Survei Persepsi Masyarakat Sumatera Barat Jawab Curhat Megawati Mengapa PDIP Tak Disukai
LANGGAM.ID | 12/10/2020 10:30
Survei Persepsi Masyarakat Sumatera Barat Jawab Curhat Megawati Mengapa PDIP Tak Disukai
Ketua umum PDIP, Megawati Soekarnoputri memberikan pidato penutupan Kongres V PDIP di Sanur, Denpasar, Bali, 10 Agustus 2019. Megawati Soekarnoputri mengakui dirinya sudah memiliki daftar orang-orang yang akan diusulkan menjadi menteri di kabinet Jokowi-Ma'ruf mendatang. TEMPO/Johannes P. Christo

Langgam.id – Lembaga Survei dan Konsultan “Spektrum Politika” merilis survei persepsi masyarakat Sumatra Barat (Sumbar) terhadap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pasca-Pemilu 2019. Temuan lembaga ini, ada tujuh persepsi masyarakat Sumbar terhadap PDIP.

Direktur Data dan Survei Spektrum Politika Andri Rusta dalam pengantar rilisnya pada Minggu (11/10/2020) menyebut keluhan yang sempat terlontar dari Ketua umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri beberapa saat lalu. “Kalau saya melihat, seperti Sumatera Barat, itu saya pikir ‘kenapa, ya, rakyat di Sumatera Barat itu sepertinya belum menyukai PDIP meskipun sudah ada beberapa daerah yang mau, yang meminta, katakan sudah ada DPC-nya, DPD-nya. Tapi kalau untuk mencari pemimpin di daerah tersebut mengapa, kok, masih agak sulit.”

Spektrum Politika merilis, keluhan Mega ini karena rendahnya perolehan suara PDI-Perjuangan dalam Pemilu 2019 di Sumbar. Sehingga tidak bisa mengantarkan wakilnya duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode 2019-2024. Begitu juga perolehan kader utama mereka, Joko Widodo (Jokowi) yang memenangi Pemilu 2019, namun memperoleh suara paling sedikit di Sumbar.

Sehubungan dengan fenomena menurut, Spektrum Politika Institut menggelar survei untuk memberi informasi politik yang sesuai dengan realita yang ada kepada publik. “Dengan demikian diharapkan masyarakat bisa memahami bagaimana dinamika politik yang berlangsung di sekitar mereka,” sebut rilis itu.

Survei dilakukan pada 10-15 September 2020 mengumpulkan data di 19 Kabupaten/Kota yang ada. Riset ini mewawancarai sebanyak 1220 orang responden yang menjadi sampel yang diambil secara bertingkat (multistage random sampling) di seluruh kabupaten/kota yang ada. Sampel diacak secara proporsional dengan memperhatikan jumlah penduduk dan karakteristik penduduk yang ada di kabupaten/kota.

Adapun margin of error dari sampel yang diambil tersebut adalah sebesar 2,9 persen. Untuk menjaga kualitas survei ini, maka quality control juga dilakukan dengan cara menelpon ulang responden untuk mengkonfirmasi jawaban mereka sebelumnya. Quality control survei ini dilakukan terhadap 60 persen dari total sampel yang diwawancarai oleh enumerator sebelumnya.

Berikut temuan survei tersebut:

Ada berbagai alasan yang dikemukakan masyarakat yang sudah kami urut dari alasan yang paling banyak mendapat respons ke alasan yang paling sedikit mendapat respons sebagai berikut.

1. Lemahnya Komunikasi Politik Elite PDI-Perjuangan
Masalah komunikasi politik antara elite dan massa menjadi penting dalam membangun kepercayaan politik masyarakat. Buktinya alasan terbanyak mengapa masyarakat Sumatera Barat tidak mempercayai PDI-Perjuangan sebagai partai politik yang bisa mewakili kepentingannya di lembaga perwakilan politik. Sebanyak 62,3 persen masyarakat merasakan tidak adanya tokoh PDI-P yang mau mendekatkan diri atau mendatangi mereka walaupun hanya sekedar untuk bertegur sapa atau berdiskusi.

2. Lemahnya Figur di PDI-Perjuangan
Masalah lain di partai politik ini adalah tidak adanya tokoh lokal atau daerah setempat yang dikenal oleh masyarakat sehingga berdampak pada kepercayaan politik mereka kepada PDI-Perjuangan. Ini terbukti sebanyak 62 persen masyarakat Sumatera Barat mengatakan mereka tidak pernah tahu dan tidak mengenal tokoh-tokoh PDI-P di daerah mereka. Jelas ini menjadi persoalan penting ke depan bagi PDI-Perjuangan dalam menempatkan kader-kader meraka dalam mewakili kepentingan politik masyarakat di daerah tertentu agar mendapatkan dukungan publik.

3. Aktivitas Politik PDI-P Tidak sesuai dengan Keyakinan Politik Masyarakat
Menariknya sebanyak 60,3 persen masyarakat Sumatera Barat menilai apa yang dilakukan PDI-Perjuangan terkait dengan aktivitas politik partai ini dianggap tidak sesuai dengan keyakinan politik mereka. Jelas ini ada hubungannya dengan manifesto partai banteng moncong putih ini di tengah masyarakat Sumatera Barat.

4. Arogansi Elite PDI-P di tingkat pusat
Masyarakat Sumatera Barat juga memberi penilaian terkait dengan sikap arogansi dan sikap overacting yang sring ditunjukan oleh elite PDI-Perjuangan di tingkat pusat dalam berpolitik. Hal ini juga mempengaruhi persepsi mereka terhadap partai ini. Dari hasil survei ini ternyata ada sebanyak 58,1 persen masyarakat Sumatera Barat yang adanya sikap arogansi dan overacting elite ini sehingga mempengaruhi cara pandang mereka terhadap PDI-Perjuangan.

5. Dominasi Elite PDI-P di pemerintahan
Sebanyak 55,9 persen masyarakat Sumatera Barat menyatakan bahwa pengaruh PDI-Perjuangan terlalu dominan dalam penyelenggaraan pemerintahan Jokowi yang menyebabkan sebagian mereka tidak begitu simpati. Memang terlihat ada korelasi yang positif jawaban masyarakat ini dengan kekalahan telak Presiden Jokowi dalam Pemilu 2019 yang lalu karena adanya dominasi PDI-Perjuangan tersebut.

6. Gagasan/Sikap/Perilaku Elite PDI-P di tingkat pusat yang bermasalah Alasan berikutnya adalah gagasan, sikap dan perilaku politik elite PDI-P di tingkat pusat yang ada dalam pemberitaan di media cetak dan media online yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan masyarakat Sumatera Barat. Ini terbukti sebanyak 48 persen masyarakat tidak menyukai gagasan, sikap dan perilaku politik elite PDI-Perjuangan yang ditunjukan ke publik Sumatera Barat.

7. Menghargai Pluralisme, Namun Mengabaikan Islam
Memang PDI-P dikenal sebagai partai yang mengusung jargon nasionalisme dalam keberagaman (pluralisme). Namun jargon ini memunculkan persepsi dari masyarakat Sumatera Barat bahwa akibat memberi ruang pada pluralisme ini, PDI-Perjuangan justru mengabaikan Islam sebagai keyakinan masyarakat Sumatera Barat yang mayoritas beragama Islam. Sebanyak 44,1 persen masyarakat mempunyai persepsi seperti ini. (*/SS)

LANGGAM.ID


BERITA TERKAIT