Biaya Operasional Tinggi, Ambulans Laut Pemkot Makassar Mubazir
KABARMAKASSAR.COM | 29/11/2021 15:12
Biaya Operasional Tinggi, Ambulans Laut Pemkot Makassar Mubazir

KabarMakassar.com -- Satu unit speed boat bertuliskan “Ambulance Laut” dengan logo Pemerintah Kota Makassar tampak terombang-ambing dimainkan ombak. Kapal bermesin itu sedang ‘diparkir’ di tengah laut, beberapa ratus meter dari Pulau Barang Caddi, Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Sangkarrang, Kota Makassar.

Kapal berbahan fiber yang banyak difungsikan sebagai Puskesmas berjalan tersebut sudah cukup lama lego jangkar di sana, sengaja tidak disandarkan ke dermaga dengan alasan keamanan. Tahun ini, belum ada perjalanan dinas yang dilakukan untuk pengoperasian kapal tersebut.

Ambulans Laut tersebut banyak berisi peralatan kesehatan. Dikhawatirkan jika ditambatkan di dermaga, kapal tersebut rentan dijamah orang yang tidak bertanggung jawab. “Sengaja diparkir di sana supaya tidak dirusak oleh tangan manusia yang tidak bertanggungjawab,” ujar Bidan Asnidar, salah seorang pegawai Puskesmas Barrang Lompo.

Ambulans laut tersebut sebenarnya mulai dioperasikan sejak 2017 silam.Pengoperasiannya di bawah koordinasi Puskesmas Barrang Lomp, Kec. Sangkarrang. Jadi, jika tidak digunakan, ambulans laut tersebut ditambatkan di perairan sekitar Pulau Barrang Caddi.

Awalnya, kehadiran ambulans laut itu memberi angin segar dan harapan bagi warga pulau. Pemerintah Kota Makassar pun memproyeksikan jika pengoperasian ambulans laut ini sangat efektif karena dinilai sangat mendukung aktivitas pelayanan kesehatan antar pulau di Makassar.

Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto saat itu mengungkapkan, ambulans Laut yang ia luncurkan di awal kepemimpinannya di periode pertama itu tentu sangat bermanfaat untuk mengantisipasi adanya pasien yang perlu mendapatkan perawatan serius di rumah sakit di Kota Makassar.

"Walau baru tersedia satu unit, ambulans ini bisa menjadi solusi pada situasi darurat. Terutama saat masyarakat pulau harus segera dirujuk ke pusat kota untuk memperoleh perawatan yang lebih lengkap," kata Danny saat peluncuran, Rabu 24 Mei 2017 (dikutip dari rilis resmi humas Pemkot Makassar).

Masyarakat membayangkan pelayanan kesehatan yang cepat jika ada yang butuh perawatan darurat. Begitu pula, jika ada pasien yang harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit yang ada di Makassar, kapal motor dengan kecepatan tinggi itu bisa digunakan

“Di pulau itu sangat dibutuhkan tindakan medis yang cepat, kalau ada speed boad itu sangat berarti bagi masyarakat dan sangat terbantu. Istri saya bahkan malam-malam mau melahirkan pake speed,” tutur Haji Dahlan, seorang warga Pulau Barrang Lompo yang berprofesi sebagai nahkoda kapal angkutan ini.

Pemkot Makassar pun sangat berharap banyak dengan adanya ambulans laut tersebut. Persoalan jarak untuk memberi layanan kesehatan bagi warga pulau bisa diatasi.

Sayangnya, harapan warga pulau untuk bisa menikmati layanan maksimal ambulans laut terbentur beberapa persoalan. Biaya operasional yang dibutuhkan sangat tinggi, sementara anggaran yang disiapkan Pemerintah Kota Makassar sangat kecil.

Sebagai gambaran, dalam satu kali perjalanan dari Pulau Barrang Lompo ke Makassar, dibutuhkan biaya sekitar Rp1,2 juta untuk pengoperasian ambulans laut tersebut. Dalam setahun, hanya dioperasikan dua hingga tiga kali. Itupun tergantung cuaca. Khusus di tahun 2021 ini, ambulans laut baru digunakan satu kali yakni pada bulan Juli lalu.

