Jalan Lapang buat Puan di DPR: Demo Diredam, KPK Sudah Dikebiri
Indonesiana.ID | 02/10/2019 15:07
Jalan Lapang buat Puan di DPR: Demo Diredam, KPK Sudah Dikebiri

INDONESIANA.ID - Hampir dipastikan   Puan Maharani akan dipilih menjadi  Ketua Dewan  Perwakilan  Rakyat periode 2019-2024.  Partai Demokrasi  Indonesia Perjuangan (PDIP)   telah menjagokan putri Megawai Sukarnoputri  itu untuk memimpin parlemen.

Menurut  Ketua DPP PDIP, Bambang Wuryanto,     Megawati menunjuk Puan yakni atas ukuran rekam jejak, integritas, kapasitas dan kompetensi. "Tanpa bermaksud memuji, tapi memang Mbak Puan saat ini di PDI Perjuangan adalah tokoh muda yang tak tertandingi," ujar  Bambang , 1 Oktober 2019.

Berdasarkan Undang-undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD, posisi Ketua DPR memang menjadi jatah  partai pemenang pemilu. Adapun  posisi  empat wakil ketua DPR akan ditempati  wakil partai dengan perolehan suara lima besar yang lain, yakni Golkar, Gerindra, PKB, dan NasDem.

Berbeda dengan DPR  sebelumnya, pimpinan dan anggota parlemen baru akan bertugas pada situasi yang  lebih “nyaman”  atau bahasa pejabatnya,  "kondusif".  Soalnya,  KPK sudah dilemahkan atau dikebiri.  Gangguan mungkin datang dari demo mahasiswa , tapi sejauh masih bisa diredam.

Nyaman dengan KPK lemah
KPK merupakan produk reformasi yang sukses tapi  selama ini selalu dimusuhi oleh elite politik.  Upaya pelemahan  komisi anti korupsi  sudah terjadi dari  dulu, baik dilakukan oleh pemerintah maupun DPR. Yang menjadi penopang KPK selama ini hanya  publik, terutama aktivisi antikorupsi.

Kenapa parlemen akan nyaman?  Selama ini KPK termasuk paling getol membongkar  korupsi di kalangan anggota DPR. Maklum wewenang parlemen amat besar, mulai dari penentuan anggaran hingga mengawasi kinerja pemerintah.

Menurut catatan Indonesia Corruption Watch,  setidaknya 23 anggota DPR telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam lima tahun terakhir.  Bahkan Ketua DPR , Setya Novanto, bersama Wakil Ketua DPR RI, Taufik Kurniawan, ikut dijerat oleh KPK.

Politikus DPR yang ditangkap KPK itu berasal dari beragam partai. Rincinya, Partai Golkar 8 orang, PDIP 3 orang, Partai Amanat Nasional  3 orang, Partai Demokrat 3 orang, Partai Hanura 2 orang, PKB  1 orang, PPP  1 orang, Partai Nasdem 1 orang dan PKS 1 orang.

Demo diredam
Kepolisian  mulai meredam demonstrasi   ke parlemen.  Kini  demonstrasi akan sulit  mendekati kawasan gedung DPR/MPR karena pengamanan yang superketat. Seluruh pagar yang menggelilingi areal gedung itu  dijaga petugas, termasuk pagar samping dan belakang.  

Pendemo yang mulai mendekat akan segera diusir.  Mereka bahkan sudah dicegat  di jalan-jalan menuju wilayah gedung DPR. Contohnya., yang terjadi di Jalan layang Slipi, Senin malam, 30 September 2019. Polisi memaksa mereka membuka meminta pendemo membuka baju. Seorang anak tampak menangis. Wartawan berupaya merekam kejadian tersebut, tapi  aparat melarang nya.

Penangkapan  pendemo  pendemo mahasiswa gadungan juga menyebabkan aksi mahasiswa sebenarnya seperti  gembos. Mahasiswa yang benar-benar berasal dari kampus  kesulitan beraksi  karena selalu muncul pendemo lain yang tidak jelas asalnya dan cenderung bikin rusuh.  ***

Y.Suprayogi - Penulis Indonesiana




BERITA TERKAIT