Ternyata, Jayabaya Sudah Meramal Kemunculan Smartphone, Seperti Apa Pernyataannya?
JATIMPLUS.ID | 14/02/2020 16:10
Ternyata, Jayabaya Sudah Meramal Kemunculan Smartphone, Seperti Apa Pernyataannya?
Petilasan Sri Aji Joyoboyo di Desa Menang, Kab. Kediri. Foto : Jatimplus.ID / Adhi Kusumo

KEDIRI– Prabu Jayabaya dikisahkan menjadi raja ke-3 Kerajaan Kadiri di tahun 1135-1157 masehi. Di bawah kepemimpinannya, kerajaan yang beribukota di Dhaha ini berhasil mengalahkan Kerajaan Jenggala hingga dikenal semboyan Panjalu Jayati yang artinya menang.

Tidak hanya kepiawaiannya dalam menjalankan roda pemerintahan, Prabu Jayabaya juga sangat dikenal akan kemampuannya membaca masa depan. Kemampuan ini dikenal sebagai Jangka Jayabaya dan dibukukan dalam naskah-naskah kuno pasca pemerintahannya berakhir.

Suratin, juru kunci sekaligus budayawan yang mendalami kisah Jayabaya menjelaskan bahwa kemampuan tersebut sebenarnya bukan karena Jayabaya adalah seorang ahli ramal. Menurutnya, kemampuan raja yang juga seorang pujangga ini didapatkan karena kedekatannya dengan Tuhan karena dia dikenal sangat ketat dalam tirakat.

Dia adalah raja yang dikenal sangat kuat menahan lapar, dan tidak berlebih-lebihan dalam hidup. “Jadi dia ini bukan tukang ramal karena ramalan bisa saja meleset. Sri Aji Jayabaya ini bisa membaca masa depan meski belum terjadi karena kedekatannya dengan Sang Pencipta,” terangnya kepada Jatimplus.ID.

Ada banyak sekali pernyataan Prabu Jayabaya yang diyakini benar-benar terjadi meski jauh ribuan tahun setelah diucapkan. Beberapa diantaranya yang cukup dikenal adalah “Mbesuk yen wes ana kreta tanpa jaran, Tanah Jawa kalungan wesi, prahu mlaku ing dhuwur awang-awang, kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange, iku tandhane yen tekane Zaman Jayabaya wes cedhak”.

Pernyataan tersebut diartikan sebagai jika sudah ada kereta api, rel kereta api, pesawat terbang, sungai mengering, dan pasar-pasar menjadi sepi, itu pertanda bahwa Zaman Jayabaya sudah dekat. Tidak diketahui maksud dari Zaman Jayabaya ini zaman yang seperti apa.

Ada pula pernyataan yang cukup menggelitik Suratin. “Bumi saya suwe saya mengkeret nganti sak kepel” yang artinya bumi semakin lama semakin mengerut hingga segenggaman tangan. Menurut pria 67 tahun ini, pernyataan tersebut mengarah pada ponsel pintar karena sekarang orang bisa melihat dunia hanya melalui ponsel.

“Kira-kira yo ngunu. Itu hanya hasil perenungan, tidak tahu benar atau tidak,” tambah mantan guru Bahasa dan Sastra Jawa ini.

Penasaran cerita selanjutnya? klik JATIMPLUS.ID


BERITA TERKAIT