“Jadi untuk saat ini hanya bisa beroperasi dua hingga tiga kali setahun. Khusus selama 2021 ini kami baru satu kali keliling. Kalau nggak salah Juli,” kata seorang tenaga kesehatan Puskesmas Barrang Lompo, Asnidar.

Dia mengatakan, sebenarnya respons masyarakat pulau terhadap hadirnya layanan ambulans laut ini sangat baik. Mereka yang harus berobat tidak perlu lagi naik perahu kecil yang disebut “jolloro” untuk ke fasilitasi kesehatan (faskes).

Sekali berkeliling, kata Asnidar, warga pulau yang dilayani bisa mencapai ratusan orang dengan jangkauan hingga pulau-pulau terluar Makassar. Namun siapa sangka, hal ini justru menjadi sebuah masalah baru terhadap operasional ambulans laut. Bagaimana tidak, kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) menghabiskan porsi anggaran paling besar dalam operasional ambulans laut.

Menggunakan dua mesin, setiap mesinnya berkapasitas 200 PK, BBM yang digunakan dalam sekali beroperasi mencapai500 hingga 600 liter. Jumlah itu hanya mampu menempuh perjalanan hingga 13 kilo meter.

Kondisi ini juga telah lama dikeluhkan oleh anggota legislatif Makassar, hanya saja mereka belum memberikan rekomendasi yang tepat ke Pemerintah Kota Makassar, khususnya Dinas Kesehatan.

“Belum ada kita kasi rekomendasi ke pemerintah kota, karena memang itu Pemkot punya, silahkan saja Pemkot memanfaatkan seperlunya, tapi kemudian tidak termanfaatkan dengan baik  dan memang biaya operasional pemanfaatannya terlalu tinggi dan biaya perawatan pemelihatraannya,” ujar Abdul Wahab Tahir selaku anggota komisi D DPRD Makassar saat dikonfirmasi, Senin (15/11).

Selain itu, anggota dewan dari Fraksi Partai Golkar ini juga menyebut jika anggaran Rp95 juta dalam setahun untuk operasional ambulans laut sepertinya tidak efektif.

“Saya belum tahu ada anggaran atau tidak, kita belum lihat Ranperda-nya, mungkin lusa baru kita tahu ada anggarannya tidak, kita periksa Ranperdanya. Kalau anggaran segitu tidak dapat, boat ambulans begitu tidak dapat itu, tapi saya lihat dulu anggarannya di Ranperda kira-kira lusa lah,” bebernya.

Wahab pun menyarankan agar Pemkot Makassar lebih baik mengalihkan barang tersebut ke dinas lain yang membutuhkan. “Yah kalau tidak dimanfaatkan kita serahkan saja ke penanggualangan bencana daerah, itu untuk dimanfaatkan sebagai ambulans resque pertolongan pertama,” tutupnya.

Pemerintah Kota Makassar melalui pos anggaran di Dinas Kesehatan hanya menyiapkan BBM 1000 liter untuk penggunaan selama sebulan. Bahan bakar yang digunakan untuk menjalankan mesin adalah pertalite.

Sementara untuk mengoperasikan genset sebagai sumber tenaga listrik di atas ambulans laut, pemerintah hanya mengalokasikan anggaran sebesar Rp5.450.000 untuk satu tahun. Pemerintah Kota Makassar juga mengalokasikan anggaran untuk membayar gaji nakhoda kapal setiap bulan.

“Jadi total anggaran yang kami siapkan untuk pengoperasian ambulans laut dalam setahun sebesar Rp94.100.000. Itu sudah masuk juga didalamnya biaya perawatan kapal jika ada kerusakan.Tiap tahun, memang rutin ada anggaran disiapkan melalui APBD,” ungkap Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Makassar, Agus Djaja Said saat berbincang-bincang di ruang kerjanya, di Kantor Dinas Kesehatan, Jalan Alauddin, Kota Makassar, Kamis (12/08/2021).

