Volkswagen Belum Pikirkan Wacana Kerja 4 Hari Seminggu
TEMPO.CO | 06/09/2020 07:13
Pekerja menyelesaikan perakitan mobil listrik Volkswagen (VW) model ID.3 di pabrik VW, Zwickau, Jerman, Selasa, 25 Februari 2020. REUTERS/Matthias Rietschel
Pekerja menyelesaikan perakitan mobil listrik Volkswagen (VW) model ID.3 di pabrik VW, Zwickau, Jerman, Selasa, 25 Februari 2020. REUTERS/Matthias Rietschel

TEMPO.CO, BerlinKepala Hubungan Tenaga Kerja Volkswagen Bernd Osterloh menyampaikan bahwa Volkswagen belum perlu menerapkan 4 hari kerja di pabriknya meski telah terjadi pergeseran ke mobil listrik yang mudah dibuat dan membutuhkan lebih banyak pekerja, demikian Reuters, 6 September 2020. 

Serikat buruh terbesar Jerman IG Metall pada 15 Agustus mengusulkan negosiasi untuk transisi ke empat hari seminggu di seluruh industri untuk membantu mengamankan pekerjaan, dengan latar belakang kejatuhan ekonomi dari krisis corona serta pergeseran struktural di sektor otomotif.

Tetapi Osterloh mengatakan kepada surat kabar Welt am Sonntag bahwa rencana pemotongan biaya VW yang ada, termasuk mengurangi tenaga kerja hingga 7.000 melalui pensiun dini staf administrasi di markas Wolfsburg, sudah cukup untuk membantunya mengatasi krisis virus corona dan masalah lain.

“Saat ini kami tidak sedang membicarakan tentang pekerjaan yang lebih sedikit,” kata Osterloh. “Dengan Golf kami memiliki level (produksi) tahun lalu pada bulan Juni dan Juli dan memperkenalkan shift ekstra,” tambahnya, mengacu pada salah satu model perusahaan yang paling populer.

“Seminggu empat hari bukanlah masalah bagi kami.”

Permintaan IG Metall, yang mewakili 2,3 juta karyawan di sektor pengerjaan logam dan kelistrikan, berpotensi signifikan di Jerman karena mereka sering menetapkan tolok ukur untuk negosiasi upah di industri tersebut.

VW pada tahun 2016 menetapkan program pengurangan biaya yang dijuluki Pakta Masa Depan, tetapi perusahaan telah mengesampingkan pemberhentian wajib hingga 2025. Osterloh dikutip pada bulan Juli mengatakan bahwa VW tidak memerlukan pemotongan biaya yang lebih dalam terkait krisis Covid-19, yang memberikan pukulan telak bagi penjualan mobil.




REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT