Penyebab Ekspor Mobil Toyota pada April Anjlok hingga 47 Persen
TEMPO.CO | 26/05/2020 08:38
Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat akan melepas mobil yang akan diekspor setelah peluncuran aturan penyederhanaan ekspor kendaraan utuh di Dermaga PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Selasa, 12 Febr
Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat akan melepas mobil yang akan diekspor setelah peluncuran aturan penyederhanaan ekspor kendaraan utuh di Dermaga PT Indonesia Kendaraan Terminal, Jakarta, Selasa, 12 Februari 2019. Dengan adanya kemudahan yang diberikan pemerintah, diharapkan defisit neraca perdagangan bisa diatasi dengan menggenjot ekspor. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Kinerja ekspor mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) pada April 2020 turun sebesar 47,8 persen dibandingkan capaian tahun lalu. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) menyebutkan, TMMIN hanya mengapalkan 2.878 unit kendaraan pada April, berkurang 2.640 unit daripada ekspor bulan April 2019 yang mencapai 5.518 unit.

Sementara itu, kinerja ekspor Toyota sepanjang Januari-April 2020 tercatat sebanyak 23.166 unit, turun 8,5 persen secara tahunan.
Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal TMMIN Bob Azam, sempat mengatakan bahwa ekspor ke negara-negara di Asia Tenggara dihentikan sementara karena dipengaruhi sejumlah faktor.

“Untuk Asia Tenggara setop karena umumnya masih lockdown. Kami hanya mengerjakan service parts untuk after sales part dan ekspor untuk Timur Tengah,” tuturnya.

Sementara itu, kinerja ekspor otomotif nasional diprediksi turun hingga 50 persen pada tahun ini. Hal itu pun membuat target ekspor 1 juta unit kendaraan pada 2025 yang ditetapkan oleh pemerintah dirasa semakin sulit tercapai.

Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi mengatakan kinerja pengapalan mobil pada Maret 2020 sempat tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Namun, raihan tersebut merupakan hasil timbunan pemesanan dari bulan sebelumnya.

“Sehingga, kami proyeksikan ekspor pada tahun ini akan turun 50 persen. Padahal, saat Desember 2019 kami diminta menaikan ekpsor hingga 1 juta unit pada 2025,” ujarnya.

BISNIS


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT