HARI ini, setahun lalu, lingu, bombatalu, hingga likuefaksi mengguncang Sulawesi Tengah, menewaskan 4.845 orang dan menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi. Sembilan jurnalis Palu peserta fellowship "Akuntabilitas Penanganan Bencana" mengangkat kisah para penyintas, menelisik proyek yang diduga bermasalah, dan melaporkan mimpi Palu punya benteng tsunami. Inilah liputannya.

HARI ini, setahun lalu, lingu, bombatalu, nalodo (likuefaksi), hingga longsor mengguncang ibu kota Sulawesi Tengah, Palu, dan 3 kabupaten di sekitarnya. Sebanyak 4.845 orang meninggal, lebih dari 172 ribu warga terdampak. Sembilan jurnalis Palu peserta program "Fellowship Akuntabilitas Penanganan Bencana" dari Harian Mercusuar, Media Alkhairaat, Koran Metro Sulawesi, Kompas.com, Kompas TV biro Sulteng, dan Kabarsultengbangkit mengungkap kisah para penyintas di pengungsian, menelisik sejumlah proyek yang diduga bermasalah, dan melaporkan mimpi Kota Palu untuk punya benteng tsunami. Inilah liputannya.

TENTANG PROGRAM INI

Bencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi Sulawesi Tengah hari ini, 28 September 2019, genap berusia setahun. Kehadiran jurnalis dan media lokal yang kuat dan independen menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan penanganan bencana berjalan semestinya dan 172 ribu lebih korban selamat mendapatkan hak-haknya.

Untuk itu, Tempo Institute, International Media Support (Denmark), dan AJI Kota Palu sejak akhir Juni-September 2019 menggelar pelatihan peningkatan skill jurnalis di Sulawesi Tengah melalui program "Fellowship Akuntabilitas Penanganan Bencana". Program itu terdiri dari serangkaian kegiatan, dimulai dengan workshop yang diikuti 30 jurnalis di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala dan Parigi Moutong. Kegiatan selanjutnya adalah bantuan pendanaan liputan dan mentoring selama dua bulan bagi sembilan jurnalis dengan proposal terbaik.

Inilah laman sembilan karya mereka: tiga laporan investigasi, lima laporan mendalam, dan satu laporan video yang mengungkapkan apa yang tersembunyi dalam penanganan bencana di Sulawesi Tengah. Karya mereka disiarkan di medianya masing-masing, yakni Mercusuar, Alkhairaat, Metrosulawesi, Kompas.com, Kabarsultengbangkit.id, dan Kompas TV, dan direlay oleh Teras.id dan Tempo.co untuk memperingati satu tahun bencana yang telah merenggut 4.845 korban jiwa. Selamat membaca.