Destinasi Wisata Tana Toraja Berlakukan Protokol Kesehatan Ketat
KABARMAKASSAR.COM | 04/12/2020 16:01
Destinasi Wisata Tana Toraja Berlakukan Protokol Kesehatan Ketat
Seorang wisatwan berselife dengan latar belakang awan di lokasi wisata alam negeri diatas awan, tongkonan Tempe, Toraja Utara, 25 Desember 2017. Negeri diatas awan ini menjadi salah satu wisata baru yang menjadi andalan Toraja Utara. TEMPO/Iqbal Lubis

KabarMakassar.com -- Kabupaten Toraja Utara merupakan daerah wisata yang paling banyak dikunjungi saat akhir pekan dan juga libur panjang, sejumlah destinasi wisata yang ada di Bumi Pongtiku itu memang menarik, sehingga tak dapat dipungkiri jika wisata di Toraja Utara paling diminati di Sulawesi Selatan.

Sejak ditetapkan jadi wilayah Zona Hijau di akhir Oktober 2020, jumlah wisatawan ramai ke Toraja Utara untuk menikmati pemandangan "negeri diatas awan" Lolai, Tongkonan Lempe. Tak hanya itu beberapa obyek wisata lainnya seperti Kete'Kesu atau kampung adat, dimana didalamnya ada tongkonan atau rumah adat yang berjejer rapih serta kubur yang berada di didinding batu (tebing) yang sudah ratusan tahun lamanya.

Meski ramai dikunjungi wisatawan, namun Pemerintah Toraja Utara tidak lengah dalam penanganan penyebaran covid-19 di wilayahnya. Ada beberapa strategi dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toraja Utara mulai dari memeriksa warga pendatang yang masuk ke wilayah tersebut, serta menerapkan protokol kesehatan di semua lini, baik di Obyek Wisata maupun di hotel tempat menginap para wisatawan.

Sejak awal Pemkab Toraja Utara melakukan pemantauan ditiap titik bagi pendatang yang ingin masuk di Toraja Utara. Ada strategi yang dilakukan pejabat pemerintah agar tidak adanya warga yang terpapar covid-19.

Penjabat sementara (Pjs) Bupati Toraja Utara Amson Padolo memulai dari kesadaran masyarakat untuk memperketat wilayah masuk desa atau lembang. Pihaknya melibatkan kepala desa atau lembang dan tetua adat untuk menjadi Satgas diwilayah masing-masing.

"Setiap kampung, atau kami menyebutnya disini lembang, kita perketat dan pastinya semua terlibat baik kepala lembangnya, tetua adatnya termasuk juga warga yang turut serta menekan penyebaran virus covid-19 ini," kata Amson Padolo kepada KabarMakassar.com

Amson menambahkan jika setiap kampung ada posko pemeriksaan untuk memeriksa setiap warga pendatang yang masuk, dan hal ini sekaitan juga dengan para wisatawan yang melintas dan ingin menuju daerah wisata.

Pemkab Toraja Utara dan Forkopimda sejak awal memang melakukan koordinasi ditiap-tiap kampung, protokol kesehatan terus diterapkan sehingga wilayah Toraja Utara ini dinyatakan zona hijau.

Obyek Wisata Diperketat

Pjs Amson Padolo melakukan tracking secara terstruktur, dimulai dari hunian hotel atau wisma tempat wisatawan menginap. Dimana hotel-hotel dan penginapan di Toraja jika akhir pekan serta libur panjang sudah diyakini padat.

Untuk itu Pemkab Torut membagi tugas di wilayah-wilayah yang dipadati wisatawan termasuk di hotel, ada yang melakukan pemantauan dan juga mengukur suhu tubuh para tamu yang datang menginap. Tak hanya itu imbauan untuk menerapkan 3 M, mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker juga disampaikan tim satgas.

Protokol kesehatan kesehatan yang ketat menjadi prioritas bagi Pemkab Toraja Utara. Bahkan hunian hotel pun telah dibatasi, hal itu juga telah dilakukan koordinasi dengan pihak hotel agar para tamu tidak berkumpul di hunian tersebut, termasuk dengan makanan di hotel tersebut dibatasi oleh jadwal yang ditentukan pihak hotel.

Lokasi obyek wisata pun juga dibatasi, seperti misalnya wisata panorama alam Lolai' atau negeri diatas awan yang harus dibatasi pengunjungnya hingga 50 persen dari kapasitas area tersebut. Termasuk didalamnya pengunjung yang menginap di bungalow.

Jam kunjungan wisata juga diperketat, hal tersebut dilakukan pihak Pemkab Toraja Utara untuk menghindari kerumunan bagi wisatawan yang berkunjung serta tak mengijinkan masuk area wisata jikalau tak menggunakan masker serta mencuci tangan sebelum masuk.

