5 Puisi Cinta Abadi Sastrawan Sapardi Djoko Damono, Bukan Hanya Hujan Bulan Juni
LANGGAM.ID | 20/07/2020 13:40
5 Puisi Cinta Abadi Sastrawan Sapardi Djoko Damono, Bukan Hanya Hujan Bulan Juni

Langgam.com – Sastrawan Sapardi Djoko Damono telah pergi meninggalkan kita semua kemarin, dalam usia 80 tahun. Namun karya-karyanya di bidang sastra terutama puisi banyak yang dikenang, sepertinya tak lekang oleh waktu.

Berikut lima puisi cinta karya Sapardi Djoko Damono yang populer di masyarakat, seperti dicuplik dari tempo.co.

 
  1. Hujan Bulan Juni Tak ada yang lebih tabah
    Dari hujan bulan Juni
    Dirahasiakannya rintik rindunya
    Kepada pohon berbunga itu.

Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu.

Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu.

  1. Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Aku Ingin merupakan salah satu puisi yang ada di dalam buku Hujan Bulan Juni. Kata-katanya begitu romantis dan mengisyaratkan arti sebuah pengorbanan.

  1. Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak

Mencintaimu harus menjadi aku

Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta ada dalam buku karya Sapardi berjudul Melipat Jarak. Buku yang terbit pada 2015 ini merangkup sejumlah karya Sapardi yang dibuat selama sepuluh tahun terakhir, atau dari 1995.

  1. Pada Suatu Hari Nanti
    jasadku tak akan ada lagi
    tapi dalam bait-bait sajak ini
    kau tak akan kurelakan sendiri

Pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau tak akan letih-letihnya kucari

Puisi ini juga hadir di Hujan Bulan Juni, dan semakin menjadikan buku tersebut sebagai salah satu karya fenomenal Sapardi Djoko Damono.

  1. Yang Fana Adalah Waktu. Kita abadi.
    memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa
    “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
    Kita abadi.

Puisi ini hadir dalam buku kumpulan puisi Perahu Kertas yang terbit pada 1983. (Osh)

LANGGAM.ID


BERITA TERKAIT