Anaknya Derita Meningitis Meninggal, Penjual Sate di Padang Masih Harus Bayar Rp 109 Juta ke RS M Djamil
LANGGAM.ID | 25/02/2020 15:10
Anaknya Derita Meningitis Meninggal, Penjual Sate di Padang Masih Harus Bayar Rp 109 Juta ke RS M Djamil

Langgam.id – Seorang balita bernama Zafran Sharique Lubis (1,5) meninggal dunia di RSUP M Djamil Padang, Minggu (23/2/2020) pagi. Ia meninggal akibat penyakit meningitis atau radang selaput otak dan sumsum tulang belakang.

Anak dari pasangan suami istri M Nizar Lubis dan Khairatul Hayati itu menanggung tagihan rumah sakit yang mencapai Rp109 juta. Pasangan yang bekerja sebagai pedagang sate keliling di Kota Payakumbuh itu bisa memulangkan jenazah anaknya pada sore hari setelah mengurus beberapa urusan di rumah sakit.

Relawan Pemuda Padang Berhijrah, Winna Wahyuni Musdalifah, aktivis yang ikut mengurus kepulangan jenazah Zafran mengatakan sejak dibawa ke Padang akhir Januari lalu uang tagihan rumah sakit menjadi beban keluarga itu. Bahkan, mereka sempat kesulitan membawa jenazah Zafran ke Payakumbuh.

“Zafran sempat mengalami koma karena mengidap penyakit meningitis. Kemudian dirawat di RSUD Payakumbuh hingga sekitar akhir Januari 2020,” katanya, Selasa (25/2/2020).

Meski tak punya kartu BPJS, keluarga tetap nekat membawa berobat, karena kondisinya semakin melemah. Zafran sempat dirawat intensif di tiga rumah sakit tanpa BPJS.

“Awalnya hanya mengalami demam dan muntah-muntah sampai kondisi semakin memburuk. Akhirnya dilarikan ke RS di Payakumbuh. Terdiagnosa menderita meningitis,” katanya.

Zafran sempat dirujuk ke RS Hermina Padang dengan biaya umum. Di sana, mereka juga memiliki tunggakan Rp25 juta. Biaya itu sudah dilunasi dengan bantuan donatur.

Zafran yang masih dalam kondisi koma kemudian dirujuk ke RSUP M Djamil Padang. Pengobatan Zafran terus dilakukan tanpa BPJS.

Sebelumnya, pada 5 Februari, kartu BPJS Zafran disebutkan akan aktif. Hari itu pihaknya sudah mencoba bantuan kepada pejabat di Kota Padang. “Akhirnya ada yang berkomunikasi dengan RS M Djamil dan dijanjikan akan dipindahkan ke BPJS serta biaya yang tercatat telah dikurangi. Tapi ternyata, sampai meninggal malah tagihannya mencapai Rp109 juta,” katanya

Winna merasa aneh, karena saat itu, pejabat itu sudah mendatangi RS M Djamil dan berbicara langsung dengan direksi RS M Djamil. Pejabat ini setahunya sudah berbicara ke Dirut rumah sakit untuk dicarikan solusinya. Dirut itu kata Wina sudah mendatangi pasien, bahwa biaya akan ditangguhkan.

“Ketika itu biaya masih Rp89 juta. Lalu, kami kaget pas dibilang orang administrasi , dananya Rp109 juta lebih,” katanya. (Rahmadi/SS)

BACA SELANJUTNYA DI LANGGAM.ID


BERITA TERKAIT