Alasan CEO Nissan Mundur Karena Tak Dipercaya Sesama Eksekutif
TEMPO.CO | 14/09/2019 09:40
Chief Executive Nissan Motor Co, Hiroto Saikawa (ANTARA/Reuters)
Chief Executive Nissan Motor Co, Hiroto Saikawa (ANTARA/Reuters)

TEMPO.CO, Jakarta - Pengunduran diri CEO Nissan Motor, Hiroto Saikawa, awal pekan ini diyakini dipicu oleh tuduhan bahwa ia telah menggelembungkan kompensasi (gaji), namun ternyata ada alasan lain menurut sumber-sumber eksekutif nissan lainnya.

Akar masalah dari mundurnya Saikawa, mengutip Nikkei pada Sabtu, adalah terletak pada kegagalannya untuk mendapatkan kepercayaan dari sesama eksekutif di Nissan.

Manajemen Nissan diguncang oleh artikel Wall Street Journal pada awal Agustus yang melaporkan negosiasi email antara Nissan dan mitra Prancis Renault tentang struktur modal aliansi itu.

Pihak Nissan menyerukan agar Renault mengurangi kepemilikannya di perusahaan mobil Jepang itu menjadi antara 5 hingga 10 persen dari saat ini yang mencapai 43 persen. Sementara mereka juga mengusulkan usaha patungan baru untuk menunjukkan bahwa "aliansi tidak mati".

Kekagetan tidak hanya terletak pada isi email-email itu, tetapi juga ketika ternyata direktur dari orang luar Nissan, Masakazu Toyoda, terdaftar bersama Saikawa sebagai bagian dari tim negosiasi Nissan.

Saikawa sering berhubungan dengan Ketua Renault Jean-Dominique Senard melalui telepon dan email. Mereka sering terlibat percapakan hanya berdua, dengan eksekutif senior lainnya tidak diikutsertakan.

Toyoda, seorang mantan birokrat di Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri, Jepang diketahui termasuk di antara sedikit orang yang memiliki kepercayaan penuh Saikawa.

"Presiden Saikawa menempatkan 'direktur luar' dalam posisi yang lebih penting daripada kita?," ungkap salah seorang eksekutif Nissan.

"Kami memutuskan untuk melakukan berbagai hal melalui pengambilan keputusan kolektif, namun tidak ada informasi sama sekali yang datang kepada kami," keluh lainnya. "Ini politik ruang belakang."

Ketika mantan kepala Nissan Carlos Ghosn digulingkan November lalu karena tuduhan pelanggaran keuangan, Saikawa mengambil kendali. Dipahami bahwa lingkaran kecil eksekutif puncak akan berbagi informasi penting dan bekerja bersama untuk menyusun strategi.


Namun Saikawa "akhirnya menjaga hal-hal yang berkaitan dengan Renault--masalah paling penting--untuk dirinya sendiri," kata seorang pejabat senior Nissan.

Mengapa pendekatan CEO berubah pada saat kesatuan dalam manajemen sangat penting?

Beberapa orang dalam Nissan mengutip proposal reformasi tata pemerintahan awal tahun ini sebagai titik balik. Setelah pemecatan Ghosn, Nissan membentuk panel ahli luar untuk memperbaiki struktur tata kelola pembuat mobil untuk mencegah masalah seperti itu terjadi lagi.

Komite tersebut menyusun temuan dan rekomendasinya menjadi sebuah laporan pada bulan Maret yang mengutuk tindakan Ghosn tetapi diam mengenai apakah Saikawa harus mengambil tanggung jawab karena gagal menemukan masalah, baik sebagai CEO dan sebagai rekan dekat sang mantan ketua.

"Mungkin kepercayaannya tumbuh setelah rekomendasi tidak memasukkan apa-apa tentang tanggung jawabnya dan dia melewati rapat umum pemegang saham," kata seorang eksekutif. "Setelah itu, dia mengajukan segala sesuatunya dengan otoritasnya sendiri, dengan dukungan dari beberapa direktur luar."

Memang benar bahwa mengarahkan perusahaan selama krisis dapat membutuhkan pemimpin individu untuk membuat keputusan cepat. Tapi kekakuan Saikawa dengan informasi, bersama dengan penurunan pendapatan yang tajam, menyebabkan ketidakpuasan dengan gaya manajemennya.

Pada awal Agustus, beberapa direktur eksternal, melihat kepemimpinan Saikawa yang berkelanjutan sebagai yang tidak dapat ditoleransi, mulai diam-diam bekerja sama dalam kampanye untuk memaksanya "turun tahta" dalam tahun itu.

Bulan ini, penyelidikan internal membenarkan tuduhan yang disuarakan pada Juni oleh mantan direktur Greg Kelly--seorang pembantu dekat Ghosn yang diduga terlibat dalam pelanggaran mantan ketua itu--bahwa Saikawa juga menggembungkan kompensasinya. Dukungan CEO yang tersisa menguap setelah itu.

Jumat lalu, seorang eksekutif mendesak Saikawa untuk "segera mengundurkan diri pada 9 September" dan "bertanggung jawab dengan benar" atas tindakannya.

CEO Nissan menyatakan keinginan untuk mundur tetapi tidak memberikan kerangka waktu tertentu, menurut sumber yang mengetahui masalah itu. Saikawa pun akhirnya menyatakan mundur dalam rapat direktur Senin, 9 September 2019 dan akan efektif pada 16 September ini.

Antara


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT