Kalista Iskandar Lupa Teks Pancasila, Belum Tentu Orang Lain Lebih Pancasilais
Indonesiana.ID | 10/03/2020 15:15
Kalista Iskandar Lupa Teks Pancasila, Belum Tentu Orang Lain Lebih Pancasilais
Kalista Iskandar berpose di samping Nevi Irwan Prayitno, istri Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno. Instagram

INDONESIANA.ID- Ketegangan malam puncak Pemilihan Puteri Indonesia 2020, Jumat malam lalu (6 Maret 2020), pecah oleh riuh rendah respons hadirin yang menyaksikan Kalista Iskandar silap lidah dalam mengucapkan sila ke-4 dan ke-5 Pancasila. Bahkan, di laman media, Kalista juga disoraki. Padahal, mungkin saja dia lagi grogi alias demam panggung saat itu.

Silap lidah semacam dialami Kalista itu sebenarnya manusiawi belaka, siapapun bisa mengalami situasi ketika benak kita tiba-tiba ... blank... kosong, sehingga yang keluar dari mulut kita tidak klop dengan yang semestinya. Pembawa acara di radio, panggung 17-an, mantenan, hingga acara televisi, seperti juga diakui oleh Najwa Shihab, bisa saja mengalami hal serupa.

Para pembuli atau perundung itu telah menunjukkan sikap yang tidak empatetik kepada Kalista, seakan-akan ia telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Padahal, empati juga cerminan dari nilai sila Pancasila (begitu karta para penafsir Pancasila yang hebat-hebat), jadi kenapa lantas membuli orang yang lagi apes?

Taruhlah misalnya ia memang tidak hapal Pancasila, belum tentu ia tidak Pancasilais. Sangat mungkin ia tidak hapal sila-silanya secara lisani, tapi ia seorang Pancasilais secara praktisi. Ia mungkin saja seorang praktisi Pancasila yang sudah menerapkan nilai-nilainya dalam hidup sehari-hari: tidak angkuh sebab selalu ingat bahwa ada yang jauh lebih hebat ketimbang dirinya, berjiwa sosial dan dermawan kepada kaum fakir dan nirdaya, menjaga relasi baik dengan banyak orang dari beragam suku dan agama, mau mendengarkan suara orang kecil dan tidak berkuasa, bersikap dan bertindak adil walaupun kepada orang yang memusuhinya. Dan, itu tadi, bersikap empatetik dan tidak menertawakan orang yang lagi apes ataupun lupa.
 

Intinya sederhana saja adalah tidak setiap orang yang tidak hapal Pancasila, baik karena gugup demam panggung ataupun tidak, lantas layak dicap ia kurang atau bahkan tidak Pancasilais. Begitu pula, tidak setiap orang yang hapal nglonthok kelima sila pantas menyebut diri lebih Pancasilais.

INDONESIANA.ID - Dian Basuki, Penulis Indonesiana


BERITA TERKAIT