Dengan anggaran sebesar itu, memang sangat sulit untuk melayani pulau-pulau berpenduduk yang ada di Kota Makassar. Minimal enam pulau yang berada di wilayah Puskesmas Barrang Lompo. Diantaranya Pulau Barrang Lompo, Pulau Barrang Caddi, Pulau Kodingareng, Pulau Lumu-lumu, Pulau Bonetambu dan Pulau Lajukang.

Dia mengaku jika pihak Puskesmas Barrang Lompo kerap mengeluhkan minimnya anggaran yang disiapkan Pemkot Makassar untuk operasional ambulans laut.“Memang itu masih kurang, jika dilihat dari anggarannya sangat minim apalagi kapasitas dua motor mesin satu genset itu membutuhkan biaya besar,” ujarnya.

Sebagai Puskesmas Keliling

Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, memiliki wilayah tidak hanya daratan, namun juga beberapa pulau besar dan  pulau-pulau kecil yang masuk dalam gugusan Kepulauan Spermonde.

Terletak di bagian Selatan Pulau Sulawesi yang dahulu disebut Ujung Pandang, terletak antara 119º24’17’38” Bujur Timur dan 5º8’6’19” Lintang Selatan yang berbatasan sebelah Utara dengan Kabupaten Maros, sebelah Timur Kabupaten Maros, sebelah selatan Kabupaten Gowa dan sebelah Barat adalah Selat Makassar.

Kota Makassar memiliki topografi dengan kemiringan lahan 0-2°(datar) dan kemiringan lahan 3-15° (bergelombang). Luas Wilayah Kota Makassar tercatat 175,77 km persegi. Kota Makassar memiliki kondisi iklim sedang hingga tropis memiliki suhu udara rata-rata berkisar antara 26,°C sampai dengan 29°C.

Kota Makassar adalah kota yang terletak dekat dengan pantai yang membentang sepanjang koridor barat dan utara dan juga dikenal sebagai “Waterfront City” yang didalamnya mengalir beberapa sungai (Sungai Tallo, Sungai Jeneberang, dan Sungai Pampang) yang kesemuanya bermuara ke dalam kota.

Secara administrasi Kota Makassar dibagi menjadi 15 kecamatan dengan 153 kelurahan. Di antara 15 kecamatan tersebut, ada tujuh kecamatan yang berbatasan dengan pantai yaitu Kecamatan Tamalate, Kecamatan Mariso, Kecamatan Wajo, Kecamatan Ujung Tanah, Kecamatan Tallo, Kecamatan Tamalanrea, dan Kecamatan Biringkanaya.

Hampir semua pulau berada di Kecamatan Sangkarrang. Pulau-pulau yang masuk dalam wilayah tersebut ada yang berpenghuni, namun ada juga yang tidak.

Beberapa pulau yang ditempati seperti Barrang Lompo, Barrang Caddi, Kodingareng, hingga Lanjukang, yang merupakan pulau terluar Makassar.

Berbeda dengan warga Makassar yang tinggal di daratan Pulau Sulawesi, akses untuk memperoleh fasilitas dan layanan umum bagi warga pulau sangat terbatas.Termasuk di bidang kesehatan.

“Dulu masyarakat di pulau jarang ke rumah sakit kalau melahirkan, biasanya melahirkan di rumah saja. Sekarang sudah ada pelayanan kesehatan, ada puskesmas di pulau jadi sudah bisa berobat langsung,” ujar Haji Dahlan, warga Pulau Barrang Lompo.

Pemerintah Kota Makassar sebenarnya sudah mendirikan fasilitas kesehatan berupa Puskesmas untuk warga pulau yang ditempatkan di beberapa pulau seperti Pulau Barrang Lompo. Namun bagi warga yang bermukim di pulau terluar seperti Lanjukang, akses untuk ke sana cukup sulit.

