20 Prinsip Kreatif Bupati Abdullah Azwar Anas Memajukan Banyuwangi
Iqbal Muhtarom | 11/09/2019 14:17
20 Prinsip Kreatif Bupati Abdullah Azwar Anas Memajukan Banyuwangi
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas. TEMPO/Fajar Januarta

TERAS.ID, Banyuwangi - Kiprah Abdullah Azwar Anas dalam memajukan Banyuwangi sudah lama dikenal publik. Dari daerah minus yang dipandang sebelah mata, berbau klenik yang bahkan barangkali tidak dipandang sama sekali, kini Banyuwangi menjadi daerah maju dan menjadi rujukan tentang bagaimana memajukan pembangunan daerah.

Kemajuan dan nama harum yang melekat pada Banyuwangi saat ini, bisa dibilang tidak bisa dilepaskan dari sosok Abdullah Azwar Anas, Bupati Banyuwangi yang kini menjabat untuk periode kedua.
Abdullah Azwar Anas menjadi undangan berbagi forum dan diminta menularkan berbagai gagasan dan pengalamannya dalam membangun Banyuwangi.Salah satunya di forum ICCN atau Indonesia Creative Cities Network atau Konferensi Kota Kreatif yang baru saja digelar di Ternate.

Seperti dikutip dari laman Pemerintah Kabupaten Banyuwangi banyuwangikab.go.id, pada konferensi tersebut, Abdullah Azwar Anas memaparkan 20 prinsip kreatif pengembangan daerah.

Anas mengatakan 20 prinsip kreatif itu merupakan rangkuman dari perjalanannya menjadi Bupati Banyuwangi. Program berhasil, program kurang sukses, semuanya kita cari benang merahnya. "Lalu ada 20 prinsip kreatif itu,” ujar Anas Sabtu 8 September 2019.

Anas mengatakan, 20 prinsip kreatif itu bisa dibagi dalam dalam tiga bagian besar, yaitu inovasi, pemasaran daerah, dan kepemimpinan. Dalam bagian inovasi, terdapat enam prinsip kreatif. Di bagian pemasaran daerah ada tujuh prinsip kreatif. Adapun di bagian kepemimpinan ada tujuh prinsip.

Enam prinsip kreatif dalam bagian inovasi antara lain prinsip paradoks, daya saing, mencipta, ATM yang merupakan singkatan amati tiru modifikasi, fokus, dan proaktif.

Prinsip kreatif paradoks, Anas mengubah Puskesmas dari pelayanan orang sakit menjadi mall orang sehat. Kemudian, layanan Puskesmas diubah bukan semata-mata untuk pendapatan asli daerah PAD, tapi program untuk penggerak PDRB.

Anas mencontohkan, dalam prinsip fokus, yang dilakukan adalah semakin terbawah, maka semakin menjadi prioritas teratas. Sehingga lahir program Rantang Kasih yang mendistribusikan makanan gratis setiap hari untuk lansia miskin, uang saku dan tabungan untuk pelajar dari keluarga kurang mampu.

Lalu tujuh prinsip kreatif di bidang pemasaran adalah prinsip semua pemasar, produk, reposisi, endorser, moment of truth, kearifan lokal, dan branding. Anas menyebut prinsip-prinsip itu sebagai anti-mainstream marketing.

Misalnya prinsip semua pemasar, Anas memposisikan semua dinas adalah dinas pariwisata. Ini bukan berarti sektor lain tidak diurus, tapi soal pengemasan.

Dinas Pertanian tetap mengurusi pengembangan pertanian, tapi kemudian difestivalkan. Ini ada kaitannya dengan prinsip produk, yaitu semua lokasi adalah destinasi dan semua program adalah atraksi. "Maka lahir agrotourism yang dikembangkan Dinas Pertanian,” jelas Anas.

Anas mencontohkan prinsip reposisi. Reposisi penting, karena pemerintah harus membalik keadaan. Maka lahirlah program smart kampung. Anggapan orang tentang Banyuwangi yang klenik dan terbelakang sekarang berubah karena pelayanan hingga ke desa sudah berbasis teknologi.

Adapun dalam bagian kepemimpinan, ada tujuh prinsip, yaitu prinsip inspirasi, kecepatan memanfaatkan momentum, eksekusi detil, kolaborasi, pemenang, manusiawi, dan modal sosial.

”Misalnya pada prinsip kolaborasi, kami hilangkan ego sektoral. ASN melebur jadi satu. Yang jadi fokus adalah outcome, bukan rebutan siapa pelaksananya,” ujarnya.

Dengan prinsip-prinsip tersebut, kinerja pembangunan Banyuwangi meningkat. Pendapatan per kapita rakyat melonjak dari Rp 20 juta menjadi Rp 48 juta per orang per tahun. Angka kemiskinan yang sebelumnya selalu dua digit, kini tinggal 7,8 persen.

Ketua Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Fiki Satari mengatakan Banyuwangi diundang tampil di Konferensi Kota Kreatif karena dengan sangat kreatif menjalankan program-program pembangunan.

Banyuwangi dinilai telah membuktikan bahwa kreativitas tidak hanya untuk pariwisata, namun untuk sosial-ekonomi warga, termasuk kemiskinan. "Kreativitas Banyuwangi telah berdampak pada meningkatnya kesejahteraan warga," ujar Fiki.

IQBAL MUHTAROM


BERITA TERKAIT