Penyakit Corona Bukan Aib, Benarkah Pasien Sembuh Jadi Kebal Serangan Covid-19?
KABARMAKASSAR.COM | 06/04/2020 16:01
Penyakit Corona Bukan Aib, Benarkah Pasien Sembuh Jadi Kebal Serangan Covid-19?

KabarMakassar.com — Hingga Ahad (5/4) pukul 19:00 WITA, dari total 82 pasien di Sulsel yang terkonfirmasi positif terinfeksi virus Corona (Covid-19), sebanyak 19 diantaranya sudah dinyatakan sembuh, 56 masih dirawat dan 7 lainnya meninggal dunia.

Semua pasien yang dinyatakan sembuh itu sudah diperbolehkan pulang. Namun, mereka tetap diminta untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari lagi di rumahnya masing-masing.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, dr. Muhammad Ichsan Mustari mengatakan, setelah sembuh, pasien positif Covid-19 ini akan menjadi kebal dari serangan virus yang sama.

“Ini kabar gembira bagi para pasien positif Covid-19 yang sudah sembuh. Setelah dinyatakan sembuh, maka orang tersebut akan kebal dengan virus itu,” kata Ichsan melalui video conference, Ahad (5/4) malam.

“Kebal artinya, pada diri orang tersebut sudah muncul dan ada antibodi untuk melawan virus yang masuk, sehingga tidak terinfeksi lagi,” jelasnya.

Olehnya itu, Ichsan yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Sulsel itu meminta masyarakat tidak memberikan stigma negatif dan mengucilkan para pasien Covid-19.

“Penyakit ini bukan aib, dan masyarakat harus paham itu. Pasien yang sudah benar-benar sembuh itu tidak bisa menularkan Covid-19 ke orang lain, karenaa di tubuhnya memang sudah tidak ada virus itu,” ujarnya.

Terkait cukup tingginya angka kematian akibat kasus Covid-19 di Sulsel (7 pasien positif dan 13 PDP meninggal dunia), Ichsan mengatakan, semua pasien yang meninggal itu memiliki penyakit penyerta, seperti Jantung, paru-paru, hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit kronis lainnya.

“Semua pasien Covid-19 yang meninggal di Sulsel ini, semuanya karena punya penyakit penyerta lainnya. Covid-19 ini hanya memperberat,” ungkapnya.

Lebih jauh Ichsan mengatakan, penyebaran Covid-19 di Sulsel tidak akan bisa dihentikan jika masih ada bagian dari masyarakat yang tidak patuh untuk melakukan physical distancing dan lain sebagainya seperti apa yang menjadi imbauan pemerintah.

“Berhenti atau bisa tidaknya pemotongan mata rantai penyebaran virus ini sangat tergantung pada kebersamaan dan kekompakan seluruh elemen masyarakat untuk sama-sama disiplin melakukan physical distancing dan mengikuti imbauan pemerintah,” imbuhnya.

“Physical distancing ini bisa sampai 80 persen memutus rantai penyebaran Covid-19. Kalau kita tidak disiplin, berarti setiap orang di Sulsel bertanggungjawab atas semakin tingginya angka kasus dan jumlah kematian akibat covid-19 ini,” sambungnya.

Sekadar diketahui, jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di Sulsel hingga saat ini jumlahnya sebanyak 263 orang (229 dirawat, 21 sehat, 13 meninggal). Sedangakan Orang Dalam Pemantauan (ODP) jumlahnya sebanyak 2.166 orang (1.653 proses pemantauan, 513 selesai pemantauan).

Selain menunjukkan berjalannya proses tracing contact yang dilakukan oleh pihak pemerintah dalam hal ini Gugus Tugas Penanganan Covid-19, tingginya jumlah ODP dan PDP ini juga menjadi gambaran bahwa masih ada masyarakat yang belum disiplin untuk menjalankan imbauan pemerintah untuk melakukan physical distancing dan mengurangi aktivitas di luar rumah jika memang tak ada keperluan yang mendesak.

KABARMAKASSAR.COM


BERITA TERKAIT