Toyota Indonesia Siap Produksi Mobil Hybrid
TEMPO.CO | 09/03/2019 08:29
Toyota Camry Hybrid di Toyota Mega Web, Odaiba, Tokyo, Jepang, 26 Oktober 2017. TEMPO/Wawan Priyanto.
Toyota Camry Hybrid di Toyota Mega Web, Odaiba, Tokyo, Jepang, 26 Oktober 2017. TEMPO/Wawan Priyanto.

TEMPO.CO, Jakarta - Toyota Indonesia siap memproduksi mobil hybrid sebagai bagian dari komitmen produksi untuk program low carbon emission vehicle (LCEV). Produksi mobil hybrid dapat dilakukan jika terdapat permintaan konsumen di pasar domestik dan ekspor.

Director Administration, Corporate & External Affairs PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan, kehadiran regulasi kendaraan listrik akan memberi kemudahan bagi konsumen mendapatkan kendaraan ramah lingkungan. Dari sisi produksi, TMMIN siap untuk mengisi kebutuhan konsumen tersebut.

"Produksi intinya regulasi mempermudah konsumen untuk mendapatkan [kendaraan hibrida], tugas kami untuk mengisi kebutuhan konsumen itu," ujarnya kepada Bisnis,baru-baru ini.

Pada awal bulan ketiga 2019, pemerintah menyebutkan akan mengeluarkan aturan terkait LCEV yang juga mengatur kendaraan listrik paling lambat pada April mendatang. Aturan tersebut telah dinantikan pelaku industri karena menjadi arah baru pengembangna produksi kendaraan nasional.

Baca: Penjualan Sedan Lesu, Permintaan Toyota Camry Melonjak

Selain LCEV, pemerintah juga telah menandatangani Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA). Melalui kerja sama kedua negara itu, produk otomotif nasional berpeluang untuk mengisi pasar otomotif Negeri Kangguru.

Australia disebut-sebut membutuhkan kendaraan ramah lingkungan termasuk hibrida dan listrik. Hingga sejauh ini, dengan kebutuhan rerata 1,2 juta unit per tahun, mayoritas kendaraan yang dipasarkan di Australia didatangkan dari negara lain dengan Thailand sebagai salah satu eksportir utama.

Bob mengatakan, industri otomotif Indonesia tidak kalah sama Thailand karena prosesnya hampir sama dari importir menjadi lokalisasi dan kemudian eksportir.

Dia menyebutkan, salah satu tantangan ekspor produk otomotif ke Negeri Kangguru ialah permintaan produk dengan teknologi yang lebih tinggi. TMMIN klaimnya, siap mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar Australia.

"Karena kekuatan suatu negara ialah ekspor produk dengan teknologi tinggi. Otomotif bisa jadi pionir untuk ekspor dengan teknologi tinggi," tambahnya.

Adapun, sejauh ini Toyota juga memasarkan beberapa kendaraan hibrida di Tanah Air. Sayangnya, populasi kendaraan ramah lingkungan itu masih sulit bertambah karena aturan perpajakan yang membuat harga jualan kendaraan hibrida lebih mahal.

Baca: Ini yang Harus Diwaspadai Pemilik Toyota Camry Hybrid

Kendaraan hibrida termasuk plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), juga disebut-sebut menjadi pilihan pertama bagi Indonesia sebelum masuk ke era 100 persen kendaraan listrik berbasis baterai. Salah satu produk andalan untuk model PHEV Toyota ialah Prius PHEV.

Direktur Pemasaran PT Toyota-Astra Motor (TAM) Anton Jimmy Suwandy sebelumnya mengatakan, minat masyarakat terhadap kendaraan hibrida cukup baik tetapi harga yang ditawarkan masih tinggi.

Jika pemerintah mengeluarkan aturan kendaraan listrik di mana kemungkinan terdapat insentif untuk pembelian model hibrida dan kendaraan listrik, maka akan membantu menciptakan pasar.

"Tentu kami masih menunggu [aturan] kami mengajukan hibrida sebagai bentuk kendaraan listrik karena kalau langsung ke kendaraan listrik banyak sekali infrastruktur yang harus dibangun," ujarnya.

Anton menambahkan, salah satu bagian LCEV ialah produksi kendaraan ramah lingkungan. Toyota klaimnya, telah berkali-kali menyatakan siap untuk memproduksi model hibrida di Indonesia.

Adapun, saat ini model kendaraan hibrida yang dipasarkan TAM didatangkan dari Thailand. Beberapa model hybrid yang dipasarkan itu ialah Toyota Alphard, Toyota Camry dan beberapa model lainnya.

"Bagian dari LCEV kan komitmen produksi mobil hybrid, Toyota juga siap kalau ada insentif," tambahnya.

Merujuk pada peta jalan LCEV di Tanah Air, pemerintah mencanangkan produksi lokal kendaraan hibrida dan listrik dapat dilakukan pada 2022. Produksi LCEV ditargetkan sebesar 10 persen dari total produksi pada 2020, kemudian naik menjadi 20 persen pada 2025.


REKOMENDASI BERITA

BERITA TERKAIT