Inflasi di Padang dan Bukittinggi Disumbang Kenaikan Tarif Ojek Online
LANGGAM.ID | 03/02/2020 16:20
Inflasi di Padang dan Bukittinggi Disumbang Kenaikan Tarif Ojek Online
Pengemudi ojek online tengah menunggu penumpang dikawasan Stasiun Juanda, Jakarta, Jumat, 14 Juni 2019. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memastikan aturan perlindungan keselamatan dan perhitungan tarif ojek online (ojol) akan berlaku paling lambat pekan depan. Tempo/Tony Hartawan

Langgam.id – Badan Pusat Statistik (BPS)  Sumatra Barat (Sumbar) mencatatkan kenaikan tarif ojek online, cabai merah dan bawang merah memicu inflasi di dua kota, yakni Kota Padang dan Bukittinggi yang menjadi barometer ekonomi daerah itu.

Kepala BPS Sumbar, Pitono menyebutkan inflasi daerah itu disebabkan naiknya sejumlah komoditas pokok seperti cabai merah, bawang merah, telur ayam ras, hingga kenaikan tarik ojek online (ojol).

“Kembali cabai merah mempengaruhi inflasi Sumbar, karena memang konsumsi cabai orang Sumbar juga tinggi. Juga tarif kendaraan roda dua online” ujarnya, Senin (3/2/2020).

Data BPS mencatat, cabai merah mengalami kenaikan harga 18,45 persen dari bulan lalu dan berkontribusi 0,21 persen terhadap laju inflasi Kota Padang. Sedangkan Di Bukittinggi naik 2,97 persen dengan kontribusi terhadap inflasi 0,04 persen.

Kemudian, bawang merah naik 15,94 persen di Padang dan 22,06 persen di Bukittinggi, tarif ojol naik paling tinggi di Padang yang mencapai 29,7 persen dengan kontribusi terhadap inflasi 0,06 persen.

Selanjutnya, rokok kretek naik 3,27 persen di Padang dan 1,42 persen di Bukittinggi. Telur ayam ras naik 3,44 persen di Bukittinggi, udang basah meningkat 24,39 persen di Padang.

Dengan begitu, sepanjang awal tahun ini atau per Januari 2020, inflasi Kota Padang tercatat 0,65 persen dan Bukittinggi 0,25 persen. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, inflasi Kota Padang sebesar 2,40 persen dan Bukittinggi 2,03 persen.

Sementara itu, Bank Indonesia Sumbar memperkirakan laju inflasi Sumbar tahun ini lebih stabil pada angka 3 persen plus minus 1 persen.

“Perkiraan kami inflasi Sumbar tahun ini cukup stabil di kisaran 3 persen plus minus 1 persen,” ujar Wahyu Purnama A, Kepala BI Perwakilan Sumbar.

Meski diprediksi stabil, ia mengingatkan kepala daerah dan semua elemen Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk mewaspadai potensi-potensi yang mendorong peningkatan laju inflasi daerah itu, seperti komoditas pokok, cabai merah, bawah merah, beras, dan tiket pesawat terbang.

Pemda juga diminta memastikan ketersediaan pasokan barang yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat, dan memastikan kelancaran distribusi sehingga tidak mengganggu pasokan di pasaran. (Herry Sikumbang/ZE)


BERITA TERKAIT