Jatuh Bangun Siti Rukayah Membangun Bisnis Tenun Ikat, Jadi TKW ke Arab untuk Cari Modal
JATIMPLUS.ID | 19/02/2019 07:10
Jatuh Bangun Siti Rukayah Membangun Bisnis Tenun Ikat, Jadi TKW ke Arab untuk Cari Modal

Rukayah tak pernah lupa tentang masa lalunya yang sulit. Meski kini telah menjadi juragan tenun dan mempekerjakan hampir 100 orang, perempuan berusia 50 tahun ini tetap bersahaja.


Di rumah sederhana di ujung gang, Siti Rukayah merawat usaha kerajinan tenun ikat yang telah mengubah hidupnya. Mesin-mesin pintal dari kayu yang sebagian adalah peninggalan mertuanya terus bergerak merajut benang. Hasilnya, lembaran kain cantik berbagai motif terbentang sebagai produk unggulan Medali Emas, nama dagang produknya.


Tahun 1989 adalah tahun pertama Siti Rukayah bersama suaminya Munawar memproduksi sarung. Berbekal dua mesin tenun kayu peninggalan mertuanya, Rukayah memproduksi sarung yang telah lama ditinggalkan para perajin. Kala itu, industri tenun ikat sedang mati suri akibat mahalnya harga benang yang terkoreksi pasar dunia.


Keputusan Rukayah untuk menghidupkan kembali mesin tenunnya sempat menuai cibiran perajin lain. Selain Rukayah, puluhan perajin tenun tersebar di Kelurahan Bandar Kidul yang menjadi kampung penenun. Empat kawasan lain yang juga menjadi sentra tenun di Kota Kediri telah lebih dulu kolaps.


Berbekal ketekunan memproduksi dan memasarkan sendiri produknya, Siti Rukayah mampu menjaga kelangsungan bisnisnya hingga berkembang. Meski tak pernah mengikuti pendidikan menggambar, Rukayah tak takut menggoreskan pensil di atas kain bahan untuk membuat motif. “Saya gambar sendiri sesuai angan-angan. Sebagian juga mencontoh motif lain yang saya ubah,” kata Rukayah kepada Jatimplus.ID


Baca kisah lengkap Siti Rukayah di JATIMPLUS.ID


BERITA TERKAIT