Nenek Santinet Tolak Tinggal di Rumah Gubernur Kalimantan Tengah: Mati Urip tetap di Sini
BORNEONEWS.CO.ID | 08/10/2019 16:21
Nenek Santinet Tolak Tinggal di Rumah Gubernur Kalimantan Tengah: Mati Urip tetap di Sini



BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Nenek Santinet, nenek sebatang kara yang selama ini menghuni sebuah rumah dengan kondisi memprihatinkan di atas lahan kejaksaan, ternyata menolak tawaran untuk tinggal di rumah Gubernur Kalteng, Sugianto Sabran.Hal ini diucapkan lansia berusia 80 tahun ini, saat Gubernur Kalteng berkunjung ke rumahnya, awal Oktober 2019 lalu.




Nenek Santinet beralasan hanya mau tinggal di rumah gubuknya yang sudah direhab agar lebih layak huni tersebut, hingga ia tutup usia. "Nggak. Mati urip tetap di sini. Kalo mati ya pendem (kubur) saja. Ora usah repot, Nak," ujar Nenek Santinet yang selama ini hidup sebatangkara.


Baca: Gubernur Kalteng Meninjau Fasilitas RSUD Pulang Pisau




Beberapa kali upaya Gubernur Kalteng untuk mengajak si nenek agar pindah ke rumah lain di Pangkalan Bun juga ditolaknya. "Kalau memang beliau bersedia pindah, bisa saja kita sediakan rumah layak tipe 36. Mungkin beliau banyak kenangan di rumah tersebut," kata Sugianto Sabran.








Sugianto juga menanyakan kepada beberapa anggota polisi yang berada di tempat tersebut siapakah yang mengurus Nenek Santinet setiap hari. Dan ternyata memang ada orang yang setiap hari datang memandikan dan memberi makan.




Dalam kesempatan itu, Gubernur Kalteng juga memberikan kasur, peralatan rumah tangga dan perlengkapan mandi serta makanan bagi si nenek. "Syukurlah tadi saya lihat rumahnya saat ini sudah layak huni. Selain itu juga ada relawan yang bersedia mengurus nenek tersebut," pungkas Sugianto. (WAHYU KRIDA/ADV/B-11)


BORNEONEWS.CO.ID





BERITA TERKAIT