Masyarakat harus menempuh jarak hingga 80 kilometer pulang pergi dengan waktu tempuh hingga 5 jam 30 menit. Tak hanya itu, warga juga harus mengeluarkan sewa kapal hingga Rp100 ribu untuk kapal jolloro dan Rp500 ribu untuk speedboat khusus penumpang pasien.

Untuk itu, Pemerintah Kota Makassar menyiapkan satu unit kapal cepat dengan kapasitas mesin 400 PK sebagai ambulans laut. Anggaran pengadaannya berada pada kisaran angka Rp2 miliar.

Bidan Asnidar yang merupakan tenaga kesehatan di Puskesmas Barrang Lompo dan terlibat langsung dalam pelayanan ambulans laut, menjelaskan, ambulans laut difungsikan sebagai puskesmas keliling.

Tenaga medis dan kesehatan yang dilibatkan terbilang cukup lengkap. Mulai perawat, penyuluh, dokter, hingga bidan.“Kalau tenaga kesehatan yang ikut ada dokter umum dua orang, dokter gigi satu, perawat lima, bidan lima, dan promkes petugas gizi satu orang,” katanya.

Sekali beroperasi, ambulans laut akan mengelilingi pulau-pulau seperti Pulau Lanjukang,  Langkai, Lumulumu dan lainnya. Di tempat yang disinggahi, tenaga kesehatan akan memberi pelayanan dasar kesehatan, pemeriksaan ibu hamil, lansia, anak, dan tentu saja warga yang sedang sakit. Momen itu juga digunakan untuk menyosialisasikan program-program Pemkot Makassar, khususnya yang terkait dengan pelayanan kesehatan.

Menurut Asnidar, pelayanan kesehatan yang diberikan rata-rata bersifat umum. Pasien datang berobat dengan berbagai macam keluhan mulai hipertensi, sakit kulit, hingga sakit gigi. Mereka juga kerap melayani nelayan yang mengalami gejala penyakit akibat menyelam terlalu dalam. Seperti dekompresi, hypotermia, vertigo hingga orang yang lumpuh.

Jika ada warga pulau yang membutuhkan layanan kesehatan lebih intensif, maka yang bersangkutan akan dirujuk ke Puskesmas Barrang Lompo. Namun jika tidak bisa diatasi di puskesmas tersebut, dirujuk ke rumah sakit yang ada di Makassar.

Dalam perongoperasiannya, ambulans laut dilengkapi fasilitas standar untuk pelayanan medis. Mulai yang sederhana yakni P3K, tabung oksigen, hingga alat UKG dan USG.Kehadiran ambulans laut ini sangat menolong penduduk pulau untuk memperoleh akses layanan kesehatan.

“Ini, saya lihat jarang digunakan, soalnya biaya mahal, sampai jutaan sekali beroperasi. Tipe mesin kapalnya besar sehingga butuh biaya besar,” ungkap Haji Dahlan yang juga berprofesi sebagai nahkoda kapal penumpang.

Speed Boat Milik Polairud Jadi Andalan

Salah seorang warga Pulau Barang Lompo, Haji Dahlan mengaku selama ini tidak pernah merasakan layanan ambulans laut.Lelaki yang berprofesi sebagai nakhoda kapal tersebut mengatakan sepanjang pengamatannya, ambulans laut itu jarang dioperasikan.

“Ada, pernah ada itu, eh masih ada sampai sekarang. Posisinya diparkir di Barrangcaddi, dekat, hanya 10 menit dari Barranglompo,” ungkapnya.

H Dahlan mengatakan, jika sakit, dia memilih langsung berobat ke Puskesmas Barrang Lompo yang berada depan rumahnya. Dia menilai, selama ini puskesmas tersebut cukup memadai dalam memberikan layanan kesehatan.

“Kalau saya sakit, cukup ke Puskesmas, kadang penyakit ringan seperti batuk, asma, demam, nyeri sendi dan lain-lain langsung ke Puskesmas, kebetulan rumah saya berhadapan dengan Puskesmas,” tuturnya.

