Awas Octane Booster Bisa Akibatkan Mobil Mogok, Ini Penjelasannya
TEMPO.CO | 15/09/2019 07:45
Petugas tengah melakukan pengisian bahan bakar jenis premium di SPBU kawasan Matraman, Jakarta, Kamis 11 Oktober 2018. Kenaikan harga BBM Premium ditolak oleh Presiden Jokowi dengan alasan, kenaikan harga tersebut akan memberatkan rakyat kecil. Tempo/Tony
Petugas tengah melakukan pengisian bahan bakar jenis premium di SPBU kawasan Matraman, Jakarta, Kamis 11 Oktober 2018. Kenaikan harga BBM Premium ditolak oleh Presiden Jokowi dengan alasan, kenaikan harga tersebut akan memberatkan rakyat kecil. Tempo/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian pemilik mobil menambahkan oktan atau octane booster dan cetane booster untuk mendongkrak performa kendaraan maupun menghemat pengeluaran. Dengan bahan bakar oktan rendah bisa didongkrak dengan penggunaan oktane booster dan cetane booster.

Berkembangnya teknologi mesin kendaraan juga menuntut kebutuhan bahan bakar dengan nilai Oktan dan Cetane tinggi untuk meningkatkan kinerja mesin semakin meningkat. Octane dan Cetane booster yang dijual di pasaran biasanya ada dalam bentuk pil dan cairan.

Dalam penelitian menunjukkan penambahan Octane dan Cetane booster dapat meningkatkan nilai dari masing-masing bahan bakar, misalnya premium yang ditambahkan pil octane booster akan sama layaknya pertalite bahkan pertamax. Hasil penelitian pun menyebutkan bahwa kinerja mesin lebih baik dalam meningkatkan daya mesin maupun menghemat konsumsi bahan bakar.

Seperti dikutip dari Auto2000.co.id, octane booster yang dikonsumsi masyarakat Indonesia masih diimpor dan sebagian besar berjenis octane enhancer non-oxygenate. Produk ini disinyalir berpotensi membahayakan lingkungan. Octane enhancer non-oxygenate adalah campuran beberapa unsur logam yang bisa meningkatkan nilai oktan, terdiri dari besi (Fe), timbal (Pb), dan mangan (Mn).

Hal negatif lainnya yang akan timbul adalah mengendapnya bahan yang tidak tercampur dalam bahan bakar yang kemudian hari menumpuk akan menyebabkan tangki bahan bakar, saluran bahan bakar bahkan injektor mengalami kinerja yang menurun. Menurunnya kinerja beberapa komponen ini pastinya berpengaruh besar pada kinerja mesin itu sendiri.

“Pernah saya menangani kasus mesin mogok karena saringan bahan bakar pada tangki yang tersumbat hingga injektor yang mampet akibat pelanggan menggunakan pil penambah nilai Octane ini” ujar Arif Krisna, Foreman Auto2000 Pandeglang.

“Alangkah baiknnya kita menggunakan bahan bakar sesuai rekomendasi dari pabrikan agar kinerja mesin lebih maksimal dibandinglan dengan penambahan bahan untuk meningkatkan nilai octane maupun cetane” tambahnya.

Lakukan perawatan berkala di bengkel resmi setiap 6 bulan atau 10.000 km sekali agar kendaraan selalu dalam kondisi yang prima.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT