Sidak Imigrasi Sekolah Internasional di Kuta, 17 Paspor Guru WNA Bermasalah Ditahan
BALIPOST.COM | 29/08/2019 13:07
Sidak Imigrasi Sekolah Internasional di Kuta, 17 Paspor Guru WNA Bermasalah Ditahan

MANGUPURA, BALIPOST.com – Petugas Imigrasi Kelas I Ngurah Rai, Rabu (28/8) melakukan sidak atau inspeksi mendadak pengawasan terhadap orang asing di tiga sekolah Internasinal di wilayah kerjanya. Tiga sekolah yang disasar Imigrasi adalah Asian International School Bali di Kecamatan Kuta Selatan, JB School di Kecamatan Kuta, Canggu Community School di Kecamatan Kuta Utara.

Pada kesempatan tersebut, petugas menahan sebanyak 17 paspor dari guru orang asing yang mengajar di JB School di Kecamatan Kuta. Belasan paspor guru orang asing itu disita petugas karena diduga bermasalah.

Baca juga:  Dari Lomba Jegeg Bagus hingga Paduan Suara

Saat dikonfirmasi, Kabid Intelijen dan Penindakan Imigrasi Ngurah Rai, Setyo Budiwardoyo membenarkan adanya penahanan terhadap belasan paspor tersebut. Namun, pihaknya menyampaikan permohonan maaf karena belum bisa menyampaikan secara detail. “Mohon maaf ya saya belum biasa memberikan keterangan. Kalau nanti datanya sudah valid baru disampaikan ke media massa. Hari ini kami melakukan sidak pada 3 sekolah internasional. Tim menemukan dugaan pelanggaran di JB School,” katanya.

Sementara, Seksi Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Ngurah Rai, Raden Bima menjelaskan, sidak yang digelar merupakan hasil koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Badung. Dalam pengawasan ini kata dia, petugas menyasar semua orang asing yang bekerja di tiga sekolah tersebut. “Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengawasan terhadap orang asing. Kami melakukan sidak di sekolah internasional berdasarkan data dari Dinas Pendidikan. Data itu kami sinkronkan dengan data keimigrasian,” ucapnya.

Pada sekolah Asian International School Bali, Yayasan Ahimsa International Foundation Bali, di Banjar Cengkiling, Kuta Selatan ini, kata Raden, terdapat 10 guru orang asing. Namun tidak ditemukan adanya pelanggaran di sana. “Identitas berupa paspor, Kitas, dan persyaratan lain dari 10 orang guru pada sekolah tersebut diperiksa secara detail oleh petugas Imigrasi,” pungkasnya.

Sementara itu Sekretaris Yayasan Ahimsa International Foundation Bali, Volean mengatakan pihaknya menghadirkan guru-guru melalui kualifikasi yang sesuai dengan kurikulum. Sebanyak 10 orang asing di sekolahnya tersebut semuanya adalah tenaga pengajar.

Pihaknya sangat menyambut baik adanya pengawasan seperti ini. Diungkapkan, 10 orang guru WNA di sekolahnya tersebut berasal dari Australia, Amerika, Inggris, dan Filipina. (Yudi Karnaedi/balipost)

BALIPOST.COM

 


BERITA TERKAIT