Pemerintah Kaji Pemberian Insentif Khusus untuk Industri Otomotif
TEMPO.CO | 27/01/2021 14:48
Pekerja sedang merakit mobil Suzuki Ertiga di Pabrik Suzuki di Cikarang, Bekasi, Februari 2018. TEMPO/Wawan Priyanto
Pekerja sedang merakit mobil Suzuki Ertiga di Pabrik Suzuki di Cikarang, Bekasi, Februari 2018. TEMPO/Wawan Priyanto

TEMPO.CO, JakartaKementerian Perdagangan menyoroti wacana pemberian insentif untuk industri otomotif, yang sepanjang 2020 mengalami penurunan hampir 50 persen dibandingkan tahun 2019.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan pihaknya akan mengkaji insentif khusus di sektor otomotif guna memperbaiki kinerja penjualan kendaraan roda dua ataupun roda empat, yang memiliki pengaruh kuat untuk memulihkan ekonomi Indonesia.

“Jadi, kita perlu memberikan insentif supaya market mau membeli barang atau investasi kepada barang-barang seperti otomotif,” ujarnya dalam webinar Indonesia Business Challenges 2021: Akselerasi Pemulihan Ekonomi, Selasa, 26 Januari 2021.

Lutfi menilai pasar sepeda motor memiliki pengaruh kuat untuk memulihkan perekonomian dari tekanan Covid-19. Untuk itu, konsumsi di sektor ini perlu diakselerasi agar penerimaan negara dari pajak otomotif berjalan lancar dan lapangan pekerjaan kembali terbuka.

Baca juga: Covid-19 Bikin Industri Otomotif Global Turun, 2023 Pulih

Dia berjanji akan membicarakan hal tersebut kepada jajaran menteri lainnya, terutama Menteri Keuangan Sri Mulyani agar berkenan memberi lebih banyak insentif untuk mendorong belanja masyarakat.

“Ini satu hal yang perlu saya bicarakan, bukan saja di sektor perdagangan, tapi juga perindustrian dan kemudian yang paling penting juga di tempat Menteri Keuangan, karena kita membutuhkan insentif-insentif,” tuturnya.

Kinerja penjualan sepeda motor sepanjang 2020 di Indonesia diketahui terkoreksi 43,5 persen dibandingkan capaian 2019 akibat krisis yang ditimbulkan pandemi Covid-19.

Mengutip data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan dari pabrik ke dealer atau
wholesales roda dua pada tahun lalu mencapai 3,6 juta unit. Adapun, pada 2019, penjualan motor di Indonesia mencapai 6,4 juta.

Ekspor sepeda motor sepanjang 2020 terlihat lebih baik dari capaian penjualan domestik. AISI mencatat ekspor tahun lalu mencapai 700.392 unit, atau melemah 13,6 persen dibandingkan ekspor 2019 yang membukukan 810.433 unit.

Baca: Dampak Covid-19, Ekspor Mobil Masih Berat

Sementara itu, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat total penjualan ritel kendaran roda empat atau lebih pada 2020 mencapai 578.327 unit, turun 44,7 persen dari 2019, yang mencatatkan penjualan 1,045 juta unit.

Adapun kinerja
wholesales kendaraan roda empat atau lebih sepanjang 2020 terkoreksi 48,5 persen dibandingkan 2019, yakni dari 1,032 juta unit menjadi 532.027 unit.

Lutfi menilai bahwa untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi, pemerintah perlu memperbaiki struktur produksi dan konsumen di dalam negeri. Sebab, jika konsumsi belanja masyarakat terganggu, secara simultan sektor produksi akan tertekan. 

“Konsumsi kita ini lebih dari 50 persen. Jadi, artinya, kalau konsumsi terganggu, produksi terganggu, atau produksi dan konsumsi terganggu, pertumbuhan ekonomi kita pada tahun 2021 akan terkena secara langsung,” ungkapnya.

Kalangan industri otomotif berharap tahun 2021 pasar kembali bergairah. Sebelumnya, wacana pajak mobil nol persen kembali mengemuka untuk menstimulus pasr. Namun, hingga kini belum ada kejelasan soal sikap pemerintah terkait usulan pajak nol persen untuk pembelian mobil baru. 

BISNIS




REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT