Setahun Bencana Gempa Palu, PBB Kunjungi SD Inpres Jono Oge
KABARSULTENGBANGKIT.COM | 23/09/2019 15:07
Setahun Bencana Gempa Palu, PBB Kunjungi SD Inpres Jono Oge

SIGI – Menjelang peringatan satu tahun bencana gempa, tsunami dan likuefaksi di Sulawesi Tengah, tim kemanusiaan Perserikatan Bangsa-bangsa atau PBB mengunjungi Sekolah Dasar Inpres (SDI) Jono Oge, di Desa Jono Oge, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu, (17/9/2019).

SDI Jono Oge, merupakan salah satu sekolah yang terdampak parah akibat hantaman likuefaksi pada 28 September 2018. Dalam kunjungan itu, Koordinator PBB di Indonesia Anita Nirody bersama rombongan kemanusiaan, Direktur UNDP di Indonesia, Christope Bahuet , UNOCHA, Victoria Saiz, UNODC, Colie Brown dan lainya disambut meriah para siswa dengan tarian adat.

BACA: Di balik langkanya Air di Huntara

Anita Nirody, mengatakan, kunjungan tim kemanusiaan PBB ini adalah bagian dari peringatan satu tahun gempa Palu. Anita mengungkapkan, pada Oktober 2018 lalu, ia telah mengunjungi Sulteng, khususnya Sigi. "Saat pertama kali berkunjung di sini, saya menyaksikan langsung kerusakan dan kehancuran yang terjadi akibat bencana. Ketika itu, banyak korban dan masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan, layanan kesehatan, makanan dan lainya,” ujarnya.

Namun yang membuatnya kagum adalah menyaksikan ketahanan masyarakat dalam membangun kembali daerahnya. Menurutnya, pihak PBB sangat mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam penanganan penanggulangan bencana dan prioritas-prioritas lainnya. “Kata kuncinya, adalah kemitraan dengan berbagai pihak CSO, pemda, masyarakat dan pihak lainya,” ucapnya.

SDI Jono Oge, kata dia, diperbaiki melalui proyek UNDP PETRA. PETRA adalah program yang didanai dari bantuan Jerman untuk rekonstruksi pendidikan dan fasilitas umum. Lewat program ini, 40 persen perempuan terlibat dalam proyek padat karya, membersihkan puing-puing bangunan rusak.

Di tempat yang sama, Christope Bahuet, mengatakan, berkat kemitraan berbagai pihak dalam program padat karya, ada 2.700 tempat, 2.000 bangunan, termasuk 21 sekolah, berhasil dibersihkan dari puing-puing yang rusak. “Program padat karya ini banyak melibatkan perempuan,” katanya.

Menurutnya, SDI Jono Oge adalah satu dari 21 sekolah yang masuk program pemulihan PETRA, yang saat ini dalam tahap penyusunan desain.

Dia memambahkan, proyek PETRA ini memegang prinsip untuk membangun kembali dengan lebih kuat dengan melibatkan seluruh masyarakat setempat, baik lansia, kaum disabilitas, perempuan dan lainnya. Asisten I Pemerintahan Sigi, Iskandar Nongtji yang saat itu menerima kunjungan perwakilan PBB, mengucapkan terima kasih atas segala bantuan semua pihak sejak masa tanggap darurat, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Bantuan dari semua pihak masih sangat dibutuhkan, tapi dari semua bantuan tersebut, hal paling utama adalah pemulihan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.

Hal senada disampaikan, Perwakilan NGO Imunitas 3, Rs Sadik, mengatakan, pemulihan ekonomi harus menjadi perhatian semua pihak. Ia mengatakan, akibat bencana, banyak warga kehilangan mata pencaharian dan pekerjaan. Namun adanya program padat karya sekitar 250 masyarakat terlibat 169 di antanya berjenis kelamin perempuan.

Hal ini, menurut dia, membangun kembali kohesi sosial dan sekaligus manajemen stres atau trauma healing dengan bekerja, sehingga mereka lupa peristiwa mengenaskan yang telah menimpa mereka sebelumnya.

Dalam proses bekerja, kata dia, para pekerja dimasukan dalam BPJS Ketenagakerjaan untuk itu diutamakan keselamatan kerja. Adapun dalam metode pekerjaan, pembersihan puing-puing bangunan kata dia, menggunakan empat metode, merobohkan, membersihkan, memilah dan memilih.

“Dari memilah bahan-bahan bangunan tersebut, masih dapat digunakan, bila dikonversi kedalam uang sekitar Rp 1 milliar,” ujarnya

Kepala Sekolah SDI Jono Oge, Selvie mengatakan, sekolahnya terdiri dari enam ruang kelas, dengan jumlah murid sebanyak 276 orang, 5 orang meninggal dunia, akibat bencana.

Selain itu, kata dia, banyak guru dan orang tua kehilangan tempat tinggal pascabencana. Dia mengatakan, usai bencana di sekolahnya tidak dapat melaksanakan proses belajar dan mengajar untuk beberapa waktu akibat banyaknya gedung yang rusak.

Namun ia bersyukur, dengan segala upaya komunikasi dan koordinasi sampai akhirnya sekolah ini mendapat bantuan gedung sementara. Untuk itu, mewakili semua wali murid dan guru-guru, ia berterima kasih pada UNDP telah memilih SDI Jono Oge sebagai salah satu yang di rekonstruksi bersama mitranya PETRA.

KABARSULTENGBANGKIT.ID


BERITA TERKAIT