Ratusan Ayam Ras Petelur dari Dana Desa Tak Kunjung Bertelur, Bisa Jadi Karena Ayam Stres
BORNEONEWS.CO.ID | 13/07/2020 16:15
Ratusan Ayam Ras Petelur dari Dana Desa Tak Kunjung Bertelur, Bisa Jadi Karena Ayam Stres
Ilustrasi peternakan ayam. Sumber: The Straits Times

BORNEONEONEWS, Tamiang Layang - Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barito Timur, Riza Rahmadi turun lapangan untuk melihat langsung permasalahan budidaya ayam ras petelur yang dihadapi Pemerintah Desa Murutuwu.

Dalam kunjungan ini Riza Rahmadi didampingi dokter hewan Rizaldi dan Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Paju Epat, Lukmanul Chakim.

Diketahui, hingga berusia lebih dari 20 minggu, 160 ekor ayam ras petelur yang di budidayakan Pemerintah Desa Murutuwu dengan menggunakan dana desa hanya 1 ekor ayam dan di antaranya yang bertelur, padahal usia produksi ayam petelur dimulai pada umur 18 Minggu.

"Saya sebagai penanggung jawab pemberdayaan masyarakat khususnya sektor pertanian dalam hal ini peternakan, turun ke lapangan untuk bersama menganalisis sumber masalah yang dihadapi pemerintah desa sekaligus memberikan solusi," kata Riza Rahmadi di Desa Murutuwu, Minggu 12 Juli 2020.

Dia berterima kasih kepada kepala desa maupun masyarakat yang telah menyampaikan masalah yang dihadapi dalam budidaya ayam ras petelur sehingga dapat dicarikan solusinya.

"Yang penting selalu ada komunikasi semua lintas sektor untuk keberhasilan pemberdayaan di desa, selain itu desa yang akan mengembangkan budidaya ayam petelur sebaiknya konsultasi ke dinas pertanian agar diberikan pelatihan sekaligus pendampingan," imbuhnya.

Sementara itu Rizaldi mengungkapkan masalah yang ditemukan pada budidaya ayam ras petelur yang dikelola Pemerintah Desa Murutuwu, sehingga menyebabkan ayam tidak bertelur di antaranya kesalahan peletakan tempat minum.

"Tempat minum yang seharusnya di luar boks ditempatkan di dalam boks, sehingga ayam selalu basah dan menyebabkan stres. Kalau ayam yang dalam kondisi stres tidak bisa memproduksi telur," katanya.

Berikutnya pengelola juga belum memiliki pengetahuan tentang manajemen pakan. "Pakan harus pas takarannya, kalau kurang ayam menjadi kurus, kalau berlebih ayam menjadi kegemukan dan malas bertelur," kata dia.

Rizaldi juga menemukan jika pengelola budidaya ayam petelur mencampurkan pakan baru dengan pakan sisa dari hari sebelumnya. 

"Harusnya dibersihkan dulu, kalau langsung dicampur dengan pakan sisa resiko berjamurnya tinggi dan resiko penyakit terhadap ayam juga tinggi," katanya.

Sebagai solusi bagi permasalahan yang dihadapi Pemerintah Desa Murutuwu, Rizaldi rekomendasikan untuk merubah posisi tempat minum, mengatur ulang pola pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan ayam serta membersihkan sisa pakan yang lama sebelum diberikan pakan yang baru. "Kita berharap dengan pengelolaan yang benar ayam-ayam itu segera bertelur," kata dia. (BOLE MALO/B-6)

BORNEONEWS.CO.ID


BERITA TERKAIT