Kisah Mata Pencaharian Warga Desa Lempuyang Mencari Kerang Muara di Sarang Buaya
BORNEONEWS.CO.ID | 01/10/2020 11:00
Kisah Mata Pencaharian Warga Desa Lempuyang Mencari Kerang Muara di Sarang Buaya
Inilah lokasi warga Desa Lampuyang untuk mencari kerang, ditengah ancaman serangan buaya.

BORNEONEWS, Sampit - Saat ini mayoritas warga Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bekerja mencari ikan dan kerang.

Namun pekerjaan yang mereka lakukan selama ini ternyata tidaklah mudah dan penuh risiko. Karena terancam dengan serangan buaya yang banyak terlihat di sekitar muara hingga Sungai Lampuyang.

Ancaman tersebut terjadi beberapa hari lalu. Yakni kakak beradik yakni Lisna dan Rama, menjadi korban serangan buaya tersebut. Bahkan Lisna haru diberikan perawatan intensif, karena mengalami luka-luka bekas gigitan buaya di kaki kirinya. Sedangkan sang adik mengalami luka cakaran.

Serangan buaya tersebut didapat pada saat keduanya sedang mencari kerang di muara Sungai Lampuyang. Saat itu air sedang dangkal, namun karena malam. Keberadaan buaya tidak terlihat, hingga keduanya mendapatkan serangan dari hewan dilindungi tersebut.

Meskipun begitu, ancaman buaya tersebut bukan menjadi kendala bagi masyarakat. Karena mereka tetap mengais rezeki ditengah ancaman yang terjadi.

Kepala Desa Lampuyang Muksin menjelaskan, warganya memang sudah lama bekerja sebagai pencari kerang. Sedangkan populasi buaya tersebut, memang cukup banyak di sungai tersebut.

"Kalau dilihat, Sungai Lampuyang ini memang menjadi tempat buaya. Karena jika saat malam hari. Maka buaya sangat mudah ditemui bahkan jumlahnya cukup banyak," kata Muksin, Rabu, 30 September 2020.

Meskipun begitu, warganya setiap hari masih melakukan aktivitas pencarian kerang. Bahkan itu dilakukan pada saat malam hari. Dengan jumlah warga yang bisa mencapai puluhan orang, yang dibagi menjadi beberapa kelompok.

"Mereka berangkat sore hari menggunakan kelotok. Setelah itu, baru menceburkan diri di muara yang dangkal dengan berkelompok, guna mencari kerang untuk dijual," ujar Muksin.

Aktivitas pencarian kerang ini dimulai sekitar pukul 15.00 WIB hingga pukul 01.00 WIB dini hari. Hasil yang didapat mulai dari 10 kilogram paling sedikit, hingga 50 kilogram kalau lagi panen per orang.

"Harga jual sendiri yakni Rp 10 ribu per kilogram kepada pengepul. Dan pekerjaan itu merupakan yang utama dilakukan oleh masyarakat kami," terang Muksin.

Hal itulah yang membuat warganya hingga saat ini masih berani mengais rezeki ditengah ancaman buaya. Karena hasil yang didapatkan, sangat membantu perekonomian mereka. (MUHAMMAD HAMIM/B-5)

BORNEONEWS.CO.ID


BERITA TERKAIT