16 Kasus Pernikahan Dini di Lombok, Keluarga Perempuan Malu Bila Anaknya Tak Dikembalikan
GERBANG.CO.ID | 28/09/2020 12:00
16 Kasus Pernikahan Dini di Lombok, Keluarga Perempuan Malu Bila Anaknya Tak Dikembalikan
Ilustrasi pasangan menikah/pernikahan. Shutterstock

GerbangIndonesia, Lotim – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Lombok Timur mencatat sebanyak 16 kasus pernikahan dini di Lombok Timur tahun ini. Empat kasus diantaranya berhasil digagalkan.

Salah satunya pernikahan antara RA 13 tahun kelas VII SMP dengan HI (17) tahun.

“Alhamdulillah RA dan HI berhasil kita pisah. Yang perempuan sudah kami titip di Lembaga Al-Anshory Jerowaru,” ujar Ketua UPTD PPA Lotim, Hj. Nurhidayati, Sabtu (26/9).

Dikatakan Nurhidayati, penitipan itu direncanakan sampai waktu yang tidak ditentukan. Lembaga Al-Anshory juga telah menyediakan sekolah hingga jenjang SMA. Sehingga anak tersebut bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih atas.

Adapun pihak kelurga perempuan menerima dengan ikhlas. Namun pihak keluarga laki-laki diminta untuk membayar denda karena telah membawa anaknya dan membuat surat perjanjian.

“Dendanya Rp 2 juta dan membuat perjanjian yang isinya akan bertanggung jawab bila dikemudian hari akibat dilarikan atau dibawanya anak tersebut terjadi kehamilan,” katanya.

Adapun yang sering menjadi kendala pihak PPA Lotim untuk menggagalkan pernikahan dini tersebut, dikarenakan pihak keluarga perempuan merasa malu jika anaknya dikembalikan. Selain itu para tokoh adat setempat tidak terima.

“Dari tokoh adat yang tua-tua biasanya keberatan, tapi kalau aparat kadus, kades sudah kita pegang dan ingatkan mereka tidak boleh diproses. Lama-lama mengalah juga walau dengan emosi dan konsekwensinya perjanjian,” tandasnya.

GERBANGINDONESIA.CO.ID


BERITA TERKAIT