"Sebelumnya memang kami berkoordinasi dengan pengelola obyek wisata dan juga pihak hotel di Toraja Utara, ada protokol kesehatn yang kami perkuat sehingga hal ini bisa kami laksanakan demi memulihkan ekonomi masyarakat," kata Amson.

Sektor pariwisata memang menjadi sektor yang perlu mendapat perhatian khusus. Guna mencegah lonjakan kasus Covid-19 di Toraja Utara, pemerintah setempat memaksimalkan seluruh tim satgas Covid-19 untuk melakukan pengawasan langsung di lapangan.

Upacara Adat (Rambu Solok)

Pesta adat atau upacara kematian di Toraja tidak lepas dari kehidupan masyarakat Toraja, dimana adat ini untuk menghormati orang yang terkasih meninggal dunia. Kerumunan orang banyak dari pihak keluarga tak terhindarkan. Hal ini menjadi perhatian khusus Pemkab Toraja Utara.

Jubir Satgas Covid-19 Toraja Utara, Anugerah Yaya beberapa waktu lalu mengatakan jika kegiatan upacara adat atau rambu solok di Toraja Utara sudah dilakukan pembahasan baik dari pemkab Tanba Toraja maupun Toraja Utara dan ada kesepakatan yang dilakukan untuk mencegah wabah tersebut.

"Ada 7 poin yang disepakati untuk kami bahas bersama, untukmencegah penularan saat kegiatan rambu solok ini," ujar Yaya.

Ada 7 (tujuh) poin yang menjadi kesepakatan penting untuk mengaminkan kegiatan yang sakral dan dipastikan orang berkerumun tersebut.

Pertama, Kabupaten Toraja Utara dan Tana Toraja intens berkomunikasi dan koordinasi dalam rangka pencegahan penularan wabah Covid-19 dalam wilayah kedua kabupaten.

Kedua, Dinas Infokom dan Dinas Kesehatan kedua kabupaten agar melakukan tukar menukar data dan informasi terkait persoalan masyarakat yang keluar masuk kedua warga kabupaten.

Ketiga, Pemkab dua kabupaten memaksimalkan instruksi Kapolri untuk menghindari kerumunan dengan menunda kegiatan adat Rambu Solo dan Rambu Tuka dan Silaga Tedong (adu kerbau), tidak melakukan judi sabung ayam, menata dan mengatur penjual pasar tradisional dengan tetap dibuka tapi diprioritaskan hanya menjual bahan kebutuhan pokok.

Empat, kedua kabupaten kerjasama dalam meningkatkan kewaspadaan pengawasan di enam batas wilayah pintu masuk yaitu Salubarani, Kaleakan, Batas Kurra-Awan, Batas Rantelemo-Tadonkon, batas Madandan-Langda dan Batas Tumbangdatu-Tallung Penanian.

Kelima, kedua kabupaten segera melakukan langkah persiapan Jaring Pengaman Sosial (JPS) terhadap masyarakat yang terdampak (buruh harian, sopir angkot, tukang ojek dan pedagang kaki lima) dengan memberikan bantuan sembako (diluar masyarakat penerima PKH dan Rastra).

Keenam, meminta kepada Pemkab dan semua stakeholder dan pers agar pro aktif mengedukasi dan sosialisasi tentang status ODP, PDP atau Suspect sehingga tetap diterima dalam lingkungan masyarakat dan tidak dianggap sebagai aib yang harus ditutupi demi kebaikan bersama dalam memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

Ketujuh, kedua Pemkab segera mengambil langkah mempersiapkan lokasi karantina dan tempat pemakaman jika kemungkinan terburuk ada pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia

Hal tersebut yang membuat Toraja Utara hingga kini menjalani aktifitas seperti biasa (new normal) dengan menerapkan protokol kesehatan. Aktifitas di pasar-pasar pun berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Tak hanya itu sekolah-sekolah sebagian sudah buka namun siswa dibatasi jam pelajaran masuk sekolah. Hal tersebut dilakukan pemkab Toraja Utara untuk meminimalisir pneyebaran virus covid-19. 

Bahkan pihak Pemkab Toraja Utara melalui Pjs Toraja Utara Amson Padolo mengatakan, tidak akan pernah berhenti menghimbau masyarakat penerapan 3 M dan mematuhi protokol kesehatan, dan pihaknya juga menghimbau masyarakat serta kepala lembang dan juga camat untuk proaktif ke masyarakat memutus mata rantai covid-19. Bagi Amson, "Kuncinya adalah ada di masyarakat yang mau disiplin," katanya.

KABARMAKASSAR.COM


BERITA TERKAIT