Cerita Haili Hilang 3 Hari Usai Menambang Emas, Mengaku Berada di Tempat yang Tak Ada Siang dan Malam
BORNEONEWS.CO.ID | 03/02/2020 10:50
Cerita Haili Hilang 3 Hari Usai Menambang Emas,  Mengaku Berada di Tempat yang Tak Ada Siang dan Malam

BORNEONEWS, Kasongan - Haili (35), warga Desa Kampung Tengah, Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan yang sebelumnya dilaporkan hilang sejak Kamis, 30 Januari 2020 akhirnya ditemukan oleh warga di atas pohon tepi Sungai Bakung pada Minggu, 2 Februari 2020.

Saat ini, Haili masih dirawat di Puskesmas Pegatan 1 karena kondisi tubuhnya lemas. Haili merupakan warga kelahiran Pegatan Hulu Kecamatan Katingan Kuala. Namanya sempat heboh karena dilaporkan keluarganya hilang sejak sore harinya.

Kepada wartawan saat di puskesmas, Haili mengaku jika dirinya saat itu ingin pulang dari tempatnya bekerja di Kelaru Desa Telaga lewat Pelabuhan Kereng Pakahi, Kecamatan Kamipang.

Sesampainya di Desa Mendawai, ia berkeinginan melanjutkan perjalanan ke Pegatan Kecamatan Katingan Kuala menggunakan sepeda motor.

Namun dirinya seperti tidak tahu sama sekali arah jalan yang diluinya, karena waktu itu kondisinya hujan lebat.

Ia merasa ada yang mengendalikan motor yang ia jalankan itu ke suatu tempat yang lokasinya tidak dikenalnya.

Karena merasa tempat yang ia tuju tidak sampai-sampai, ia kemudian memutuskan untuk berjalan kaki. Sedangkan motornya ditinggal begitu saja.

"Saya tidak tahu di mana motor itu ditinggalkan. Saya hanya terus berjalan ke suatu tempat yang kondisinya keadaan terang," kata Haili.

Menurutnya, saat dirinya tersesat sempat merasa lapar dan kehausan. Ia juga sempat melihat pohon rambutan dan cempedak. Namun Haili mengaku hanya memetik buah rambutan untuk mengisi perutnya.

"Selama tiga hari itu, saya hanya makan beberapa buah rambutan dari pohon yang ada di dalam hutan itu," jelas Haili.

Karena merasa perjalanannya sudah terlalu jauh dengan jalan kaki, akhirnya ia memutuskan naik ke atas pohon. Sejak saat itulah, Haili merasa ada di suatu tempat yang dirasanya tidak ada lagi siang dan malam.

"Disinilah saya mulai mendengar adzan subuh. Lalu saya juga ikuti adzan subuh itu dan di sinilah saya mulai melihat matahari terbit dan saya terus berdoa," cerita suami dari Salpiah ini.

Tidak lama berselang, ia mendengar ada suara mesin kelotok kecil. Kemudian ia meminta tolong dengan berteriak dari atas pohon.

"Alhamdulillah, warga mendengar dan kebetulan juga kenal dengan saya. Di sinilah saya merasa lega karena bisa ditemukan dan dijemput warga untuk diantar pulang," tutur bapak 3 anak ini. (ABDUL GOFUR/B-7)

BORNEONEWS.CO.ID


BERITA TERKAIT