Menguji Konsumsi BBM All New Nissan Livina di Jalur Mudik
TEMPO.CO | 17/06/2019 05:59
All New Nissan Livina. TEMPO/Wawan Priyanto
All New Nissan Livina. TEMPO/Wawan Priyanto

TEMPO.CO, Jakarta - Hampir semua produsen otomotif mengklaim produknya hemat bahan bakar. Tidak ada yang mengklaim boros bahan bakar. Nah, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menguji seberapa boros tunggangan kita. Satu di antaranya adalah dengan membawanya berkendara sampai bahan bakar di dalam tangki habis, seperti yang saya lakukan terhadap All New Nissan Livina.

Kebetulan, pada mudik Lebaran, 30 Mei hingga 8 Juni, saya mengendarai All New Nissan Livina untuk mudik Lebaran ke Solo, Jawa Tengah. Sekaligus melaporkan situasi terkini puncak arus mudik dan arus balik untuk Tempo.co.

Nah, kesempatan ini saya manfaatkan untuk menguji seberapa irit konsumsi bahan bakar All New Nissan Livina dalam arti sesungguhnya. Yakni untuk perjalanan jauh (mudik Lebaran) dengan kondisi jalanan beragam, mulai dari macet, padat, hingga lancar jaya (bisa ngebut). Tentu, dengan beban yang tidak ringan karena menampung 4 orang dengan bagasi penuh.

Baca juga: Ini Perbedaan All New Nissan Livina dengan Xpander, Pilih Mana?

Jakarta-Semarang Sekali Isi Bensin
All New Nissan Livina, kembaran Mitsubishi Xpander, ini memiliki tangki dengan kapasitas 45 liter bensin. Saya mengisi penuh bahan bakar bensin RON 92 dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Rest Area KM 6A Tol Jakarta-Cikampek pada 30 Juni 2019 pukul 6.30 WIB, waktu di mana saya bersama istri dan dua anak saya memulai perjalanan dari Jakarta menuju Solo. Odometer yang menunjukkan angka perjalanan saya reset ke angka "0".

Beban kendaraan bisa dibilang cukup berat, meski tak sampai memuat 7 penumpang, karena penumpang hanya 4 orang, tapi kursi baris ketiga direbahkan untuk menampung barang bawaan. Tercatat ada tiga tas besar berisi pakaian, tiga kardus besar besar isi bingkisan lebaran, satu koper besar, peralatan memasak, dan sebagainya.

Bagasi lapang All New Nissan Livina dapat dimaksimalkan dengan melipat kursi baris ketiga. TEMPO/Wawan Priyanto

Beruntung kursi baris ketiga bisa direbahkan hingga rata sehingga memudahkan kami menata barang bawaan semaksimal mungkin tanpa harus mengganggu pandangan pengemudi ke kaca belakang.

Putar balik di Jatiwaringin, Jakarta Timur, lalu masuk tol arah Cikampek. Perjalanan pagi itu mulus tanpa hambatan. Tarikan mesin 1.500 cc dengan tenaga 104PS pada 6.000 rpm dan torsi 141 Nm pada 4.000 rpm mulai terasa sejak diputaran bawah. Lari 80 kilometer per jam hingga 100 kilometer per jam pun terasa ringan.

Baca juga: All New Nissan Livina Berpotensi untuk Ekspor

Hanya saja, menjelang Rest Area KM 19, perjalanan kami mulai tersendat. Di rest area itu banyak pemudik yang antre ingin masuk beristirahat atau mengisi bahan bakar. Karena di dalam rest area tidak lagi mampu menampung kendaraan pemudik, jadilah sebagian besar nekad parkir di bahu jalan. Hal inilah yang membeat Rest Area KM 19 Tol Jakarta-Cikampek sebagai titik awal kemacetan arus mudik Lebaran 2019.



Kepadatan ini terus berlangsung hingga Pintu Tol Cikarang Utama di KM 29. Tepat pukul 7.00 WIB, petugas memberlakukan sistem contra flow mulai KM 29. Beruntung kami berada di lajur jalan paling kanan ketika sistem contra flow diberlakukan. Hanya mengantre sebentar, mobil yang kami kendarai masuk jalur contra flow. Lancar jaya hingga KM 61 nyaris tanpa hambatan.

