Disnakkan Blora Waspadai Peredaran Daging Gelonggongan
SUARABANYUURIP.COM | 16/05/2019 03:34
Disnakkan Blora Waspadai Peredaran Daging Gelonggongan
Disnakkan Blora Waspadai Peredaran Daging Gelonggongan

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora - Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Blora, Jawa Tengah, meminta masyarakat untuk mewaspadai beredarnya daging gelonggongan dari luar wilayah selama ramadhan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Sebab, tidak mendapat pengawasan langsung dari pihak kesehatan hewan.

Menurut Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikan Blora, Tejo Yuwono, daging hewan gelonggongan bisa saja masuk dipasaran. Daging tersebut bisa merugikan konsumen karena tidak disembelih di Rumah Penyembelihan Hewan (RPH), sehingga lebih rawan berpenyakit.

"Bukan berarti semua yang bersal dari luar lho ya. Hanya ada kerawanan karena tidak ada pengawasan dari petugas yang ada di Blora," ujarnya di sela-sela sidak di Pasar Cepu, Rabu (15/5/2019).

Dijelaskan, jika penyembelihan dilakukan di RPH yang ada di sini, maka akan mendapatkan pemeriksaan berulang.

"Sebelum disembelih diperiksa, setelah disembelih diperiksa, bahkam sebelum didistribusikan keluar dari RPH juga diperiksa," tuturnya.

Saat sidak di Pasar Induk Cepu, pihaknya menemukan kondisi daging dalam keadaan kurang segar. Setelah ditanya pedagangnya, ternyata daging tersebut sebelumnya sudah masuk lemari pendingin. Karena hari sebelumnya tidak habis. 

"Memang kalau sudah masuk pendingin, kondisinya seperti ini," ucapnya. 

Piristiani, penjual daging sapi, membenarkan jika daging miliknya sebelumnya masuk lemari pendingin.

"Karena memang lagi sepi. Jadi saya masukan freezer supaya bisa dijual lagi," ujarnya. (ams)


Dia juga mengaku, bahwa daging yang dia jual berasal dari RPH Cepu. "Yang dijual disini bukan hanya di Cepu, tapi ada daging yang berasal dari Bojonegoro dan Ngawi," jelasnya. (Ams)

Caption: Petugas perlihatkan kondisi daging setelah masuk dalam lemari pendingin.