Reklamasi Proyek Kilang Tuban, Mbah Warto: Jangan Merusak Sumber Nafkah Nelayan
SUARABANYUURIP.COM | 16/05/2019 14:05
Reklamasi Proyek Kilang Tuban, Mbah Warto: Jangan Merusak Sumber Nafkah Nelayan
Opsi Reklamasi Lahan Kilang Tuban, Mbah Warto : Awas Cemari Laut

SuaraBanyuurip.com - d suko nugroho

Tuban - Rencana PT Pertamina   (Persero) melakukan reklamasi lahan untuk pembangunan proyek kilang baru (Grass Root Refinary/GRR) di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mendapat tanggapan Kuasa Hukum warga Wadung dan Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Soewarto Darmandi. 

Mantan Jaksa itu menilai, rencana reklamasi lahan Kilang Tuban merupakan kewenangan penuh Kementerian Kelautan. Namun demikian rencana tersebut akan merugikan nelayan dan berpotensi menimbulkan banjir rob karena air laut terhalang hamparan tanah hasil reklamasi. 

"Yang jelas kalau dilakukan reklamasi bagaimana nelayan tradisional itu mencari nafkah ? Lahan menangkap ikan jadi berkurang. Belum lagi masalah limbah yang bisa mencemari laut," kata Mbah Warto, sapaan akrab Soewarto Darmandi, kepada suarabanyuurip.com melalui pesan WhatsApp, Rabu (15/5/2019).

Menurut dia, masyarakat berharap proyek pembangunan Kilang Tuban jangan sampai merusak ketahanan pangan para petani dan nelayan.

"Seharusnya dirikanlah kilang itu pada tempat yang tidak menggusur pemukiman dan lahan pertanian yang produktip," sarannya. 

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menyampaikan, jika permasalahan dengan warga pemilik lahan ini berlarut-larut, pihaknya akan  melakukan studi untuk reklamasi sehingga proyek terus berjalan. 

Rencananya, kontrak studi reklamasi lahan bakal diteken pada minggu ke-4 Mei 2019. Namun lokasi reklamasi belum diungkap Nicke. 

"Opsi ini untuk mengantisipasi jika kasasi penetapan lokasi lahan kilang gagal. Proyek kilang harus tetap jalan," ujarnya  saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR Gedung DPR, Selasa (14/5), dilansir dari media nasional. 

Sesuai penlok yang dikeluarkan Gubernur Jawa Timur dengan Nomor 188/23/KPTS/013/2019, pada tanggal 10 Januari 2019, lahan yang dibutuhkan untuk proyek Kilang Tuban kurang lebih seluas 841 hektare. Mencakup Desa Wadung, Kaliuntu, dan Sumurgeneng. 

Dari jumlah itu sekitar 400 ha telah tersedia karena berasal dari lahan milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sementara 400 ha lebih sisanya belum berhasil dibebaskan karena warga pemilik lahan melakukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya atas penlok yang dikeluarkan Geburnur Jatim.

Gugatan warga diterima. Penlok Kilang Tuban dibatalkan.  

Sebagai informasi, proyek GRR Tuban akan menjadi kilang terintegrasi dengan kompleks petrokimia terbesar milik Pertamina. Kilang ini dibangun oleh Pertamina melalui anak usahanya PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dengan menggandeng perusahaan asal Rusia Rosneft Oil Company dengan membentuk perusahaan patungan PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia.

Nantinya, GRR Tuban akan memproduksi bensin sebesar 80 ribu barel per hari (bph), Solar 99 ribu bpjh, dan Avtur 26 ribu bph. Sedangkan untuk produk baru petrokimia adalah polipropilen 1,3 juta ton per tahun, polietilen 0,65 juta ton per tahun, stirena 0,5 juta ton per tahun dan paraksilen 1,3 juta ton per tahun.(suko)

SUARABANYUURIP.COM


BERITA TERKAIT