Sebaliknya, di sisi kiri kami atau di jalur normal kondisinya nyaris tak bergerak. Seorang rekan dari Tempo yang mengendarai Toyota Kijang Innova Reborn dengan tujuan Yogyakarta melalui jalur selatan terjebak kemacetan 4-5 jam di jalur itu. Kalau saya, mungkin hanya terbuang waktu sekitar 2 jam saja karena sempat terjebak macet di KM 19 hingga KM 29, lalu dari KM 61 (selesai contra flow) hingga Pintu Tol Cikarang Utama.

Kemacetan panjang menjelang pintu tol Cikampek pada H-6 Lebaran pada 30 Mei 2019. TEMPO/Wawan Priyanto

Singkat cerita, jalur contra flow membawa saya cepat tiba di Pintu Tol Cikampek Utama. Saya menepi di tempat yang aman, mengeluarkan drone DJI Spark dari dalam tas, dan mulai menerbangkannya.

Di titik inilah saya mengambil gambar dari udara tentang kepadatan lalu lintas arus mudik dari Jakarta menuju Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Foto-foto dan video dari udara itu kemudian mewarnai laporan saya tentang puncak arus mudik Lebaran 2019 di Tempo.co.

Baca juga: Spesifikasi Lengkap All New Nissan Livina, Pakai Layar 7 Inci

Selepas pintu tol Cikopo, petugas sudah membuka sistem one way atau satu arah. Dua sisi tol Cikopo-Palimanan dan Palimanan-Cikopo seluruhnya digunakan untuk satu arah menuju Pintu Tol Palimanan. Sistem ini terbukti membuat arus mudik lancar. Kepadatan hanya terjadi di sejumlah titik (rest area).

Di sinilah saya bisa menguji performa mesin All New Nissan Livina. Mengingat faktor keselamatan merupakan yang utama, saya hanya sesekali menggeber mobil ini hingga menyentuh angka 150 kilometer per jam. Selebihnya, konstan dengan kecepatan 80-100 kilometer per jam.

Di tol Cikopo-Palimanan, melaporkan pelaksanaan sistem one way saat arus mudik Lebaran 2019. TEMPO/Wawan Priyanto.

Di beberapa rest area ruas tol Cikopo-Palimanan dan Palimanan-Brebes Timur saya berusaha untuk berhenti sejenak, mengambil gambar atau hanya sekadar istirahat. Saya periksa indikator bahan bakar masih setengah menjelang pintu tol Brebes Timur. "Ah, masih aman," pikir saya.

Aplikasi seperti Google Maps menjadi penyelamat saya ketika itu. Dengan aplikasi itu saya bisa melihat dengan jelas situasi lalu lintas di depan saya. Benar saja, ketika saya membuka aplikasi Google Maps, jalur tol Pejagan - Pemalang macet total, mungkin lebih dari 20 kilometer siang itu. Saya memutuskan untuk keluar di Brebes Timur, menyusuri jalur arteri, masuk Kota Tegal, dan masuk lagi di Pintu Tol Pemalang.



Lanjut hingga masuk Tol Semarang-Batang menjelang buka puasa. Karena setiap rest area fungsional di jalur tol ini penuh, saya memutuskan untuk lanjut ke rest area besar di Ungaran, Semarang. Sekaligus untuk mengisi bahan bakar. Kebetulan pas di rest area ini indikator di odometer memerintahkan saya untuk segera mengisi bahan bakar. Sempat dag dig dug juga saat indikator pengingat bensin berkedip dan meminta saya untuk segera mengisi bensin. Takut kalau-kalau mobil mogok sebelum sampai ke SPBU.

Baca juga: Belanja Iklan TV All New Nissan Livina Tertinggi Selama IIMS 2019

Saya periksa jarak tempuh 45 liter bensin yang saya isi penuh saat start dari Jakarta, menunjukkan angka 446,7 kilometer. Mesin mobil masih menyala, tapi range atau jarak tempu dengan sisa bensin di tangki sudah menunjukkan angka "0". Kalau diteruskan hingga mobil mogok, mungkin masih bisa melaju sejauh 3-5 kilometer lagi.

