Hadang Corona, 6 Dokter Sudah Berpulang, Kenapa (Sebagian) Warga Masih Nyantai?
Indonesiana.ID | 24/03/2020 19:01
Hadang Corona, 6 Dokter Sudah Berpulang, Kenapa (Sebagian) Warga Masih Nyantai?

INDONESIANA.ID - Enam dokter telah berpulang selama menangani pasien Covid-19. Ratusan warga lainnya sudah terpapar dan cenderung bertambah. Ini merupakan alarm yang sangat kencang tentang betapa serius ancaman virus corona. Sungguh mengherankan bahwa masih banyak warga yang berkerumun di warung dan kafe, menyantap makanan sembari menikmati suasana malam, seolah tidak terjadi apa-apa.

Masih banyak yang nongkrong dan kongkow-kongkow di keramaian seakan tidak melihat ada ancaman tengah mengintai. Wow, memang virus corona tidak terlihat oleh mata telanjang, tapi bukan berarti ancaman hanya tinggal diam--justru tengah mengintai peluang untuk merasuki tubuh. Ukurannya yang sangat kecil dan tak terlihat oleh mata telanjang menjadikan virus ini mudah memasuki tubuh siapapun tanpa diketahui.

"Tak usah panik, biasa saja," kata sebagian orang. Yaapp, kita memang harus berusaha agar tidak panik, sebab kepanikan akan menggerus kemampuan kita berpikir jernih. Tapi bukan pula bergaya ala pendekar sakti yang meremehkan kekuatan lawan. Kegagalan kita, jika itu terjadi, dalam menghadapi corona ialah karena kita tidak bersatu padu, tidak merapatkan barisan.

 
Hari ke hari, ketika wabah tengah mendaki terus menujuk puncaknya, seperti diperkirakan para ahli lewat studi matematis-epidemiologis, pertambahan orang yang terpapar akan terus meningkat. Pengetatan interaksi dan aktivitas sosial niscaya juga kian diperkuat demi menghentikan penyebaran corona. Tapi ikhtiar ini hanya akan membuahkan hasil bila warga masyarakat menyadari benar bahwa menghadapi corona adalah tugas bersama, tak bisa hanya mengandalkan pemerintah tanpa kerjasama dari masyarakat.

Di tengah perjalanan menuju puncak wabah itu, kecemasan kita berpotensi akan meningkat. Sebagian kita mungkin tetap cuek, acuh tak acuh, sebagian lainnya mulai panik, dan bahkan mungkin semakin kekurangan harapan. Sayangnya, harapan itu justru harus kita jaga dan pelihara jika kita ingin menghentikan gerak laju corona. Harapanlah yang membuat kita termotivasi untuk terus berikhtiar mencari jalan keluar dari invasi virus ini.

Meski begitu, memelihara harapan tidaklah cukup hanya dengan merenung, apa lagi dengan sikap meremehkan dan acuh tak acuh. Diperlukan ikhtiar agar harapan tetap terpelihara. Harapan bukanlah kata benda yang akan hadir tiba-tiba tanpa ikhtiar, harapan adalah kata kerja yang berarti ada proses yang mesti kita jalani bersama agar harapan itu terwujud. Bila kita diam atau acuh tak acuh, menganggap remeh dan sepele, maka harapan akan menunjukkan wajah kejamnya, sebab ia menghadirkan kesuraman masa depan kita. Menjaga harapan harus kita lakukan dengan ikhtiar. 

INDONESIANA.ID / DIAN BASUKI


BERITA TERKAIT