Lady Bikers Ini Mengaku Gemar Naik Motor Berkopling Sejak SMA
TEMPO.CO | 17/08/2019 15:24
Lady biker Omean yang turut dalam event Women Riders World Relay (WRWR) 2019. Tempo/Pribadi Wicaksono
Lady biker Omean yang turut dalam event Women Riders World Relay (WRWR) 2019. Tempo/Pribadi Wicaksono

TEMPO.CO, Jakarta - Pemotor perempuan alias lady bikers mungkin bukan hal asing lagi di negeri ini walau jumlahnya belum terlalu banyak. Satu hal yang membedakan lady biker satu dengan lainnya biasanya jam terbangnya.

Seorang lady bikers asal Cikampek, Jawa Barat, Mukaromah alias Omean, 34 tahun, menjadi salah satu yang spesial. Bagaimana tidak, ibu satu anak yang berperawakan langsing seperti remaja belasan tahun ini sekilas tak tampak lady bikers jika tak menggunakan atribut riding.

Perempuan yang suaminya meninggal karena kecelakaan beberapa waktu silam itu berhasil ditunjuk menjadi salah satu utusan Indonesia di ajang internasional Women Riders World Relay (WRWR) 2019 yang harus berkendara dari Jakarta ke Yogyakarta pada 15 Agustus 2019.

Motor yang dikendarai Omean dalam perjalanan Jakarta-Yogya itu Triumph Bonneville Street Twin 900 cc lansiran 2017.

"Selama perjalanan saya nggak bisa bawa motor (Triumph) ini jalan terlalu lambat, mesinnya bisa mati," ujar Omean ditemui sesampainya di Yogya Kamis petang 15 Agustus 2019.

Namun, motor gahar Triumph ini bukan milik Omean, melainkan yang disediakan panitia kegiatan. Meski baru pertama kali menjajal motor besar, Omean tak merasa kesulitan menggeber motor Triumph itu karena terbiasa menggunakan motor sport.

Track ratusan kilometer Jakarta-Yogya pun sekaligus jadi ajang test drive Omean dengan moge itu.

"Sehari-hari saya pakai Honda Tiger custom, untuk kerja dan urusan harian," ujar karyawan perusahaan distributor kacamata berbasis di Jakarta itu.

Ibu dari seorang putri berusia 9 tahun itu menuturkan, saat belajar motor langsung menguasai motor ber kopling tangan alias motor sport. Sehingga saat menggunakan jenis motor matic, Omean pernah jatuh karena kikuk. Namun tak sampai fatal.

Perempuan berambut pendek itu menuturkan ia sudah gemar riding sejak duduk di bangku SMA.

Sebelumnya Omean pecinta alam dan kerap mendaki gunung. Namun hobi mendaki itu baru bisa teralisasi jika ada libur panjang dan butuh waktu lama.

"Kalau riding kan sehari dua hari cukup, sejak itu saya mulai sering riding sekalian menjelajahi alam alam," ujar Omean yang awalnya berkendara menggunakan Suzuki A 100 dan sempat beralih ke Yamaha RX King itu.

Selama menjadi lady biker selama 15 tahun terakhir, Omean bersyukur belum pernah mengalami kecelakaan fatal dari berbagai touring yang ia ikuti. Rute jauh yang pernah dilibas anggota komunitas motor di atas 150 cc, Wolf Angel Indonesia, itu seperti Jakarta- Yogya juga Jakarta- Jawa Barat.

Omean menuturkan menjadi lady bikers awalnya memang sempat menyakitkan perasaannya sebagai perempuan.

"Paling ngga enak waktu awal itu dianggap boncenger, cewek yang suka nempel sana sini," ujar Omean yang sepekan sekali touring luar kota itu. Namun anggapan boncenger itu lama lama makin berkurang setelah Omean mulai dikenal sejumlah kub motor.

Omean mengakui sulit menghapus stigma lady bikers sebagai sosok yang nakal atau menyimpang. Sebab masih banyak anggapan masyarakat kalau motor identik hanya untuk laki laki. Keluar malam, touring dengan laki laki menjadi ciri yang membuat stigma soal lady bikers itu masih kuat.

"Pesan saya untuk perempuan yang memang hobi motor, mau jadi LB (lady bikers) ya jadi lady bikers saja, jangan mau sampai jadi LB tapi lady bispak (bisa pakai)," ujarnya.

Istilah bispak seringkali disematkan untuk perempuan yang dianggap bisa dimanfaatkan dengan imbalan tertentu.

Omean menuturkan saat riding jauh ke luar kota, anak perempuannya tetap aman bersama orang tuanya di rumahnya di Cikampek. Sehingga hobinya berkendara jauh juga bisa berjalan.

"Berkendara jadi tempat saya untuk rileks di sela kesibukan pekerjaan, melihat pemandangan jalanan bisa menjadi kepuasan tersendiri," ujarnya.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT