Pak Kades Mengamuk Serang Wartawan Saat Minta Konfirmasi, Apa Sebabnya?
KABARMAKASSAR.COM | 27/05/2020 13:59
Pak Kades Mengamuk Serang Wartawan Saat Minta Konfirmasi, Apa Sebabnya?

KabarMakassar.com — Kepala Desa (Kades) Massewae Pinrang, dilaporkan ke polisi karena diduga mengancam salah satu wartawan Tabloid Sidak, Ramli. Laporan itu buntut dari kejadian di Kantor Desa Massewae pada 16 Mei 2020 lalu.

Ramli mengaku kejadian itu bermula ketika dirinya mengklarifikasi salah satu proyek yang disorot warga di Desa Masswwae. Akan tetapi, Kades Massewae, Ibrahim marah ketika dimintai klarifikasi.

Menurutnya, kejadian disaksikan oleh dihadapan petugas Bhabinsa, Kepala Dusun dan puluhan warga setempat.

“Saya hendak mememintai keterang terkait salah satu proyek yang menjadi sorotan warga. Malah dia mengamuk,” kata Ramli, Selasa (26/5).

Bahkan, kata Ramli, Kades Massewae juga hendak melayangkan beberapa kali pukulan hingga mengambil parang yang ada dalam mobilnya sehingga hampir melukainya.

“Pak Ibrahim ini bahkan nekat melayangkan beberapa kali pukulan. Untung pukulannya tidak berhasil menyentuh badan saya. Bahkan hampir menebas saya dengan parang beruntung ada Babinsa yang menahan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pinrang, Masrul Umar mengaku menyayangkan kejadian tersebut. Ia juga mengecam keras tindakan Kades Massewae.

“Sikap Pak Desa itu tidak bisa dibiarkan, sebagai seorang pemimpin seharusnya Pak Ibrahim harus menjadi contoh teladan,” kata Masrul.

Ia menambahkan bahwa jika wartawan itu dilindungi undang undang nomor 40 tahun 1999 tentang kebebasan pers. Untuk itu, ia berharap pihak kepolisian sigap dan profesional menindak lanjuti laporan korban.

“Ini agar ke depan tidak terulang lagi kasus yang sama terhadap wartawan selaku mitra pemerintah,” katanya.

Dihubungi terpisah, Kades Massewae, Ibrahim mengatakan jika kejadian itu bermula ketika dirinya sedang melayani masyarakat untuk pendataan penerima bantuan Covid-19.

“Namanya juga tidak sengaja Pak, dalam kondisi sama-sama emosi. Karena saat itu saya sedang sibuk melayani masyarakat terkait pendataan bantuan,” kata Ibrahim.

“Kapasitas kami pekerjaan yang rumit dalam pendataan. Tiba-tiba dia datang mau konfirmasi, katanya saya punya masalah. Saya bilang tunggu dulu, saya layani dulu masyarakat,” kata dia.

Ia menjelaskan bahwa jika dirinya diminta agar masuk ke dalam ruangan untuk konfirmasi. “Saya bilang disini saja. Saya bilang kalau ada masalah saya silakan lapor ke pihak yang berwajib disitulah terjadi adu mulut,” katanya.

Ibrahim juga mengakui kejadian itu atas sikapnya karena kondisi yang rumit saat pendataan masyarakat penerima bantuan sosial Covid-19.

Walau demikian, dirinya akan bersikap koperatif jika dipanggil oleh pihak yang berwewenang. “Kalau ada pelaporan saya akan koperatif jika dipanggil untuk dimintai keterangan,” katanya.

KABARMAKASSAR.COM


BERITA TERKAIT