Ini Alasan Penumpang Gugat Nam Air Rp 54 Juta Karena Potong Uang Pengembalian Tiket
BORNEONEWS.CO.ID | 29/10/2019 13:10
Ini Alasan Penumpang Gugat Nam Air Rp 54 Juta Karena Potong Uang Pengembalian Tiket
Pengugat dan kuasa hukumnya di sidang gugatan yang dilayangkan kepada Nam Air atas pemotongan tiket pembatalan penerbangan.

BORNEONEWS, Sampit - Lantaran memotong tiket penumpang, NAM Air Cabang Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur digugat dan dituntut ganti rugi sebesar Rp 54.262.800 oleh penggugat Setyo Budi.

Dalam Sidang perdana di Pengadilan Negeri Sampit yang dipimpin hakim Puthut Rully, penggugat Setyo Budi warga Jalan Kapten Mulyono Selatan, Kelurahan Ketapang, Kecamatan MB Ketapang, Kabupaten Kotim menuntut kerugian itu sebagaimana gugatan yang dibacakan Rabu, 23 Oktober 2019.

BACA: Tersangka Illegal Logging Mengaku sudah 3 Kali Mengangkut Kayu Ulin untuk Dijual Kembali

Penggugat menyebutkan, awalnya tidak berniat untuk mengajukan gugatan ini kepada pengadilan jika saja pihak tergugat dari awal memiliki niat baik untuk mengembalikan uang penggugat secara utuh tanpa pemotongan.

Namun karena sudah beberapa kali penggugat mendatangi dan menemui pihak tergugat di kantornya menuntut uang kompensasi pengembalian tiket pesawat penggugat tersebut tetapi terus ditolak. Hingga akhirnya mengajukan gugatan itu agar tergugat mengetahui kesalahannya dan berhenti merugikan orang lain karena hal semacam ini bisa jadi dialami oleh penumpang lain.

"Selain itu kemudian hari tidak lagi melakukan kesewenang-wenangan kepada penumpanng," kata kuasa hukum penggugat Bambang Nugroho yang dalam sidang itu didampingi oleh Agung Adi Setiyono.

Sementara dari NAM Air hadir dari pihak legal Danang Agung S dan Thosio Urayama mengaku siap berdamai dan mengganti selisih dari uang pemotongan tiket milik penumpang tersebut.

"Kami siap untuk berdamai dan mengembalikan selisihnya, selebihnya kami keberatan yang mulia," kata salah satu legal NAM Air.

Hakim dalam kesempatan tersebut sempat meminta untuk masing-masing pihak menyelesaikannya tanpa harus melalui proses persidangan tersebut jika memang bisa diselesaikan dengan cara baik-baik.

Namun demikian jika hanya mengganti selisih uang dari pemotongan itu pihak penggugat merasa keberatan karena mereka merasa sudah dirugikan.

Mulai dari tidak bisa berdagang seperti biasanya karena harus mengikuti persidangan tersebut hingga jika ditotal dengan biaya tiket, kerugian yang dialami sebagaimana tertuang dalam gugatan itu.

"Baik sambil jalan silakan tergugat jawab nanti di sidang selanjutnya. Sambil pikirkan bagaimana penyelesaiannya. Itu harapan saya," kata hakim yang memimpin sidang Puthut Rully.

Dalam gugatannya, penggugat menguraikan kejadian itu berawal saat penggugat akan berangkat dari Sampit ke Surabaya pada 17 September 2019 dan 22 September 2019 dari Surabaya ke Sampit dengan pembelian tiket penggugat dan anaknya dengan total Rp 4.262.800. Namun saat itu penerbangan batal.

BACA: Tidak Terima Dengan Putusan Pengadilan, Warga Desa Sebabi Ajukan Perlawanan terhadap PT BSK

Kepada penggugat tergugat menjelaskan melakukan pemotongan sebesar 15% sesuai ketentuan Pasal 10 Ayat (3) Permenhub Nomor 185 Tahun 2015 tentang standar pelayanan penumpang kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri.

Jika demikian artinya dari total uang penggugat tersebut yang dipotong sebesar Rp639.420 namun saat dilakukan pengecekan melalui print out pemotongan tersebut lebih dari 15%. (NACO/B-2)

BORNEONEWS.CO.ID


BERITA TERKAIT