Aktivitas Ibu-ibu Mencabut Bulu Sarang Walet di Desa Ngunut Bojonegoro Tak Terganggu Covid-19
SUARABANYUURIP.COM | 25/09/2020 11:10
Aktivitas Ibu-ibu Mencabut Bulu Sarang Walet di Desa Ngunut Bojonegoro Tak Terganggu Covid-19
CABUT BULU WALET : Sejumlah ibu-ibu rumah tangga cekatan saat melakukan aktivitas bersihan sarang burung walet.

SuaraBanyuurip.com, Bojonegoro - Warga ring satu lapangan minyak dan gas bumi (Migas) Alas Tua East (ATE), Blok Cepu, di Desa Ngunut, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kususnya para ibu ibu pilih beraktivitas membersihkan sarang burung walet untuk membantu suami dalam meningkatkan perekonomian keluarga.

"Kami hanya bermodalkan pinset, mangkok, handuk, semprotan air dan cutter, untuk membersihkan sarang burung walet," kata salah satu pembersih sarang burung walet, Santi, kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (24/9/2020).

Ibu satu anak ini mengaku, termotivasinya kerja sebagai pembersih sarang burung walet, selain ingin membantu suami dalam meningkatkan ekonomi juga karena dekat dengan rumah. Sehingga tidak mengganggu pekerjaan rumah tangga, baik mengurus anak anak maupun lainnya.

"Tidak mengganggu Mas. Apalagi sekarang bersihkan sarang walet boleh dibawa pulang malah lebih nyaman. Suami saya sebagai buruh bangunan," ujar warga ring satu ATE ini sambil mencabuti bulu-bulu yang menempel di sarang walet.

Segendang seirama diungkapkan Yayuk. Ia mengatakan, meski sedang hamil tidak merasa terganggu untuk menekuni kerjaan sebagai pembersih sarang burung walet. Hanya saja saat dapat sarang yang bulunya banyak nempel disarangnya, tentu butuh waktu lama dalam mencabuti sampai bersih. Jadi kadang juga terasa capek.

"Sebenarnya tidak berat, tapi harus sabar dan teliti. Kalau pas banyak yang dibersihkan capek pasti. Tapi tidak masalah namanya kerja, dibuat istirahat bentar capeknya sudah hilang," ungkapnya.

Berbeda dengan Yayuk dan Santi. Aisyah lebih memilih mencabuti bulu sarang walet di rumah produksi. Sebab lebih cepat selesai karena ada dukungan lampu yang sangat terang.

"Dulu sempat saya bawa pulang, tapi pas setor sering disuruh mengulang karena kurang bersih. Jadi pilih bersihkan di rumah produksi saja," kata Aisyah.

Ketiga pembersih sarang burung walet tersebut mengaku,  upah yang diterimanya tergantung seberapa banyak berat sarang yang dibersihkan. Untuk 50 gram sarang burung walet yang dibersihkan mendapat upah Rp. 27.500.

"Tidak banyak kok, Mas, tapi ya disyukuri saja daripada tidak punya penghasilan," tutup Santi.

Penelusuran dilapangan menyebutkan ada kurang lebih lima rumah produksi sarang burung walet yang tersebar di Desa Ngunut.

Sementara sumur ATE telah ditutup oleh operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) sejak tahun 2014 silam. Dan sampai saat ini tidak ada aktivitas baik penjagaan security maupun kegiatan lainnya diarea tersebut.(fin)

SUARABANYUURIP.COM


BERITA TERKAIT