Sekali isi bensin, All New Nissan Livina bisa digunakan untuk menempuh jarak Jakarta-Semarang. TEMPO/Wawan Priyanto

Ok. Jadi hasil yang saya dapatkan, dengan isi 45 liter bensin RON 92, sanggup melaju sejauh 446,7 kilometer artinya dapat 9,9 liter per kilometer. Tapi ingat, itu ditempuh dengan kondisi jalanan macet di Jakarta - Cikampek, lalu di beberapa titik Cikopo-Palimanan. Kalau di total mungkin sekitar 3-4 jam kemacetan. Angka ini bisa saja lebih baik lagi jika kondisi jalan tidak terhalang kemacetan panjang.

Irit atau boros konsumsi bahan bakar sebenarnya kembali ke gaya mengemudi masing-masing pengemudi. Mobil seperti All New Nissan Livina telah dibekali dengan fitur Eco Mode, yang memungkinkan pengemudi untuk mengatur gaya mengemudi hemat bahan bakar.

Di meter cluster, terdapat LCD yang menampilkan beragam informasi seperti rata-rata konsumsi bahan bakar, jarak tempuh, eco mode driving, dan sebagainya. Pengoperasiannya dengan menekan tombol yang berada di dashboard sebelah kanan. Agak ribet sih menurut saya letak tombol ini. Alangkah menariknya jika dipindah ke setir sebelah kanan, lebih praktis karena hanya dengan menggunakan jempol kanan untuk mengoperasikannya, tangan tanpa harus lepas dari setir.

Baca juga: Meski Kembar, Nissan Livina Tak Mau Disamakan dengan Xpander

Oh iya, catatan penting saya untuk mobil ini adalah, kamera sensor parkir di belakang tidak sejernih kompetitor. Gambar yang ditangkap kamera, terutama saat cahaya kurang terang, tampak sedikit buram saat ditampilkan di layar monitor.

Di rest area itu saya kembali mengisi penuh BBM RON 92. Hingga sampai di tempat tujuan di Solo indikator bar ban bakar tidak berkurang sama sekali.

Fitur mumpuni
Kondisi tol Batang-Semarang-Solo ini menarik. Kontur jalan tidak semua landai, tapi ada yang tanjakan terjal dan turunan curam. Di ruas Tol Semarang menuju Solo, terpaksa melambatkan kendaraan pada saat menanjak terjal karena padatnya lalu lintas. Beruntung All New Nissan Livina dibekali dengan fitur HSA atau Hill Start Assist.

Fitur ini membantu menjaga posisi mobil agar tidak mundur saat menanjak sebelum mobil berjalan. Catatan penting lain dari perjalanan mudik kali ini adalah mobil cukup nyaman saat diajak bermanuver, hal ini didukung oleh fitur Vehicle Dynamic Control (VDC) yang membantu mobil tetap stabil ketika melibas jalanan licin.

Berbagai tombol pengaturan di setir All New Nissan Livina memudahkan pengemudi untuk mengoperasikan fitur-fitur hiburan di dalam mobil. TEMPO/Wawan Priyanto.

Ada juga Traction Control System (TCS), membuat tetap nyaman dan aman saat berakselerasi di tikungan, karena fitur ini mencegah ban mengalami selip dan sulit dikendalikan. Tombol ini terletak di dashboard sebelah kanan setir, dekat dengan doortrim.

Oh iya, fitur lain yang tak kalah menariknya dari mobil ini adalah banyaknya tempat untuk mengisi ulang baterai gadget. Saya hitung ada tiga lighter socket, di depan tuas transmisi, consol tengah, dan di bawah kaca jendela sisi kanan kursi baris ketiga.

Baca juga: Nissan All New Livina Paling Murah Rp 198 Juta, Ini Pesaingnya

Sistem entertaintment mobil ini juga mumpuni. Lagu-lagu rock tahun 1980an dari grup band Queen, lagu alternatif karya Green Day, hingga lagu-lagu baru yang dinyanyikan Adele dan P!ink akrab menemani kami sepanjang jalan.

