lumba dan dugong.

“Jenis paus mendominasi kejadian mamalia laut terdampar di wilayah timur, jumlahnya hampir 52 persen, yaitu sebanyak 13 kejadian jenis paus terdampar, 10 kejadian jenis dugong terdampar dan 2 kejadian lumba-lumba terdampar,” kata Kepala Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong, Santoso Budi Widiarto.

LPSPL Sorong sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), telah menangani sebanyak 25 kejadian satwa laut yang terdampar di wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, Papua, Papua Barat Daya, Papua Selatan, Papua Pegunungan serta Papua Tengah.

Menurut Santoso, dari seluruh kejadian mamalia laut terdampar di wilayah timur Indonesia, 50 persen penanganannya dilakukan secara langsung dengan turun ke lapangan, pendampingan, dan pemberian rekomendasi teknis. Sedangkan sisanya berdasar keterlibatan tidak langsung yakni melakukan pendataan dan pengumpulan bahan keterangan kejadian.

Wilayah timur Indonesia sangat akrab dengan kejadian mamalia laut terdampar. Hal ini disebabkan perairan laut di wilayah Indonesia terutama Indonesia bagian timur merupakan salah satu jalur migrasi serta habitat penting mamalia laut seperti paus, lumba-lumba dan dugong.

Penanganan kejadian keterdamparan mamalia laut adalah strategi KKP dalam menjaga kesehatan laut Indonesia dan menjadi salah satu implementasi kebijakan ekonomi biru untuk menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati laut di Indonesia.

Berdasarkan data yang dimiliki LPSPL Sorong, lokasi kejadian mamalia terdampar di wilayah timur Indonesia selama 2022 berlokasi di Provinsi Maluku Utara sebanyak 36 persen dan Papua Barat Daya sebanyak 24 persen dari total kejadian mamalia laut terdampar.

Banyaknya mamalia yang ditemukan di wilayah ini dikarenakan perairan di kedua provinsi tersebut adalah jalur migrasi bagi mamalia laut dan terdiri dari pulau-pulau membentang dari Samudera Hindia hingga Samudera Pasifik.

Santoso mengatakan mamalia laut atau paus terdampar paling banyak ditemui pada kondisi kode 4 dan 5. Kondisi tersebut sudah mengalami pembusukan tingkat lanjut dan penguraian akhir.

Banyaknya mamalia laut yang ditemukan dalam kondisi membusuk menunjukkan bahwa mamalia laut dalam kondisi sekarat atau terdampar dan sulit dijangkau manusia sehingga membutuhkan waktu untuk ditangani.

KKP telah menetapkan Rencana Aksi Penanganan Mamalia Laut Terdampar melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 79 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Mamalia Laut Periode 2018-2022 serta Pedoman Penanganan Mamalia Laut Terdampar.

Dalam kurun waktu 2017 hingga 2022 kejadian mamalia laut terdampar cenderung meningkat setiap tahunnya. Kejadian itu muncul khususnya untuk jenis mamalia laut paus dan dugong. Sedangkan untuk jenis lumba-lumba cenderung menurun kejadian keterdamparannya dari 2019 hingga 2022.

Menurut Santoso, Rencana Aksi Nasional diharapkan menjadi rujukan nasional dalam upaya melestarikan dan menyelamatkan mamalia laut di. Masyarakat juga dapat memberikan informasi tentang mamalia laut yang terdampar di wilayahnya kepada KKP.

Penanganan kejadian mamalia laut terdampar tak hanya dilakukan oleh LPSPL Sorong namun bersinergi dengan pemerintah daerah, mitra konservasi serta masyarakat pesisir.

DARILAUT.ID


Berita Menarik Lainnya


Berita Terkait