Tragedi Maulana Suryadi, Pendemo DPR yang Meninggal, Kenapa tak Diusut?
Indonesiana.ID | 04/10/2019 13:15
Tragedi Maulana Suryadi, Pendemo DPR yang Meninggal, Kenapa tak Diusut?

INDONESIANA.ID - Kisah Maulana Suryadi, 23 tahun, yang meninggal dalam  demonstrasi di DPR RI, Rabu 25 September 2019 lalu sungguh menyedihkan.  Di tengah riuh rendah demonstrasi dan polemik soal Rancangan KUHP dan Revisi UU KPK, kematiannya luput dari perhatian publik.

Lelaki yang sehari-hari menjadi juru parkir ini sempat pamit ke ibunya untuk ikut demo. Kebetulan pada hari itu meletup demo yang dilakukan oleh anak-anak STM. Sehari kemudian,  ia dikabarkan telah tewas. Jenazah Maulana mengeluarkan darah di bagian hidung dan telinga.

“Ada lebam cukup parah di bagian leher kanan dan kiri, serta di punggungnya. Kepala bagian belakang Maulana  juga terasa lembek. Lukanya seperti dihantam benda tumpul,” kata Bayu .

Penjelasan Kapolri
Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan satu orang tewas dalam demonstrasi pelajar yang berujung kerusuhan di sekitar Gedung DPR pada pada Rabu lalu, 25 September 2019.Tito Karnavian memastikan yang tewas adalah salah satu perusuh.

Kapolri Tito Karnavian menjelaskan bahwa bentrokan terjadi antara TNI-Polri dan kelompok perusuh di daerah Slipi. Saat itu perusuh membakar pos polisi dan kendaraan serta melempari aparat dengan batu. Saat itulah satu orang pingsan di lokasi kejadian. Dia dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati namun nyawanya tak terselamatkan.

Tito  membantah bahwa korban tewas akibat tindakan represif petugas Kepolisian. "Tak ada satupun luka tembak atau penganiayaan.   Saya juga sudah sampaikan untuk tidak gunakan senjata tajam sehingga (korban tewas) itu diduga kekurangan oksigen atau gangguan fisiknya."

Komnas HAM
Komisi Nasional Hak Asasi Manusiaa perlu turun tangan untuk mengungkap tragedi Maulana. Apalagi, lembaga ini sudah mendapatkan laporan mengenai  penanganan demo yang dilakukan kepolisian.

Tim Advokasi untuk Demokrasi sudah  mengadukan pendekatan represif  kepada Komnas HAM pada 2 Oktober lalu.  Anggota Tim Advokasi yang juga Direktur LBH Jakarta, Arif Maulana  menegaskan, tindakan aparat saat aksi itu tidak hanya represif, tapi juga juga brutal. Hal itu, kata Arif, dilihat dari banyaknya korban luka-luka, pingsan, dan sesak nafas. Tembakan gas air mata  tidak hanya demonstran, tapi juga jurnalis dan tenaga medis.  ***

Anas Muhaimin - Penulis Indonesiana

 


BERITA TERKAIT