Setahun Bencana Likuifaksi Berlalu, Rustam Kenali Jasad Istri dan Anaknya dari Helm
KABARSULTENGBANGKIT.COM | 31/10/2019 16:24
Setahun Bencana Likuifaksi Berlalu, Rustam Kenali Jasad Istri dan Anaknya dari Helm
EVAKUASI – Badan SAR Kota Palu dan Dinas Pemadam Kebakaran mengumpulkan jenazah yang berhasil dievakuasi dari timbunan material, Rabu 30 Oktober 2019 (FOTO HAMZAH)

PALU – Ratusan korban diperkirakan masih tertimbun dalam lumpur liquefaksi saat gempabumi 28 September 2018 lalu di Kelurahan Balaroa. Kemarin, Rabu 30 Oktober 2019, Badan SAR dan Dinas Damkar kembali mengevakuasi 7 jenazah warga Balaroa.

Jasad korban ditemukan sehari sebelumnya oleh pencari besi di puing bangunan di bekas pemukiman padat itu. Warga kemudian melaporkan ke Basarnas. Evakuasi dilakukan pada Rabu 30 Oktober 2019 oleh Basarnas dan Dinas Damkar Kota Palu.

BACA: Farhan Sumbang Tanah 1,7 Ha untuk Huntap di Sibalaya Utara

Dua jasad berhasil didentifikasi, langsung dibawa ke Kelurahan Tinggede untuk dikebumikan di pemakaman keluarga. Sedangkan lima lainnya dikebumikan ke pekuburan massal di Kelurahan Poboya – Palu Selatan. Satu jenazah lainnya tidak bisa dievakuasi utuh. Tubuhnya terhimpit material. Kondisi tanah yang labil menyulitkan petugas melakukan evakuasi dengan menggunakan alat berat.

Dua jenazah lainnya dikenali berkat helm yang digunakan keduanya. Rustam (60) adalah suami dari seorang ibu yang ada di jenazah itu. Sedangkan anaknya bernama Marwatun Soleha (18). Rustam menuturkan, saat itu keduanya sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah mereka di Jalan Sakura Nomor 88 Balaroa. ”Mamanya baku bonceng jemput anak saya yang kuliah di Untad,” ujarnya mengenang peristiwa naas itu.

Rustam mengaku, ia mengenali identitas orang orang yang disayanginya itu dari helm yang dikenakannya. Kebetulan ia sendiri yang membeli dua helm tersebut. Helm hitam kombinasi pink milik anaknya Marwatun Soleha. Sedangkan istrinya menggunakan helm hitam dengan tulisan mencolok Yamaha.

Saat peristiwa, keduanya sudah hampir masuk di rumah. Sayang, keduanya terjebak saat tanah dan rumah terangkat lalu terhempas dalam waktu yang sangat cepat. Sedangkan dirinya lari menyelamatkan diri. Pascagempa, berhari-hari ia mengitari kubangan lumpur di Balaroa di sekitar rumahnya untuk memastikan jasad anak dan istrinya itu. ”Akhirnya saya ketemu mereka hari ini. Setelah setahun lebih,” ungkap Rustam sambil memandang helm berisi tulang tengkorak. Setelah prosesi doa sederhana, kedua jasad dikuburkan di kompleks pemakaman keluarga di Tinggede.

Kepala Seksi Rescue dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Palu Moh Roy, menjelaskan pihaknya berhati hati melakukan evakuasi. Kondisi tanah yang labil membuat alat berat yang dikerahkan tidak bisa bekerja optimal. ”Tanahnya berongga di dalam. Kalau ada beban berat akan runtuh. Harus hati hati,” jelasnya.

BACA: Jokowi Diminta Tinjau Lagi Pemulihan Korban Bencana

Data per Januari 2019 yang dirilis BNPB korban gempabumi, tsunami dan liquifaksi di Palu, Sigi Donggala, meninggal berjumlah 4.340 jiwa. Korban hilang 667 orang. Luka-luka 4.438 orang dan jumlah bangunan rusak 42.864 buah.

Kemunginan angka kematian akan terus bergerak seiring dengan temuan temuan korban di banyak tempat. Baik korban liquifaksi di Petobo dan Balaroa korban tsunami di sepanjang pesisir Teluk Palu.

KABARSULTENGBANGKIT.ID


BERITA TERKAIT