Rumah Sakit Swasta Terancam Kolaps Dihantam Pandemi Corona
KABARMAKASSAR.COM | 19/05/2020 09:40
Rumah Sakit Swasta Terancam Kolaps Dihantam Pandemi Corona

KabarMakassar.com — Sektor dunia usaha di Indonesia menjadi salah satu sektor utama yang paling terpukul akibat adanya pandemi virus Corona atau Covid-19. Khusus di ulawesi Selatan (Sulsel), berdasarkan data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) setempat, hingga 14 Mei sudah ada 1.171 perusahaan di 18 dari total 24 kabupaten/.kota di Sulsel yang terdampak.

Akibatnya, ada sebanyak 15.1919 tenaga kerja yang menjadi korban. Dari jumlah tersebut, 14.740 pekerja dirumahkan, dan 451 pekerja di-PHK.

Tak hanya, sektor usaha yang bersifat industri, pandemi Covid-19 di Sulsel juga memukul sektor usaha di bidang kesehatan. Walaupun tidak separah sektor usaha lainnya, namun beberapa rumah sakit juga dikabarkan ngos-ngosan terancam colaps jika kondisi tak membaik dalam 3-4 bulan kedepan.

dr. Fadli Ananda, owner salah satu rumah sakit swasta di Kota Makassar mengaku, selama pandemi Covid-19 biaya yang harus dikeluarkan untuk operasional rumah sakitnya mengalami peningkatan, sementara jumlah pasien cenderung mengalami penurunan.

“Kami juga sangat terdampak dengan adanya pandemi Covid-19 ini. Karena semakin banyak bahan habis pakai yang digunakan. Seperti masker, dulunya itu hanya dipakai di ruang operasi, tapi sekarang semua bahkan security juga harus pakai itu. Termasuk kebuthan APD lainnya yang juga sekali pakai dan sekarang kebutuhannya meningkat,” kata Fadli dalam sebuah diskusi virtual yang digelar Ahad (17/5) kemarin.

Terlebih, lanjut Fadli, biaya operasional rumah sakit sangat tergantung dari pembayaran BPJS kesehatan yang sampai saat ini masih sering telat.

“80 sampai 90 persen pasien yang datang berobat merupakan peserta BPJS Kesehatan, sementara pembayaran dari pihak BPJS itu sering telat. Ini jelas membuat cashflow rumah sakit menjadi terganggu. Bahkan ada beberapa rumah sakit yang terancam colaps 3 sampai 4 bulan kedepan jika kondisi tidak membaik,” ujarnya.

“Termasuk pembayaran THR tenaga dan petugas medis di rumah sakit, khususnya rumah sakit swasta, juga sangat tergantung dari pembayaran BPJS Kesehatan itu,” sambungnya.

Kondisi ini dibenarkan oleh Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swata Provinsi Sulsel, dr. Basir Palu. Menurut dia, saat ini dari kurang lebih 40 rumah sakit swasta yang ada di Sulsel, hampir 100 persen mengalami penurunan jumlah pasien. Sementara beban biaya operasional dan lain sebagainya yang ditanggung semakin besar.

“Bisnis rumah sakit beda dengan bisnis lain. Selain beban dari bahan habis pakai yang semakin meningkat, cash flow yang terhambat karena lambatnya pembayaran dari BPJS Kesehatan juga semakin menambah beban rumah sakit. Sementara pelayanan harus terus berjalan,” kata Basir.

Saat ini, kata dia, hampir semua Rumah Sakit swasta di Sulsel itu mengalami kesulitan karena penurunan pendapatan.

“Hampir semua Rumah Sakit swasta di Sulsel sekarang ini hanya tinggal 10 sampai 20 persen dari kapasitas pelayanannya selama ini yang masih dioperasikan karena kesulitan dengan kondisi sekarang ini,” ungkapnya.

KABARMAKASSAR.COM


BERITA TERKAIT