Alasan Mahasiswa ITS Kembangkan Mobil Hidrogen Ketimbang Listrik
TEMPO.CO | 11/08/2019 10:37
Mobi Antasena FCH 1.0 karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini menggunakan bahan bakar fuel cell atau hidrogen. (ITS)
Mobi Antasena FCH 1.0 karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini menggunakan bahan bakar fuel cell atau hidrogen. (ITS)

TEMPO.CO, Jakarta - Mobil hidrogen atau Fuel Cell Vehicle (FCV) merupakan generasi terbaru dari teknologi mobil listrik. FCV untuk sementara waktu dapat diklaim sebagai yang paling ramah lingkungan dibandingkan dengan tiga generasi sebelumnya, seperti teknologi Battery Electric Vehicle (BEV), Plug-in Hybrid (PHEV), dan Hybrid.

"Kalau mobil listrik yang sekarang ramai itu (BEV, Plug-In, atau Hybrid) kendalanya adalah penyebaran baterainya (pasca pakai). Baterai mobil listrik itu menggunakan Litium, yang kita tahu berbahaya untuk lingkungan," ujar General Manager Tim Antasena (Mahasiswa ITS), Ghalib Abyan kepada Tempo, Sabtu, 10 Agustus 2019.

Ghalib menyatakan bahwa limbah baterai litium belum bisa dikelolah lebih lanjut atau recycle. Sekarang ini para ilmuan dan inovator, kata dia masih mencari tahu bagaimana mengatasi persoalan tersebut.

"Tesla aja masih cari tahu dan membuka proyek besar-besaran kepada masyarakat, siapa yang bisa mengolah limbah baterai,"ujar dia.

Meski demikian, kata Ghalib, pada dasarnya emisi yang dikeluarkan dari mobil listrik dan mobil hidrogen tetap nol emisi. Namun dalam hal tertentu, menurut dia penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar mobil fuel cell adalah pilihan terbaik. Sebab ketersediaannya tidak terbatas dan masuk dalam kategori bahan bakar terbarukan.

Penggunaan hidrogen tidak memberikan sumbangan terhadap masalah lingkungan seperti efek rumah kaca, hujan asam, dan kerusakan lapisan ozon.

Menurut Ghalib, program Protokol Kyoto yang mengamanatkan industri untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil bisa terwujud.

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT