Rumitnya Menangani Pernikahan Dini di Lombok, Terkendala Norma Adat?
GERBANG.CO.ID | 28/09/2020 12:30
Rumitnya Menangani Pernikahan Dini di Lombok, Terkendala Norma Adat?
Ilustrasi pernikahan. (Pixabay.com)

GerbangIndonesia, Lotim – Kasus pernikahan dini di Lotim terus meningkat. Berdasarkan data UPTD PPA Lombok Timur, selama 2020 ini sebanyak 16 kasus pernikahan dini di Gumi Patuh Karya tersebut.

KTU UPTD PPA Lombok Timur, Dyah Pujiyuwana menjelaskan, kasus yang saat ini masih ditanganinya yakni pengantin yang baru menginjak 13 tahun. Pengantin wanita berinisial RA ini baru kelas VII SMP. Sedangkan pengantin laki-laki baru berumur 17 tahun.

“Si cowok HI ini juga putus sekolah,” ujar Pujiyuwana saat di temui di kantornya, Selasa (22/9).

Dikatakan Puji, kasus tersebut bermula ketika HI mengajak RA jalan-jalan Sabtu (19/9) hingga pukul 00:00 wita. Hal ini membuat keluarga perempuan keberatan.

“Saat anak ini pulang, keluarganya ini sudah nunggu di depan rumah dan merasa emosi. Ketika hendak dimarah, anak ini melarikan diri bersama anak laki-laki itu,” ulasnya.

Mengetahui hal tersebut dari salah satu warga, pihak PPA Lotim langsung turun ke lapangan untuk melakukan negosiasi bersama pihak keluarga perempuan agar kasus pernikahan tersebut urung dilakukan.

Namun hingga kini, negosiasi yang dilakukan pihak PPA bersama psikolog, sampai saat ini belum bisa membuahkan hasil. Dimana proses tersebut terkendala adat Sasak.

“Kan adat kita di Lombok ini masih kental, dan si ceweknya juga tidak mau pulang. Dia mau tetap ingin dinikahkan. Kalaupun bisa dipisahkan, keluarga si cewek minta sanksi denda,” tuturnya.

Kasus pernikahan dini yang melibatkan siswa SMP 5 Selong tersebut, merupakan kasus yang ke 11 yang ditangani pihak UPTD PPA Lombok Timur. Padahal pihak sekolah bersama kelurahan setempat rutin melakukan sosialisasi tentang bahaya pernikahan dini.

Adapun PPA Lotim sendiri akan terus berupaya untuk melakukan negosiasi bersama RA untuk bisa diajak pulang sehingga pernikahan itu tidak sampai terjadi.

“Kami akat terus berupaya untuk menggagalkan pernikahan anak-anak ini. Kita masih optimis,” tutup Puji.

Sementara salah satu keluarga dari pihak wanita yang enggan dikorankan namanya mengaku tetap menjaga adat Sasak selama ini. Sebab jika mereka tidak dinikahkan akan menjadi isu hangat dan aib bagi keluarga. (gi03)

GERBANGINDONESIA.CO.ID


BERITA TERKAIT