Kuburan Nata Dibongkar Setelah Dimakamkan Hampir Sebulan, Benarkah Ia Ditembak?
BORNEONEWS.CO.ID | 17/10/2019 19:07
Kuburan Nata Dibongkar Setelah Dimakamkan Hampir Sebulan, Benarkah Ia Ditembak?

BORNEONEWS, Buntok – Keluarga dan warga membongkar kuburan seorang laki-laki bernama Nata, 39, di Tempat Pemakaman Umum, Desa Ugang Sayu, Kecamatan Gunung Bintang Awai (GBA), Kabupaten Barito Selatan, Senin, 14 Oktober 2019 sekitar pukul 13.30 WIB.

Pembongkaran makam dilakukan untuk keperluan pemeriksaan ekshumasi dan nekropsi dalam perkara tindak pidana penggunaan senjata api tanpa izin dan karena kelalaian mengakibatkan orang meninggal dunia. Kapolsek GBA IPTU Rahmat Saleh Simamora mengatakan, pembongkaran dilaksanakan oleh warga Desa Ugang Sayu bersama keluarga korban.

“Pembongkaran makam dilakukan untuk pemeriksaan ekshumasi dan nekropsi oleh tim dokter forensik Rumah Sakit dr Doris Silvanus Palangka Raya yang dipimpin dr Rika, serta 3 Pers Biddokes Polda Kalteng,” kata Rahmad Saleh, Senin malam. Ia mengungkapkan, hal ini menindaklanjuti laporan kakak korban bernama Eka yang curiga dengan kematian sang adik.

BACA: 9 Calon Kepala Desa di Barito Selatan Gugat Hasil Pilkades serentak

Sebelumnya pada Jumat, 20 September 2019, kakak korban menerima kabar bahwa adiknya terluka di hutan Gunung Usang, Desa Bintang Ara. Kemudian pada Sabtu, 21 September 2019, rombongan menggunakan mobil membawa jenasah korban. Pada saat memandikan jenazah, kakak korban melihat adanya kejanggalan di tubuh adiknya. Berupa luka berbentuk lubang sebesar jari di dada sebelah kiri.

Meski ada kejanggalan, korban tetap dikebumikan pada, Minggu 22 September 2019 sekitar pukul 13.00. “Namun pada 30 September 2019, orang tua korban melayangkan surat pengaduan masyarakat ke Polsek GBA,” kata dia.

Menindaklanjuti pengaduan tersebut, Polsek GBA melakukan penyelidikan pada 1 Oktober 2019. Berdasarkan hasil penyelidikan, korban dinyatakan sakit di hutan saat berburu.

Namun, saat dijemput masyarakat di tempat kejadian perkara, korban telah meninggal dunia.Ia mengungkapkan, berdasarkan pengakuan temannya berburunya berinisial RN, 54, korban meninggal karena tertembak olehnya. Pada saat itu RN menembak babi hutan di TKP. Tetapi babinya tidak kena dan pelurunya nyasar menembus dada korban.

Berdasarkan keterangan tersebut, polisi mendatangi TKP di hutan areal HPH PT Trisetiya bersama pelaku dan saksi. Di tempat itu, polisi mengamankan sepucuk senjata api rakitan dengan berisi 2 butir peluru aktif dan 1 butir slongsong yang sudah ditembakkan. “Berdasarkan kronologis tersebut kita melakukan pembongkaran makam untuk pemeriksaan mayat korban atau melakukan ekshumasi dan nekrupsi. Hasilnya kuat dugaan korban tertembak mengenai dada tembus ke jantung,” ujarnya.

Kapolsek menambahkan, berdasarkan semua itu, pelaku memenuhi ketentuan telah melanggar karena menggunakan, menyimpan senjata api dan amunisi tanpa izin. Serta karena lalainya mengakibatkan matinya orang lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1, Ayat (1), UU Darurat No 12 Tahun 1951 jo Pasal 359, KUHP.

Kapolsek GBA pun berpesan kepada masyarakat yang masih memiliki senjata api dalam bentuk apapun untuk segera menyerahkannya ke pihak kepolisian dan tidak akan dikenai proses hukum. Namun, bila polisi yang menemukan masyarakat masih memiliki dan menggunakan senjata api tanpa izin, akan dilakukan proses hukum sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Darurat No 12 Tahun 1951. (URIUTU DJAPER/B-3)


BERITA TERKAIT