Jika ada yang butuh penanganan medis lebih intensif dan harus dirujuk ke rumah sakit yang ada di Makassar, biasanya pasien akan dibawa menggunakan speedboat milik PolairudKepolisian Daerah Sulawesi Selatan.

“Kebetulan ada speedboatPolairud yang bekerjasama di sana, artinya (bagi) masyarakat sangat terbantu. Istri saya bahkan malam-malam mau melahirkan pake speedPolairud,” bebernya.

Dia menilai kehadiran ambulans laut selama ini belum terlalu efektif dalam memberi pelayanan bagi warga pulau. Seharusnya, karena namanya ambulans, harus betul-betul berfungsi seperti ambulans yang ada di darat. Bisa mengantar pasien ke layanan kesehatan rujukan.

Dia mengatakan, jika Pemerintah Kota Makassar ingin mengoperasikan ambulans laut, sebaiknya memilih kapal yang tidak terlalu mewah dan besar. Karena biaya operasional serta perawatannya akan lebih tinggi. Akibatnya, kehadiran ambulans laut itu jadi mubassir karena jarang difungsikan.

 “Harapan saya kalau misalnya ada pengadaan lagi, jangan terlalu mewah, karena mubazir juga, kalau misalnya ada, tapi tidak difungsikan, karena yang ada sekarang hanya diparkir saja tidak jalan. Itu karena biaya BBM nya, belum lagi ada biaya perawatan,” tandas H Dahlan.

Terombang-Ambing di Dermaga

Ambulans laut milik Pemerintah Kota Makassar lebih sering berdiam di dermaga. Karena ketiadaan biaya operasional, kapal cepat seharga Rp 2 miliar itu hanya berlayar dua atau tiga kali dalam setahun.

Tender Ambulans Laut
- Nama Proyek: Pengadaan Alat-alat Angkutan Darat Bermotor Ambulance (kapal motor) oleh Dinas Kesehatan Kota Makassar
- Pelaksanaan Tender: 18 Agustus 2016
- Nilai Pagu Paket : Rp 2.101.102.000, dengan Nilai HPS Paket Rp2.069.000.000
- Peserta lelang:
CV. Jaya Sejahtera Perkasa penawaran Rp1.893.254.000
PT. Maraphon Pasific Marines(tidak ada penawaran)
PT Samudra Indoraya Perkasa penawaran Rp.2.027.630.000,00
CV Deka Cipta Sarana, PT. Rajawali Jayasakti Constrindo, PT. Wahana Abadi Pertama, PT Siagang Bersama Machineri, CV. SinFar Surya, CV. Jaslin Konstruksi, CV Gowa Jaya Raya, CV. Sinar Stainless, CV. Jagad Raya Famili
- Pemenang tender: CV. Jaya Sejahtera Perkasa (Rp1.893.254.000)

Spesifikasi Kapal

Terdapat dua mesin, masing-masing 200 PK hingga total 400 PK

Fasilitas
- 1 unit genset
- Perlengkapan P3K
- Tabung oksigen
- Infus
- Peralatan perawatan gigi
- UKG dan USG

Tenaga Kesehatan
- Dokter umum: 2 orang
- Dokter gigi: 1 orang
- Perawat: 5 orang
- Bidan: 5 orang
- Petugas gizi: 1 orang

Kebutuhan BBM Ideal
1.000 liter pertalite per bulan
Satu kali perjalanan menghabiskan 500-600 liter untuk jarak tempuh 13 kilometer

Jarak Tempuh Terjauh
Pulau Lanjukang: 40 kilometer (80 kilometer pulang-pergi)

Anggaran Disediakan
Rp 94 juta setahun

Jangkauan Layanan (Bisa pakai gambar peta)
- Pulau Barrang Lompo
- Pulau Barrang Caddi
- Pulau Kodingareng
- Pulau Lumu-lumu
- Pulau Bonetambu
- Pulau Lajukang

Operasional
3 kali dalam setahun
Tahun 2021 baru digunakan satu kali pada Juli

kabarmakassar.com


BERITA TERKAIT