Dua Anomali dari Gempa dan Tsunami Palu, Tsunami Datang Sangat Cepat Setelah Gempa
DARILAUT.ID | 05/10/2020 09:40
Dua Anomali dari Gempa dan Tsunami Palu, Tsunami Datang Sangat Cepat Setelah Gempa
Kendaraan terguling akibat gempa dan pencairan tanah (likuifaksi) di Kelurahan Petobo di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu, 10 Oktober 2018. Selain mengakibatkan korban jiwa, gempa yang dilanjut dengan likuifaksi juga menghancurkan harta benda korban. ANTARA/Mohamad Hamzah

Darilaut – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengatakan kejadian gempa bumi dan tsunami di Palu dua tahun lalu sangat mengguncang dunia. Peristiwa tersebut sebagai anomali, karena sama sekali di luar dugaan.

“Pertama karena mekanisme patahannya strike slip yang biasanya tidak membangkitkan tsunami, namun dalam hal ini gempabumi Palu mengakibatkan longsor bawah laut dan menimbulkan tsunami, yang kedua karena tsunaminya datang dengan sangat cepat 2 menit setelah gempa terjadi,” kata Dwikorita, Senin (28/9).

Bencana gempabumi dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala 2 tahun lalu tercatat sebagai salah satu bencana paling mematikan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Dwikorita mengatakan, target BMKG ke depan adalah bagaimana peringatan dini tsunami BMKG bisa disampaikan lebih cepat di menit ke 2-3, setelah gempabumi terjadi.

Hal ini disampaikan untuk memperingati 2 tahun peristiwa gempabumi dan tsunami Palu, yang digelar Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG.

Kegiatan ini dalam bentuk Litbang Webinar Series #2 dengan tema “Dua tahun gempabumi dan tsunami Palu: Tantangan dan peluang ke depan!”

Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman baru dari pakar tentang kegiatan serta riset-riset terbaru terkait monitoring dan mitgasi gempabumi dan tsunami.

Kegiatan webinar ini menghadirkan narasumber yang merupakan pakar dalam gempabumi dan tsunami.

Sesi pertama diskusi menghadirkan Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono yang membawakan materi “Perkembangan terkini INATEWS dan InaEEWS“.

Kemudian Dr Aditya Gusman dari GNS New Zealand dengan materi “Riset landslide tsunami dan tantangan mitigasi tsunami di Indonesia“, serta Dr Irwan Meilano dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB yang membawakan materi “Deformasi tektonik di Palu dan sekitarnya“.

Sesi kedua dilanjutkan dengan materi “Kajian seismologi teknik di daerah Palu” yang disampaikan oleh Dr Sigit Purnomo dari Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG.

Dilanjutkan dengan D. Erdinc Saygin dari CSIRO Australia yang mempresentasikan “Onshore and offshore seismic monitoring and imaging with conventional and unconventional sensors“.

Materi terakhir diisi oleh Dr Agustya Adi Martha dari Puslitbang BMKG yang berjudul “Ambient Noise Tomography“.

Melalui webinar ini, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas SDM khususnya operasional BMKG baik yang bertugas di pusat maupun di Unit Pelaksana Teknis (UPT) daerah, dan juga untuk peneliti serta akademisi bidang Geofisika di Indonesia pada umumnya.

Sehingga didapatkan pengetahuan dan pandangan baru yang dapat diterapkan oleh BMKG sebagai usaha untuk meningkatkan kinerja monitoring dan mitigasi gempabumi dan tsunami di Indonesia.

Peristiwa gempabumi dan tsunami Palu terjadi pada 28 September 2018 banyak meninggalkan pelajaran penting yang bisa dijadikan kajian untuk mengurangi risiko kejadian potensial di masa mendatang.*

DARILAUT.ID


BERITA TERKAIT