Satpol PP Kota Makassar Persoalkan Penggunaan Absen Elektronik untuk Menghitung Tunjangan
KABARMAKASSAR.COM | 27/02/2020 15:00
Satpol PP Kota Makassar Persoalkan Penggunaan Absen Elektronik untuk Menghitung Tunjangan
Pj Walikota Makassar, Iqbal Suhaeb (/int)

KabarMakassar.com — Pj Walikota Makassar, Iqbal Suhaeb angkat bicara soal unjuk rasa yang dilakukan anggota Satpol PP hingga berujung terjadinya keributan di Rujab Walikota Makassar, Rabu (26/2) kemarin.

Iqbal mengatakan, kejadian tersebut dipicu oleh kurang tersosialisasinya dengan baik sistem absensi yang baru diberlakukan, sehingga menyebabkan sejumlah pegawai, khususnya anggota Satpol PP merasa khawatir honornya tidak diterima atau dipotongan karena tidak melakukan absensi. Utamanya mereka yang bertugas di luar kantor.

“Selama ini sosialisasi yang dilakukan BKPSDM hanya kepada operator pengelola sistem yang ada di masing-masing unit kerja saja. Akibatnya, banyak pegawai yang belum paham. Kita sudah perintahkan untuk dilakukan sosialisasi secara menyeluruh pada hari Senin depan,” kata Iqbal.

“Kita minta kepada Satpol PP untuk tidak perlu lagi cemas jika tidak melakukan absen eletronik, karena itu bisa diganti dengan absen manual, khususnya yang bertugas di luar kantor,” tambahnya.

Sementara, Asisten 1 Pemkot Makassar, Sabri yang juga ada di lokasi saat keributan (adu mulut) antara Kepala Satpol PP dengan salah seorang staf BKPSDM terjadi di Rujab Walikota mengatakan, penutupan pintu pagar kantor Walikota yang sempat dilakukan oleh sejumlah anggota Satpol PP adalah sebuah kesalahan. Meski begitu, kata dia, ada situasi psikologis yang mestinya dimaklumi.

“Tentu saya sebagai atasannya mengakui itu sebuah kesalahan, dan saya meminta maaf. Namun harus kita pahami bahwa ada situasi psikologis yang dialami pasukan kita di bawah yang selama ini bekerja 20 jam. Mereka tertekan dengan sistem yang baru itu, makanya saya segera datang menemui, menenangkan mereka agar jangan anarkis,” kata Sabri.

Menurut dia, sebenarnya peristiwa ini lebih kepada persoalan misskomunikasi di dalam SKPD.

“Mereka itu banyak di lapangan, mana bisa mereka langsung paham. Apalagi tidak disosialisasikan dengan baik. Tapi dalam situasi begini tiba-tiba ada muncul di luar mengajak berdebat, memperlihatkan berbagai macam ini dan itu, padahal situasi psikologis anggota kita sedang tertekan. Dan ketika ditanya cenderung menyalahkan, makanya saya cepat menegur, agar situasi tidak berkembang yang bisa menyebabkan eskalasi meluas,” ujarnya.

Sebagai solusi sementara dari permasalahan ini, lanjut Sabri, anggota Satpol PP yang masih bermasalah (absesnsinya) disarankan untuk absen manual dulu, sambil menunggu sosialisasi yang lebih massif.

“Kita Jangan berharap setiap orang langsung bisa menguasai setiap teknologi baru yang muncul, itu butuh proses. Apalagi yang selama ini tugasnya di lapangan, waktunya kapan untuk melakukan itu. Kita harus sadar, mereka itu bekerja dengan tugas berat, kadang kena busur, belum lagi pendapatan yang tidak seberapa. Mereka ini tidak sama dengan yang bekerja di dalam kantor, di ruang ber AC, atau di belakang meja, ini yang harus kita pahami bersama,” ucapnya.

KABARMAKASSAR.COM


BERITA TERKAIT