Temuan Gas Alam di Bojonegoro Tak Ekonomis Dikelola
SUARABANYUURIP.COM | 12/06/2019 18:50
Temuan Gas Alam di Bojonegoro Tak Ekonomis Dikelola
Temuan Gas Alam di Bojonegoro Tak Ekonomis Dikelola

SuaraBanyuurip.com - Ririn Wedia

Bojonegoro - Gas alam yang ditemukan warga Desa Tapelan, Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dinilai DPRD setempat tidak ekonomis dikelola.

"Bisa jadi itu gas rawa yang volumenya tidak begitu besar," kata Sekretaris Komisi B DPRD Bojonegoro, Lasuri, kepada suarabanyuurip.com, Rabu (12/6/2019).

Komisi dewan yang membidangi masalah migas itu menyarankan kepada Pemkab Bojonegoro menggandeng Pertamina melakukan pengecekan untuk memastikan jenis gas yang keluar dari sumur air yang dibor warga.

"Mungkin bisa diantisipasi dengan pemasangan pagar atau batas lainnya, supaya tidak membahayakan warga termasuk anak kecil," tegasnya.

Munculnya gas alam itu menandakan jika Bojonegoro memiliki sumber daya alam melimpah berupa migas. Sebab, konon, wilayah tersebut merupakan palung dasar laut yang dibuktikan dengan temuan fosil hewan laut.

"Banyak ditemukan gas karena konon katanya Bojonegoro adalah lautan dengan banyaknya temuan fosil," imbuh politisi PAN itu.

Sedangkan migas sendiri terbentuk dari fosil-fosil hewan dan tumbuhan kecil atau jasad renik lautan yang terkubur ribuan tahun dan tekanan panas bumi.

Dikonfirmasi terpisah, Koordinator Museum 13, Harry Nugroho, mengakui di wilayah setempat banyak ditemukan fosil jenis idakna, atau fosil kerang yang paling tua. Fosil landak laut atau bulu babi (echinoidea) dan empat spesies fosil conus (mollusca) juga ditemukan.

Fosil hewan laut tersebut ditemukan di sekitar Gunung Bandungan, Desa Soko, Kecamatan Temayang, Bojonegoro. Letak temuan tersebut menyebar di sekitar Goa Gondel.

Temuan fosil laut itu terletak di wilayah dataran tinggi di Bojonegoro. Fosil itu ditemukan terletak pada ketinggian 335 DPL (di atas permukaan laut). Diduga wilayah tersebut sekitar 3.000 sampai 4.000 tahun silam merupakan wilayah dasar laut. Selain adanya temuan fosil laut, dugaan tersebut diperkuat dengan jenis formasi tanah di lokasi.

Menurut Guru yang mengajar di SDN 1 Panjunan, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro itu, jenis lapisan tanah di wilayah selatan terbentuk dari lapisan/formasi sonde, dengan ciri batuan andesit, dan batuan pasiran atau gampingan.

"Sayangnya sudah banyak temuan yang hilang karena ulah kolekdol atau penjual fosil ilegal," pungkasnya.(rien)