Total perjalanan saya dari Jakarta-Solo 15 jam. Jika dihitung, saya kehilangan waktu macet 3-4 jam, istirahat 3 kali masing-masing 1 jam. Total kehilangan waktu 6-7 jam. Waktu itu memang molor jauh dari seharusnya yang bisa ditempuh dalam waktu normal 6-7 jam.



Kembali ke Jakarta

Usai berlebaran di kampung halaman, saya kembali ke Jakarta pada Sabtu, 8 Juni 2019. Hari itu merupakan awal puncak arus balik seperti yang diperkirakan Kementerian Perhubungan. Saya berangkat pagi sekali, pukul 7.00. Dan mengisi penuh BBM RON 92 di SPBU kawasan Solo Baru.

Sesuai perkiraan Kementerian Perhubungan, begitu masuk tol lewat Pintu Tol Colomadu, tak berapa lama berselang langsung tersendat. Mobil hanya melaju pelan dan makin lambat dengan kecepatan 5-10 kilometer per jam setiap bertemu rest area.

Rest Area KM 5B Tol Jatingaleh-Krapyak ditutup karena penuh oleh pemudik arus balik menuju Jakarta, Sabtu, 8 Juni 2019. Pemudik diminta untuk menggunakan Rest Area di sisi kiri Pintu Tol Kalikangkung yang mampu menampung lebih banyak kendaraan dan cenderung sepi. TEMPO/Wawan Priyanto

Kondisi ini nyaris terjadi di hingga Pintu Tol Banyumanik, Semarang. Lepas dari pintu tol ini, perjalanan sedikit lancar dan tersendat kembali di rest area KM 05 Tol Jatingaleh-Krapyak.

Petugas menutup rest area itu karena sudah penuh dan meminta pengemudi untuk melanjutkan perjalanan. "Manfaatkan rest area di sisi Pintu Tol Kalikangkung. Di sana lebih luas dan masih banyak area parkir kosong," kata petugas melalui pengeras suara.

Kontur jalan yang tidak seluruhnya rata dengan permukaan jalan dari beton keras memang menjadi tantangan tersendiri. Beruntung mobil ini dilengkapi dengan kaki-kaki yang nyaman, yakni MacPherson Strut di depan dan Torsion beam dengan coil spring di belakang. Jalan rusak dan sedikit berlubang tak menjadi soal.

Foto udara pintu tol Cikampek Utama pada H+3 Lebaran 2019 pukul 21.25. Antrean kendaraan mencapai lebih dari 20 kilometer. TEMPO/Wawan Priyanto

Arus balik mudik Lebaran 2019 ini memang berbeda dengan saat arus mudik. Waktu yang berhimpitan, hanya dua hari Sabtu-Minggu (8-9 Juni 2019), membuat arus balik menumpuk. Terutama di rest area. Saya kembali mengisi bensin di Rest Area KM 102 Tol Palimanan-Cikopo, tepat pukul 18.00 WIB.

Karena memang indikator bensin di All New Nissan Livina mengingatkan saya untuk segera mengisi bahan bakar. Jarak di odometer menunjukkan angka 437 kilometer. Jadi jika dibandingkan saat berangkat (arus mudik), arus balik kali ini lebih boros. Karena kemacetan memang jauh lebih parah dibanding saat berangkat.

Kepadatan lalu lintas terjadi hampir di sepanjang ruas tol. Puncaknya terjadi mulai dari Tol Palimanan-Cikopo KM 86, hingga Bekasi Barat. Bayangkan, berapa jaraknya.

Tak perlu berpanjang lebar mengulas perjalanan dari KM 86 Cipali hingga putar balik di Jatiwaringin dan finish di Jatibening, rumah saya. Karena isinya hanya kemacetan belakang sepanjang jalan tol itu. Dari titik KM 86 hingga Jatibening, saya membutuhkan waktu sekitar 8 jam! Bensin yang semula saya isi penuh di KM 102, hanya berkurang 2 bar. Total, berangkat dari 6.30 pagi, sampai di rumah pukul 00.30 WIB.

Jarak total di odometer saya selama mudik Lebaran hingga arus balik mencapai 1.350 kilometer.

Simak video puncak arus balik di Cikampek Utama:

 


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT